Xiaomi Tutup MIUI 2026, Ponsel Entry‑Level Jadi EOL

Tika M. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 123 dibaca
Bisik.id
Xiaomi Tutup MIUI 2026, Ponsel Entry‑Level Jadi EOL

Gambar atau konten salah?

Xiaomi telah mengumumkan penutupan resmi antarmuka MIUI pada 24 Maret 2026. Dua ponsel entry‑level, Redmi A2 dan Redmi A2+, menjadi simbol akhir perjalanan MIUI. Sejak dirilis pada tahun 2022, kedua perangkat ini menerima pembaruan terakhir berupa MIUI 14 hingga akhir 2025.

Firmware terakhir yang tersedia adalah versi MIUI 14 dengan patch keamanan pada Desember 2025. Setelah tanggal tersebut, Xiaomi tidak lagi menyediakan pembaruan sistem, fitur baru, atau patch keamanan bulanan. Menjadi perangkat End of Life (EOL) berarti pengguna harus mempersiapkan risiko keamanan yang meningkat jika tetap menggunakan perangkat tanpa pembaruan.

Sejarah MIUI bermula pada tahun 2010 sebagai ROM kustom berbasis Android 2.2 Froyo. Awalnya, sistem ini ditujukan bagi komunitas penggemar Android yang suka memodifikasi perangkat. Dalam waktu singkat, MIUI tumbuh menjadi platform yang menawarkan tema kustom, Second Space, Dual Apps, dan App Lock. Pembaruan mingguan rutin menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengguna. Menjelang akhir 2021, Xiaomi mengklaim lebih dari 500 juta pengguna aktif bulanan menggunakan MIUI di seluruh dunia.

Keputusan Xiaomi menghentikan MIUI bukan sekadar rebranding. Perusahaan ini sedang membangun ekosistem besar yang mencakup smartphone, tablet, wearable, smart home, dan kendaraan listrik. MIUI yang awalnya dirancang sebagai “skin Android” dianggap tidak fleksibel untuk mendukung kebutuhan ekosistem tersebut. Sebagai gantinya, Xiaomi mengembangkan HyperOS, sistem operasi baru yang dibangun di atas kernel Android yang dioptimalkan dan sistem IoT Vela buatan Xiaomi. Tujuannya adalah menciptakan konektivitas yang lebih mulus antar perangkat dalam satu ekosistem.

Walaupun MIUI telah resmi tamat, banyak elemen pentingnya tetap hadir di HyperOS. Xiaomi mempertahankan filosofi desain yang fokus pada pengguna, namun dengan tampilan yang lebih modern dan animasi yang lebih halus. Fitur-fitur seperti multitasking, tema, dan pengaturan privasi masih tersedia, tetapi kini terintegrasi lebih dalam dengan ekosistem perangkat Xiaomi. Dengan kata lain, HyperOS bukan pengganti total, melainkan evolusi dari MIUI yang disesuaikan dengan kebutuhan masa depan.

Di Indonesia, MIUI dikenal luas karena digunakan di berbagai perangkat Redmi dan Poco yang populer di segmen harga terjangkau. Banyak pengguna masih mengandalkan perangkat seperti Redmi A2 sebagai ponsel harian atau perangkat sekunder. Dengan status EOL, pengguna disarankan untuk mulai mempertimbangkan upgrade ke perangkat yang sudah menjalankan HyperOS. Selain tidak lagi mendapatkan fitur baru, perangkat yang tidak mendapat patch keamanan berisiko lebih tinggi terhadap ancaman siber. Xiaomi terus memperluas distribusi HyperOS ke berbagai lini produk terbaru, termasuk kelas menengah yang banyak diminati di pasar Indonesia.

Secara keseluruhan, penutupan MIUI menandai akhir era antarmuka yang telah menemani ratusan juta pengguna selama lebih dari satu dekade. Perubahan ini mendorong pengguna, khususnya di Indonesia, untuk menilai kembali perangkat yang dimiliki dan menyesuaikan diri dengan sistem operasi baru yang lebih terintegrasi. Dengan HyperOS, Xiaomi berharap dapat menyediakan pengalaman yang lebih konsisten di seluruh produk ekosistemnya, meskipun bagi banyak pengguna yang masih menggunakan perangkat lama, langkah ini menuntut perhatian khusus terhadap keamanan dan pembaruan perangkat lunak.

XiaomiMIUIEnd of LifeHyperOSRedmi A2Patch keamananEkosistem

Komentar

Memuat komentar...