Wisudawan UM Raih IPK 3,82 dan Emas di Kompetisi Internasional
Gambar atau konten salah?
Shefira Salvabila Safitri, S.Pd, baru saja menyelesaikan pendidikan S1 Pendidikan Matematika di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Malang (UM). Ia diwisuda pada Minggu, 05 Juli 2024, dengan menyandang predikat Wisudawan Berprestasi Nonakademik. Selama kuliah, Shefira berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,82 dan lulus dalam waktu tujuh semester.
Semasa menjadi mahasiswa, perempuan ini aktif mengikuti berbagai kompetisi dan ajang internasional dari berbagai bidang. Pada tahun 2025, ia tercatat sebagai Gold Medalist Outstanding Presenter Award di International Mathematics Conference and Its Application. Sebelumnya, di tahun 2024, ia meraih medali perunggu untuk kategori Food and Beverage pada International Business Plan Competition. Tidak berhenti di situ, pada tahun 2023 Shefira juga menyabet medali emas di Arau International Creativity Perlis, Malaysia.
Menurut Shefira, semua pencapaian itu tidak lepas dari rasa tanggung jawabnya kepada orang tua. "Tentunya sangat senang atas pencapaian yang telah diberikan, juga sekaligus menjadi salah satu bentuk rasa tanggung jawab kepada orang tua," ujarnya. Ia merasa bahwa keberhasilannya adalah bentuk balas budi atas dukungan yang selama ini diberikan keluarganya.
Untuk bisa menyeimbangkan antara kegiatan akademik dan persiapan kompetisi, Shefira menerapkan perencanaan waktu yang terstruktur. Cara ini membantunya memastikan setiap tanggung jawab diselesaikan secara optimal. Ia tidak mau kualitas belajar atau persiapan lomba menjadi terganggu karena manajemen waktu yang buruk.
Shefira memandang kompetisi internasional sebagai ruang pembelajaran yang berharga. Menurutnya, ajang seperti itu bisa memperluas perspektif, mengasah kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan keterampilan kepemimpinan. Lewat kompetisi, ia juga belajar meningkatkan rasa percaya diri untuk bersaing dan membangun jaringan di tingkat global. Semua itu, katanya, akan berguna untuk pengembangan karier di masa depan.
Ia memberi contoh saat menjadi perwakilan UM di kompetisi internasional di Malaysia. Di sana, ia tidak hanya unjuk kemampuan dalam perlombaan, tetapi juga bertukar wawasan dengan mahasiswa dari berbagai negara dan latar belakang budaya. Pengalaman itu membuka matanya tentang pentingnya kolaborasi lintas batas.
Shefira juga menekankan pentingnya memanfaatkan program pengembangan diri yang disediakan kampus, baik di bidang akademik maupun nonakademik. Ia berharap mahasiswa lain berani keluar dari zona nyaman untuk terus mengembangkan potensi diri. "Kita harus berani mencoba, karena saya dulu juga pernah gagal. Dari kegagalan itu kita bisa belajar banyak hal dan mencapai kesuksesan di masa yang akan datang," ucapnya.
Menurutnya, dukungan dari kampus menjadi salah satu faktor penting agar mahasiswa berani berkompetisi hingga tingkat internasional. Selama ini, Shefira mendapatkan fasilitas pendanaan, pembinaan, dan pendampingan dari UM saat mengikuti berbagai kompetisi. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada dosen Departemen Matematika UM, Dr. Imam Rofiki, yang telah mendampingi dan memberikan motivasi sejak awal masa perkuliahan.
Shefira membuktikan bahwa dengan perencanaan yang matang, dukungan lingkungan, dan keberanian untuk mencoba, seorang mahasiswa bisa meraih prestasi di tingkat internasional tanpa mengorbankan nilai akademik. Kisahnya menunjukkan bahwa kegagalan bukanlah akhir, melainkan batu loncatan untuk belajar dan tumbuh. Kuncinya ada pada konsistensi, tanggung jawab, dan kemauan untuk terus melangkah maju.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
