VW PHK 50.000 Karyawan, Kalah Saing dengan Mobil China

Dwi H. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
VW PHK 50.000 Karyawan, Kalah Saing dengan Mobil China

Gambar atau konten salah?

Pabrikan mobil asal Jerman, Volkswagen (VW), tengah bersiap melakukan perubahan besar-besaran. Perusahaan ini berencana merombak struktur organisasi mereka secara total. Langkah ini diambil karena tekanan persaingan yang semakin keras, terutama dari mobil listrik buatan China.

Saat ini, VW sedang mempertimbangkan pemotongan biaya operasional. Salah satu caranya adalah dengan memutus hubungan kerja (PHK) terhadap 50.000 karyawan. Ini bukan kali pertama VW melakukan PHK besar-besaran.

Sebelumnya, anak perusahaan VW, Audi, sudah mengumumkan rencana pemangkasan sekitar 50.000 karyawan di Jerman secara bertahap hingga tahun 2030. Jika ditotal dengan rencana PHK terbaru ini, setidaknya 100.000 orang akan kehilangan pekerjaan.

CEO Oliver Blume menyebut restrukturisasi ini sebagai penyesuaian ulang paling menyeluruh dalam sejarah perusahaan. Ia mengakui, kondisi perusahaan saat ini memaksa langkah tersebut harus diambil.

"Jumlah karyawan di seluruh perusahaan telah meningkat selama beberapa dekade hingga mencapai skala yang tidak lagi berkelanjutan saat ini," tulis Blume dalam memo internal kepada staf, seperti dikutip dari laporan pada Sabtu, 25 Juli 2026.

Di sisi lain, serikat buruh terbesar di Jerman, IG Metall, menyatakan akan melawan rencana PHK massal ini. Menurut mereka, pemangkasan karyawan akan melanggar perjanjian yang sudah dibuat dengan VW pada tahun 2024. Perjanjian itu melarang penutupan pabrik dan PHK paksa.

"Puluhan ribu karyawan mengetahui tentang masa depan mereka yang terancam dari laporan surat kabar, sementara di dalam perusahaan tidak ada seorang pun yang memberi tahu mereka," kata Jan Mentrup, juru bicara serikat pekerja untuk karyawan Volkswagen.

Volkswagen Kalah Saing dengan Mobil Listrik China

Volkswagen melaporkan penurunan laba yang cukup besar selama kuartal kedua tahun 2026. Laba operasional perusahaan pada periode tersebut hanya sebesar 3,5 miliar euro (sekitar US$ 4 miliar) atau setara dengan Rp 71,85 triliun.

Angka ini turun hampir 10% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Akibatnya, perusahaan juga memangkas ekspektasi pendapatan untuk tahun fiskal berjalan. Awalnya mereka memperkirakan pendapatan naik hingga 3%, kini berubah menjadi penurunan hingga 3%.

"Lingkungan untuk industri otomotif tetap sangat menantang: krisis geopolitik, konflik perdagangan, persyaratan regulasi yang tinggi, pasar yang bergejolak, dan persaingan yang semakin ketat," kata Blume dalam sebuah pernyataan.

Saham Volkswagen Group tercatat anjlok lebih dari 30% selama 12 bulan terakhir. Saham perusahaan juga turun hampir 2% pada perdagangan Jumat siang waktu setempat, saat perusahaan melaporkan kinerja keuangan mereka.

Para analis menilai Volkswagen memerlukan perubahan besar jika ingin bersaing secara layak dengan produsen kendaraan listrik China. Produsen China biasanya diuntungkan oleh biaya tenaga kerja yang lebih rendah.

"Merek-merek pendatang baru di China juga sangat gesit dan mampu menghadirkan kendaraan listrik baru ke pasar jauh lebih cepat daripada perusahaan yang sudah mapan," kata Mark Hogan, seorang analis senior di GlobalData.

Kondisi ini menunjukkan betapa beratnya tantangan yang dihadapi raksasa otomotif Jerman. Persaingan harga dan kecepatan inovasi dari China menjadi tekanan utama. Langkah restrukturisasi dan PHK massal ini menjadi bukti bahwa VW harus beradaptasi cepat atau terus tertinggal.

VolkswagenrestrukturisasiPHKmobil listrikChinapersainganbiaya operasional

Komentar

Memuat komentar...