Wamentan Siapkan Langkah Khusus Percepat Produksi Bawang Putih

Bambang W. · 3 min baca · 54 menit lalu · 25 dibaca
Bisik.id
Wamentan Siapkan Langkah Khusus Percepat Produksi Bawang Putih

Gambar atau konten salah?

Indonesia masih sangat bergantung pada bawang putih impor. Angkanya mencapai 90 hingga 95 persen dari total kebutuhan nasional. Untuk mengurangi ketergantungan ini, pemerintah menyiapkan langkah-langkah khusus guna mempercepat produksi dalam negeri.

Wakil Menteri Pertanian, Alim Setiawan Slamet, mengungkapkan bahwa peningkatan produksi bisa dilakukan lewat pendampingan budi daya yang lebih kuat dan riset terapan. Langkah ini dirancang agar program berjalan di lokasi yang tepat, menggunakan teknologi yang sudah siap pakai, serta mampu meningkatkan kemampuan petani dan produktivitas secara berkelanjutan.

"Yang kita butuhkan adalah inovasi yang betul-betul siap diterapkan, bukan yang masih sebatas potensi. Karena skalanya besar, kita harus memastikan teknologi dan rencana yang dipilih benar-benar bisa mendukung pencapaian target," ujar Alim dalam keterangannya pada Sabtu, 31 Oktober 2026.

Ada dua jalur yang akan dijalankan secara bersamaan. Jalur pertama fokus pada percepatan budi daya. Caranya dengan menentukan lokasi tanam, menyusun kalender tanam, memetakan kebutuhan petani, dan memberikan pendampingan teknis. Jalur kedua diarahkan pada riset dan kajian untuk meningkatkan produktivitas, mutu hasil, efisiensi penggunaan input, dan daya saing bawang putih.

Alim meminta agar lokasi pengembangan dan jadwal tanam dirinci dengan jelas. Dengan begitu, dukungan pemerintah bisa diberikan sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Menurutnya, keberhasilan pengembangan bawang putih tidak hanya ditentukan oleh lahan yang tersedia. Kesiapan petani dalam menerapkan teknik budi daya juga sangat penting. Karena itu, peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani harus menjadi bagian utama dari program ini.

"Ini betul-betul mulai baru, sehingga kita membutuhkan keterampilan baru dari petani. Pendampingan budidaya, peningkatan literasi, dan penguasaan teknologi tepat guna menjadi sangat penting," jelasnya.

Untuk jalur kedua, riset akan diperkuat guna menjawab tantangan produksi bawang putih dalam jangka pendek maupun panjang. Beberapa area yang perlu dikaji antara lain pengembangan varietas unggul, perbaikan teknologi budi daya, peningkatan mutu hasil, pengendalian organisme pengganggu tumbuhan, serta efisiensi penggunaan sarana produksi.

Alim menambahkan, riset juga harus mencakup penanganan pascapanen. Termasuk upaya mengurangi kehilangan hasil selama penyimpanan dan distribusi. Aspek pengemasan dan transportasi juga menjadi perhatian agar bawang putih bisa dipasarkan dengan mutu yang terjaga.

Ia pun menekankan bahwa penguatan produksi harus berjalan seiring dengan pembangunan ekosistem usaha. Kemitraan, kepastian peran para pihak, serta dukungan kebijakan dan regulasi perlu disiapkan sejak awal. Tujuannya agar hasil peningkatan produksi memiliki jalur pemasaran yang jelas.

"Kita ingin membangun ekosistem yang baik. Kemitraannya harus jelas, termasuk apa yang akan dikerjakan dan hasil yang ingin dicapai. Kebijakan dan regulasi pendukungnya juga perlu disiapkan," kata Alim.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa impor bawang putih pada Januari hingga Juni 2026 mencapai 229.760 ton. Jumlah ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 178.890 ton. Dari total volume impor tersebut, 98 persen bawang putih yang masuk ke Indonesia berasal dari China. Sisanya dipasok dari India.

Ketergantungan yang sangat tinggi pada satu negara pemasok tentu menjadi risiko tersendiri. Fluktuasi harga atau gangguan pasokan dari China bisa langsung berdampak pada ketersediaan bawang putih di dalam negeri. Oleh karena itu, upaya pemerintah untuk meningkatkan produksi lokal menjadi langkah yang krusial, meskipun tantangannya tidak kecil. Mulai dari kesiapan petani hingga teknologi yang tepat guna harus dipastikan berjalan selaras.

impor bawang putihketergantunganproduksi dalam negeripendampingan budidayariset terapanteknologi tepat gunaekosistem usaha

Komentar

Memuat komentar...