Warna Telur: Astaxanthin, Bukan Tanda Telur Palsu Satu

Bambang W. · 2 min baca · 58 menit lalu · 30 dibaca
Bisik.id
Warna Telur: Astaxanthin, Bukan Tanda Telur Palsu Satu

Gambar atau konten salah?

Warna kuning telur seringkali menjadi sorotan konsumen, terutama pada telur yang diberi label telur omega‑3. Beberapa orang mengira warna yang berbeda menandakan ayam berasal dari spesies lain. Ada pula yang memandang kuning telur oranye pekat sebagai indikator kualitas tinggi, sementara yang lain menuduh warna tertentu menandai telur palsu. Anggapan‑anggapan ini pernah beredar luas di media sosial dan berulang kali dibantah oleh berbagai pihak.

Faktanya, warna kuning telur dipengaruhi oleh jenis pakan yang dikonsumsi ayam. Salah satu senyawa yang memberi warna lebih pekat adalah astaxanthin. Senyawa ini termasuk dalam kelompok karotenoid alami yang ditemukan pada mikroalga, udang, krill, lobster, dan salmon. Ia dikenal memiliki warna merah‑oranye khas sekaligus aktivitas antioksidan yang kuat.

Dalam artikel ilmiah berjudul Astaxanthin for the Food Industry yang diterbitkan di jurnal Molecules pada tahun 2021, dijelaskan bahwa astaxanthin banyak dimanfaatkan dalam industri pangan dan pakan karena sifat pewarna alaminya serta potensinya sebagai antioksidan. Pada peternakan ayam petelur, astaxanthin dapat ditambahkan ke dalam pakan. Setelah dikonsumsi, sebagian pigmen tersebut diserap tubuh ayam dan terakumulasi pada kuning telur. Proses ini membuat warna kuning telur berubah menjadi lebih pekat, mulai dari kuning cerah hingga cenderung oranye.

Oleh karena itu, warna kuning telur yang lebih gelap tidak selalu menunjukkan telur lebih segar atau lebih bergizi. Dalam banyak kasus, warna tersebut lebih mencerminkan jenis pigmen yang terkandung dalam pakan ayam. Temuan ini sekaligus menjelaskan mengapa kuning telur berwarna oranye pekat bukanlah bukti bahwa telur tersebut palsu atau dibuat dari bahan sintetis. Warna yang lebih mencolok dapat muncul secara alami akibat kandungan pigmen tertentu dalam pakan, termasuk astaxanthin.

Selain berperan sebagai pigmen, astaxanthin juga dikenal sebagai antioksidan. Namun, jumlah astaxanthin dalam telur umumnya jauh lebih rendah dibandingkan sumber utamanya seperti salmon atau produk suplemen. Meski kuning telur yang lebih oranye kerap dianggap lebih sehat, anggapan ini tidak sepenuhnya tepat. Kandungan gizi telur dipengaruhi banyak faktor, mulai dari genetik, usia ayam, hingga komposisi pakan secara keseluruhan.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Oleo Science pada tahun 2024 menunjukkan bahwa pemberian astaxanthin pada ayam petelur dapat meningkatkan warna kuning telur sekaligus kadar astaxanthin di dalamnya. Namun, perubahan tersebut tidak otomatis membuat seluruh nilai gizi telur menjadi lebih tinggi. Dengan kata lain, warna kuning telur dapat menjadi petunjuk mengenai jenis pakan yang dikonsumsi ayam, tetapi bukan indikator mutlak kualitas gizinya. Jadi, kuning telur yang lebih pucat tidak berarti lebih buruk, sementara kuning telur yang lebih oranye juga tidak selalu lebih sehat.

Telur omega‑3 sendiri tidak berbeda secara biologis dari telur biasa; perbedaan terletak pada pakan yang diberikan. Pemberian pakan yang kaya omega‑3 meningkatkan kandungan asam lemak omega‑3 dalam telur, namun tidak mengubah warna kuning secara signifikan kecuali pakan juga mengandung pigmen seperti astaxanthin.

Kesimpulannya, warna kuning telur lebih mencerminkan komposisi pakan daripada kualitas gizi. Warna oranye pekat dapat muncul secara alami berkat astaxanthin, dan tidak menandakan telur palsu. Konsumen sebaiknya memperhatikan label nutrisi dan sumber pakan, bukan hanya warna kuning, ketika menilai kualitas telur.

Warna kuning telurAstaxanthinPakan ayamOmega-3AntioksidanKarotenoidKualitas gizi

Komentar

Memuat komentar...