Surabaya: Jejak Kota Bawah dan Kota Atas Selama Kolonial

Dwi H. · 2 min baca · 58 menit lalu · 26 dibaca
Bisik.id
Surabaya: Jejak Kota Bawah dan Kota Atas Selama Kolonial

Gambar atau konten salah?

Kota Bawah dan Kota Atas adalah dua wilayah yang dulu membagi Surabaya pada masa kolonial Belanda. Nama Kota Bawah berasal dari istilah Belanda benedenstad, sedangkan Kota Atas dikenal sebagai bovenstad. Pembagian ini muncul ketika Surabaya berkembang setelah VOC mengambil alih kota pada abad ke‑18.

Sejak 1743, ketika Pakubuwono II menandatangani perjanjian dengan VOC, Belanda mulai membangun kanal, benteng, dan tembok kota di dekat muara Sungai Kalimas. Kawasan ini kemudian menjadi pusat pemerintahan, pelabuhan, dan perdagangan kolonial. Pusat Kota Bawah terletak di sekitar Jembatan Merah dan Heerenstraat—yang kini dikenal sebagai Jalan Rajawali. Nama Heerenstraat berarti “Jalan Para Tuan” karena di sana berdiri kantor dagang dan gedung pemerintahan Belanda.

Wilayah Kota Bawah mencakup beberapa area penting: Jembatan Merah, Rajawali, Krembangan, Kembang Jepun, Ampel, serta kawasan sekitar Sungai Kalimas dan Willemsplein—yang kini menjadi Taman Jayengrono. Bangunan di sini berdiri rapat, seringkali berfungsi sebagai kantor dagang, gudang, toko, bank, dan rumah penduduk. Karena dekat dengan pelabuhan, Kota Bawah menjadi pusat aktivitas perdagangan internasional Surabaya pada masa kolonial.

Pada 1843, pemerintah kolonial menerapkan Wijkenstelsel—aturan yang membagi wilayah permukiman berdasarkan etnis. Di sisi barat Jembatan Merah, wilayah ini didedikasikan bagi orang Eropa. Di sana, rumah pejabat, kantor pemerintahan, dan pusat bisnis kolonial Belanda berdiri. Sementara di sisi timur, masyarakat Asia—Tionghoa, Arab, dan pribumi Melayu—mengisi area tersebut. Dari sini kemudian berkembang Pecinan Kembang Jepun dan Kampung Arab Ampel. Pemisahan ini menciptakan karakter Surabaya lama yang masih terlihat hingga kini.

Ketika Surabaya menjadi gemeente atau kotamadya pada 1906, pusat pemerintahan baru dibangun di kawasan Ketabang. Gedung stadhuis—yang kini menjadi Balai Kota Surabaya—menjadi penanda perkembangan kota ke arah selatan. Wilayah seperti Darmo, Gubeng, Ketabang, Simpang, Kayoon, Ambengan, hingga Kupang mulai berkembang menjadi kawasan baru yang disebut Kota Atas. Pada tahap berikutnya, daerah seperti Keputran, Diponegoro, Arjuno, Tegalsari, Dinoyo, Karah, dan Ketintang juga masuk ke dalam area pengembangan permukiman Eropa.

Berbeda dengan Kota Bawah yang padat, Kota Atas dirancang lebih tertata dan lapang. Rumah dan bangunan dibangun bergaya villa dengan halaman luas di depan. Konsep garden city diterapkan: jalan lebar, taman, drainase, serta jalur trem dan kereta menghubungkan kawasan elite dengan pusat kota. Darmo menjadi salah satu permukiman elite favorit warga Eropa pada masa itu. Jejak kolonial masih terlihat dari tata jalan lebar dan deretan rumah lama bergaya kolonial di Surabaya selatan.

Perkembangan Surabaya dari Kota Bawah ke Kota Atas mencerminkan perubahan kebutuhan kota yang semakin cepat. Saat Kota Bawah tidak lagi mampu menampung aktivitas kota, Belanda meruntuhkan tembok kota pada 1871 dan memindahkan pusat pemerintahan ke selatan. Dengan demikian, Surabaya menjadi kota yang lebih teratur, dengan wilayah Kota Atas yang menawarkan ruang hidup lebih lapang bagi penduduk Eropa, sementara wilayah Kota Bawah tetap menjadi pusat perdagangan dan pelabuhan.

Seiring berjalannya waktu, karakteristik kedua wilayah ini tetap terlihat. Di utara, bangunan kolonial tua dan deretan gedung perdagangan menandai sejarah Surabaya lama. Di selatan, jalan lebar dan rumah-rumah bergaya kolonial menunjukkan warisan Kota Atas. Meskipun Surabaya kini telah berkembang menjadi kota modern, jejak sejarah kolonial tetap menjadi bagian penting dari identitas kota ini.

SurabayaKota BawahKota AtasVOCJembatan MerahkolonialPecinan Kembang JepunWilayah Eropa

Komentar

Memuat komentar...