Sungai Cikundul Terkumpul Sampah, Meningkatkan Risiko Banjir

Fajar H. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 60 dibaca
Bisik.id
Sungai Cikundul Terkumpul Sampah, Meningkatkan Risiko Banjir

Gambar atau konten salah?

Di bawah Jembatan Maleber, Sungai Cikundul menampung tumpukan sampah yang menutupi sebagian besar aliran air. Plastik, sampah rumah tangga, dan sampah organik menumpuk di tepi sungai, menciptakan bau menyengat yang membuat warga Kampung Maleber, Desa Gudang, Kecamatan Cikalongkulon, Kabupaten Cianjur, merasa tidak nyaman setiap hari.

Ketua RT 01, Agus Gunawan, menjelaskan bahwa tumpukan sampah biasanya muncul setelah hujan deras. “Jadi hampir setiap hari, tumpukan sampahnya terus bertambah. Karena kalau volume air naik setelah hujan, sampahnya tertahan badan Jembatan Maleber. Sehingga sampahnya menumpuk,” ujar Agus pada Selasa, 12 Mei 2026. Ia menambahkan, “Sudah seperti daratan sampah.” Bau tak sedap tersebut menambah ketidaknyamanan warga, yang juga khawatir akan risiko banjir saat hujan deras turun di hulu.

Agus menegaskan bahwa sampah tidak hanya mengambang di aliran air, tetapi juga menggunung di pinggiran sungai. “Setiap hari warga di dekat aliran sungai dibuat tidak nyaman dengan bau tumpukan sampahnya. Belum lagi risiko banjir jika hujan deras di hulu sampai ke hilir,” tambahnya. Ia juga menyebut pembersihan sungai sudah dilakukan beberapa kali, namun sampah terus datang dari hulu. “Jadi ada terus sampahnya, apalagi kalau setelah hujan deras. Tidak habis-habis. Karena dari hulu terus datang kiriman sampah akibat yang buang sampah sembarangan ke aliran sungai,” jelas Agus.

Di sisi lain, Komarudin, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cianjur, melaporkan bahwa pihaknya telah melakukan pembersihan di aliran Sungai Cikundul, khususnya di kawasan hilir dekat Muara Waduk Cirata. Dalam tiga hari terakhir, petugas berhasil mengangkut sekitar 6 ton sampah dari sungai tersebut. Mayoritas sampah yang ditemukan didominasi limbah plastik. “Kami sudah tindaklanjuti terkait sampah di hilir Sungai Cikundul. Selama tiga hari kami angkut 6 ton sampah. 80 persennya sampah plastik, sisanya sampah organik,” kata Komarudin.

Komarudin menegaskan bahwa persoalan utama berasal dari kebiasaan sebagian warga di bantaran sungai yang masih membuang sampah langsung ke aliran air. Ia mengingatkan bahwa dampak terbesar justru dirasakan masyarakat di wilayah hilir. “Makanya untuk jangka panjang, kami imbau warga di bantaran sungai dari hulu agar tidak buang sampah sembarangan ke sungai. Karena dampaknya sangat terasa di warga bagian hilir sungai. Apalagi adanya risiko banjir juga. Kita sama-sama jaga lingkungan, agar bersih dan terhindar dari bencana banjir,” pungkasnya.

Situasi ini menandakan perlunya tindakan berkelanjutan untuk mengurangi sampah di sungai. Pembersihan rutin, edukasi warga, dan penegakan peraturan tentang pembuangan sampah di sungai menjadi langkah penting. Tanpa upaya bersama, tumpukan sampah akan terus menambah risiko banjir dan menurunkan kualitas lingkungan di sekitar Sungai Cikundul.

Sungai CikundulSampah plastikBanjirPembersihan sungaiKepala Dinas Lingkungan HidupJembatan MaleberRisiko banjir

Komentar

Memuat komentar...