Surat Keputusan 7 Menteri Atur Zona AI di Sekolah 2024
Gambar atau konten salah?
Surat Keputusan Bersama (SKB) 7 Menteri terbaru menjadi landasan bagi sekolah di Indonesia dalam mengatur penggunaan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (AI) dalam proses belajar mengajar. Dokumen ini menegaskan bahwa AI tidak boleh digunakan di semua situasi, melainkan hanya sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan.
Salah satu hal penting yang diuraikan dalam SKB adalah kewajiban guru untuk menyampaikan kebijakan penggunaan AI secara eksplisit kepada siswa. Kebijakan ini harus diumumkan di awal tahun ajaran dan juga setiap kali memulai unit pembelajaran baru. Dengan begitu, siswa dan guru memiliki pemahaman yang jelas tentang batasan dan peluang yang ada.
Untuk memudahkan penerapan, pedoman ini mengadaptasi kerangka kerja internasional yang membagi penggunaan AI ke dalam tiga zona: Zona Merah, Zona Kuning, dan Zona Hijau. Setiap zona memiliki aturan yang berbeda mengenai kapan dan bagaimana AI dapat dimanfaatkan.
Zona Merah menandai situasi di mana AI dan teknologi digital dilarang sepenuhnya. Siswa harus menyelesaikan tugas secara mandiri tanpa bantuan alat digital. Contoh kegiatan yang masuk ke zona ini meliputi ujian harian, ujian tengah semester, ujian akhir semester, serta tugas yang menilai pemahaman konseptual dasar. Di sini, tujuan utamanya adalah memastikan bahwa penilaian mencerminkan kemampuan siswa secara langsung.
Zona Kuning memberikan ruang bagi siswa untuk menggunakan AI secara terbatas. Penggunaan harus mengikuti aturan yang jelas dan terbatas pada tahap tertentu. Misalnya, pada tugas menulis esai, siswa boleh memanfaatkan AI untuk brainstorming ide dan menyusun kerangka, namun tidak boleh menyalin paragraf secara langsung. Setelah selesai, siswa diwajibkan mencantumkan keterangan pemanfaatan AI dan melampirkan surat pernyataan integritas. Hasil akhir tetap harus menjadi karya asli siswa.
Zona Hijau adalah zona di mana AI dianjurkan untuk dipakai. Di sini, guru mendorong kolaborasi antara manusia dan mesin serta pengembangan kemampuan berpikir kritis. Contoh penerapannya meliputi tugas menganalisis output AI, membandingkan hasil dari berbagai platform AI, dan menyusun presentasi yang menggunakan data serta visualisasi yang dihasilkan oleh teknologi digital. Dengan begitu, siswa belajar memanfaatkan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti.
Apabila siswa ditemukan melanggar kebijakan penggunaan AI, sekolah dapat menindaklanjuti dengan sanksi yang sesuai dengan tingkat pelanggaran. Sanksi ini bertujuan untuk menegakkan integritas akademik dan memastikan bahwa setiap pelanggaran ditangani secara adil.
- Teguran lisan atau tertulis
- Pengurangan nilai untuk tugas yang bersangkutan
- Pemberian nilai nol untuk tugas yang bersangkutan
- Pemanggilan orang tua/wali peserta didik
- Sanksi akademik lainnya sesuai tingkat pelanggaran
Untuk mendukung perkembangan berpikir kritis, guru didorong agar tugas yang diberikan tidak hanya menilai hasil akhir, melainkan juga proses berpikir siswa. Misalnya, siswa dapat diminta menyerahkan draf awal, catatan penelitian, atau jurnal refleksi pembelajaran. Selain itu, guru dapat meminta siswa melakukan diskusi kelas atau presentasi lisan, di mana siswa harus menjelaskan alur pemikiran, argumen, serta metodologi yang mereka gunakan.
Tugas lain yang dapat diberikan adalah yang memerlukan analisis mendalam, sintesis informasi dari berbagai sumber, atau evaluasi kritis terhadap suatu fenomena. Dengan demikian, siswa tidak hanya mengandalkan AI untuk menghasilkan jawaban, melainkan belajar menilai dan menyaring informasi yang diberikan.
Siswa juga diingatkan bahwa AI memiliki keterbatasan. Alhasil, AI dapat menghasilkan informasi yang tidak akurat, bias, atau menyesatkan—fenomena yang dikenal sebagai halusinasi. Oleh karena itu, siswa harus dilatih untuk memverifikasi fakta dari hasil AI menggunakan sumber kredibel seperti jurnal akademik, buku teks, atau situs web institusi resmi. Mereka juga harus belajar mengidentifikasi bias dan mengevaluasi kualitas serta relevansi informasi yang dihasilkan oleh AI secara kritis.
Dengan pendekatan ini, sekolah tidak hanya mengatur penggunaan AI tetapi juga mengintegrasikan teknologi tersebut ke dalam proses belajar yang menumbuhkan keterampilan berpikir kritis dan integritas akademik. Siswa belajar menggunakan AI secara bertanggung jawab, sementara guru memastikan bahwa setiap tugas mencerminkan pemahaman konseptual yang mendalam.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
BPS RI Adakan Webinar Analisis Statistik & AI 23 Juni
Pelatihan Excel Akuntansi Reguler Batch 7: Praktis di EVL
Detikevent Kursus Wisuda Tepat Waktu: Rencanakan Skripsi Awal
RSSG 2026 Perluas Akses Pendidikan: 74 Sekolah Tanda MoU
77 Ribu Siswa Belum Tertampung, Jabar Rencanakan Swasta
Nilai Inggris Tinggi, Anak Sulit Bicara? Natieva Kids Solusi
Berita Terbaru
Bahan Makanan Terbuka Menarik Hama: Cara Simpan Aman
Pantun Tahun Baru Islam 2026: Sederhana, Menginspirasi Umat
Bipenggou: Swiss Sichuan Menawarkan Danau Jernih Musim
Brasil Seri 1‑1 vs Maroko di Piala Dunia 2026 – Laga Pertama
BPS RI Adakan Webinar Analisis Statistik & AI 23 Juni
CFD Palembang: Senam di Monpera Jadi Fokus Utama 2026
Bakteri Usus Ternyata Indikator Kanker Pankreas Dari Tinja
