Zulhas: Petani Sudah Makmur, Nelayan Masih Lemah
Gambar atau konten salah?
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, yang akrab disapa Zulhas, menyampaikan pernyataan mengejutkan di ajang pembukaan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di ICE BSD, Tangerang, Rabu (14 Oktober 2026). Menurutnya, para petani di Indonesia saat ini sudah masuk kategori makmur. Ia mengaitkan kondisi ini dengan berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai meringankan beban petani, mulai dari harga pupuk, proses pengadaan pupuk, hingga perbaikan sistem irigasi.
Zulhas membeberkan sejumlah data untuk memperkuat pernyataannya. "Baru tiga, kita berhasil surplus (beras) 4,2 (juta ton) itu. Apa hasilnya? Hasilnya sangat memuaskan, Nilai Tukar Petani kita naik," ujarnya dalam sambutan. Ia merinci, nilai tukar petani pada 2024 berada di level 116 dan melonjak ke angka 131 pada 2026. Kenaikan ini, menurutnya, menandakan kesejahteraan yang nyata.
Lebih lanjut, Zulhas menjelaskan arti dari angka tersebut dengan bahasa yang sederhana. "Artinya, kalau modalnya 100, petani bisa mendapat hampir 31%, ya kasarnya begitu walaupun nggak tepat begitu. Ini artinya petani Indonesia, padi dan jagung, makmur. Sudah makmur, kategori makmur. Modal 100 bisa 31 plusnya. Ini berhasil kita," bebernya. Ia juga menambahkan bahwa dengan kondisi ekonomi seperti ini, petani dinilai sudah bisa menikmati hidup lebih layak, seperti makan enak, menyekolahkan anak, hingga membeli sepeda motor.
Namun, Zulhas dengan jujur mengakui bahwa situasi yang membanggakan ini belum dirasakan oleh para nelayan. Nilai tukar nelayan (NTN) saat ini masih berada di level 103, sebuah angka yang menurutnya masih masuk kategori miskin. Ia menggambarkan kondisi tersebut dengan gamblang, "Kalau 103, bayar bunga aja nggak bisa dia. Ini. Artinya apa? Artinya nelayan kita lemah."
Zulhas menegaskan bahwa kelemahan nelayan ini bukan perkara sepele. Ada ancaman besar di baliknya. "Kalau nelayan kita lemah, maka laut kita yang luas dikuasai oleh nelayan yang kuat yang datang dari luar negeri, gitu," imbuhnya. Ia khawatir jika produktivitas nelayan lokal tidak meningkat, maka wilayah perairan Indonesia yang kaya akan diisi oleh nelayan asing yang lebih kuat secara ekonomi dan teknologi.
Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah telah menetapkan target ambisius. Pada 2027, NTN ditargetkan naik ke level 120. Berbagai program akan digalakkan untuk mencapai target tersebut, salah satunya adalah Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Program ini diharapkan mampu memperkuat ekonomi dalam negeri, mendorong produktivitas nelayan, dan pada akhirnya berdampak positif hingga ke sektor perdagangan luar negeri.
Pernyataan Zulhas ini menyoroti dua sisi mata uang yang berbeda dalam ekonomi maritim dan agraris Indonesia. Di satu sisi, kebijakan yang tepat sasaran berhasil mengangkat kesejahteraan petani. Di sisi lain, masih ada pekerjaan rumah besar untuk menyejahterakan nelayan. Target pemerintah untuk menaikkan NTN hingga 120 pada 2027 menjadi ujian nyata, apakah program-program yang dirancang mampu mengubah nasib para nelayan atau hanya sekadar wacana di atas kertas.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Bahlil: Stok BBM Nasional Aman, Distribusi di Bali yang Terkendala
PLN Ganti Dirut, Suroso Isnandar Gantikan Darmawan Prasodjo
Danantara Minta Maaf ke Pelanggan PLN Batam atas Gangguan Listrik
PLN Tunjuk Suroso Isnandar Jadi Dirut Gantikan Darmawan
BEI Rilis 19 Saham Baru Masuk Kategori HSC
BUMI Bungkam Isu Beli Tambang Kideco US$1 Miliar
Berita Terbaru
Bahlil: Stok BBM Nasional Aman, Distribusi di Bali yang Terkendala
PLN Ganti Dirut, Suroso Isnandar Gantikan Darmawan Prasodjo
Danantara Minta Maaf ke Pelanggan PLN Batam atas Gangguan Listrik
PLN Tunjuk Suroso Isnandar Jadi Dirut Gantikan Darmawan
BEI Rilis 19 Saham Baru Masuk Kategori HSC
BUMI Bungkam Isu Beli Tambang Kideco US$1 Miliar
