Teleskop Nasional Timau Mulai Operasi Tahun Ini

Fitri A. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 41 dibaca
Bisik.id
Teleskop Nasional Timau Mulai Operasi Tahun Ini

Gambar atau konten salah?

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memajukan riset astronomi nasional melalui pembangunan Observatorium Nasional Timau di Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Fasilitas penelitian antariksa ini memasuki tahap penting. Teleskop optik dengan diameter 3,8 meter ditargetkan mulai dipakai tahun ini. Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, Robertus Heru Triharjanto, menyatakan pembangunan observatorium ini adalah langkah penting untuk meningkatkan kemampuan riset astronomi di Indonesia.

Ia menyebutkan, selain mempersiapkan teleskop optik, BRIN juga sedang menyusun aturan khusus. Tujuannya adalah melindungi area observatorium dari polusi cahaya dan gangguan sinyal radio. Hal ini penting agar penelitian astronomi berjalan maksimal.

Selain teleskop optik, BRIN juga mengembangkan teleskop radio di Observatorium Nasional Timau.

Peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN, Peberlin Sitompul, menjelaskan bahwa teleskop radio ini dirancang untuk mendukung astronomi dengan berbagai panjang gelombang. Selain itu, teleskop ini juga berfungsi memantau sampah antariksa.

Sistem teleskop radio yang sedang dikembangkan menggunakan susunan antena log-periodic. Rentang frekuensinya antara 40 hingga 870 MHz. Sistem ini terhubung dengan spektrometer CALLISTO dan penerima berbasis radio yang ditentukan oleh perangkat lunak (SDR) untuk mencatat spektrum gelombang radio.

Dengan teknologi ini, peneliti dapat mengamati aktivitas Matahari melalui gelombang radio, termasuk kejadian seperti semburan radio Matahari (solar radio burst).

Pengujian awal pada sistem teleskop radio di Timau sudah menunjukkan hasil positif. Sistem ini berhasil mendeteksi aktivitas radio Matahari, menandakan bahwa alat pengamatan sudah berfungsi baik.

Tim peneliti juga melakukan pengukuran gangguan sinyal radio (RFI) di sekitar lokasi observatorium. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar frekuensi di kawasan Timau relatif bebas dari gangguan sinyal buatan. Kondisi ini dianggap sangat ideal untuk pengembangan teleskop radio.

Rencana pengembangan ke depan untuk teleskop radio di sana adalah menggunakan antena parabola berdiameter sekitar 20 meter. Antena ini direncanakan mampu bekerja pada frekuensi 1 hingga 50 GHz.

Dalam diskusi terkait, ilmuwan dari Square Kilometre Array Observatory (SKAO), Randall Wayth, turut memaparkan kemajuan teleskop radio frekuensi rendah untuk penelitian cuaca antariksa. Ia berbagi pengalaman proyek Murchison Widefield Array dalam berbagai riset. Penelitian tersebut meliputi pemantauan emisi radio Matahari, deteksi semburan massa korona melalui teknik Interplanetary Scintillation (IPS), studi pulsar, serta astronomi domain waktu.

Di sisi lain, peneliti dari Institut Teknologi Bandung, Taufiq Hidayat, memaparkan perkembangan teleskop radio dan sistem Very Long Baseline Interferometry (VLBI) Global Observing System (VGOS) di Indonesia. Teknologi VLBI memungkinkan penggabungan sinyal dari teleskop radio di lokasi yang sangat berjauhan. Hal ini mampu menghasilkan pengukuran astronomi dengan tingkat ketepatan yang sangat tinggi.

Kepala Pusat Riset Antariksa BRIN, Emanuel Sungging Mumpuni, berharap perkembangan terkini ini dapat mempererat kerja sama riset astronomi di Indonesia.

Ia menyatakan harapan agar pertemuan seperti ini dapat berlanjut dengan diskusi lanjutan. Tujuannya adalah merumuskan berbagai masukan dan rekomendasi. Melalui pembangunan teleskop radio di Observatorium Nasional Timau, Indonesia diharapkan mampu meningkatkan kapasitas riset astronomi dan berkontribusi pada pemantauan lingkungan antariksa secara global.


Ringkasan Informasi Utama:

  • BRIN sedang membangun Observatorium Nasional Timau di Kupang, NTT.
  • Teleskop optik 3,8 meter ditargetkan beroperasi tahun ini.
  • Observatorium ini juga mengembangkan teleskop radio untuk astronomi multi-panjang gelombang dan pemantauan sampah antariksa.
  • Pengujian awal teleskop radio menunjukkan sistem tersebut berfungsi baik dan lokasi Timau relatif bersih dari gangguan sinyal buatan.
  • Pengembangan selanjutnya mencakup antena parabola 20 meter untuk frekuensi yang lebih tinggi.
  • Diskusi juga melibatkan ilmuwan yang memaparkan kemajuan VLBI dan penelitian cuaca antariksa.
Observatorium Nasional TimauBRINTeleskop OptikTeleskop RadioAstronomi Multi-panjang GelombangPemantauan Sampah AntariksaPolusi Cahaya

Komentar

Memuat komentar...