Surabaya Kota Bawah: Jejak Kolonial di Jembatan Merah

Jaka M. · 2 min baca · 1 jam lalu · 25 dibaca
Bisik.id
Surabaya Kota Bawah: Jejak Kolonial di Jembatan Merah

Gambar atau konten salah?

Surabaya, yang kini meluas ke arah selatan, dulu hidup di wilayah utara dekat muara Sungai Kalimas. Di sana, deretan gedung tua berarsitektur kolonial menandai pusat peradaban yang dikenal sebagai Kota Bawah atau benedenstad.

Awal pembentukan kawasan ini bermula pada 1743 ketika Pakubuwono II menandatangani perjanjian dengan VOC, menyerahkan hak atas Surabaya kepada pihak Belanda. Sejak itu, kolonial segera mengamankan wilayah strategis ini. Belanda mulai membangun kanal, benteng pertahanan, dan tembok kota yang memanjang di sepanjang muara Sungai Kalimas.

Dengan infrastruktur baru, pusat pemerintahan, markas militer, pelabuhan utama, dan aktivitas ekonomi internasional menumpuk di kawasan tersebut pada akhir abad ke-19. Pusat aktivitas Kota Bawah berpusat di sekitar Jembatan Merah dan Heerenstraat, yang kini dikenal sebagai Jalan Rajawali. Nama Belanda “Heerenstraat” berarti “Jalan Para Tuan,” mencerminkan kepadatan kantor dagang, bank, gudang, dan gedung administrasi milik pejabat tinggi Belanda.

Secara administratif, Kota Bawah meliputi Jembatan Merah, Rajawali, Krembangan, Kembang Jepun, Ampel, bantaran Sungai Kalimas, hingga Willemsplein, yang sekarang disebut Taman Jayengrono. Bangunan di kawasan ini rapat dan kompak, memudahkan akses ke pelabuhan dagang utama. Kontrasnya, fasilitas mewah bagi taipan dan pejabat Eropa berlawanan dengan kondisi masyarakat pribumi yang terpinggirkan.

Mayoritas penduduk asli terpaksa menurunkan pemukiman di kampung padat di luar benteng kota. Fasilitas sanitasi dan infrastruktur di sana jauh lebih terbatas, mencerminkan ketimpangan sosial pada masa itu.

Seiring waktu, Surabaya berkembang ke selatan, namun jejak sejarah Kota Bawah tetap terlihat dalam arsitektur kolonial dan tata ruang kota. Pembangunan kanal, benteng, serta pusat perdagangan menandai era kolonial yang memengaruhi pola hidup dan ketidaksetaraan sosial di kota ini.

SurabayaKota BawahVOCHeerenstraatJembatan MerahArsitektur kolonialKetimpangan sosialBenteng

Komentar

Memuat komentar...