49 SD di Tulungagung Minim Peminat, 4 Tanpa Murid Baru

Dewi M. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
49 SD di Tulungagung Minim Peminat, 4 Tanpa Murid Baru

Gambar atau konten salah?

Sebanyak 49 sekolah dasar di Tulungagung mengalami kekurangan peminat dari calon siswa baru. Bahkan, empat di antaranya tidak mendapatkan satu pun murid baru sama sekali. Angka ini terungkap dari data Dinas Pendidikan setempat.

Dari total 634 lembaga pendidikan dasar yang ada, hanya 70 SD yang berhasil memenuhi kuota penerimaan siswa baru. Sisanya, sebanyak 564 satuan pendidikan, berada di bawah pagu normal. Angka itu setara dengan 88,96 persen dari keseluruhan sekolah dasar di wilayah tersebut.

Rifka Zuyun Umadah, Kasi Kelembagaan Bidang SD Dinas Pendidikan Tulungagung, menyampaikan kondisi paling parah dialami oleh 49 lembaga. Sekolah-sekolah itu hanya mendapatkan kurang dari tiga siswa baru. Penyebarannya sporadis, hampir merata di seluruh kecamatan di Tulungagung.

"Ada 564 satuan pendidikan di bawah pagu normal atau 88,96 persen," kata Zuyun pada Rabu, 15 Juli 2026.

Empat SD yang sama sekali tidak mendapatkan siswa baru adalah SD Negeri 1 Tenggong di Kecamatan Rejotangan, SD swasta Ndlodo di Kecamatan Pucanglaban, SD Negeri 4 Besuki di Kecamatan Besuki, dan SD Negeri 5 Bungur di Kecamatan Karangrejo.

Kondisi SD Negeri 1 Tenggong sudah berlangsung selama dua tahun terakhir. Sementara itu, SD Dlodo memilih menutup lembaganya. Alasannya, selain minim peminat, kondisi kesehatan kepala sekolah juga menurun. Untuk SD Negeri 4 Besuki dan SD Negeri 5 Bungur, tahun ini menjadi tahun pertama mereka tanpa murid baru.

Selain keempat sekolah itu, puluhan sekolah lain juga mengalami krisis serupa. Empat lembaga hanya mendapatkan masing-masing satu siswa. Keempatnya adalah SD Negeri 3 Kalidawir, SDN 3 Babadan, SDN 2 Sembon, dan SDN 4 Punjul.

Kemudian, ada 12 SD yang hanya kebagian dua siswa baru. Daftarnya meliputi SD Negeri 2 Plandaan, SD Negeri Pucung, SDN 2 Semanding, SDN 4 Pucanglaban, SDN 5 Pucanglaban, SD Negeri 4 Tanggunggunung, SDN 1 Ngunggahan, SDN 2 Sebalor, SDN 3 Talunkulon, SDN 4 Ngunggahan, SDN 3 Tanggulwelahan, dan SDN 2 Tanjungsari.

Zuyun melanjutkan, sekolah dasar negeri dan swasta yang hanya mendapatkan tiga siswa baru jumlahnya mencapai 29 lembaga. Menariknya, sekolah-sekolah itu tidak semuanya berada di wilayah pinggiran. Sebagian justru berada di perkotaan.

Zuyun menjelaskan faktor demografi menjadi salah satu penyebab utama. Angka kelahiran menurun, sehingga lulusan taman kanak-kanak juga ikut menurun. Data menunjukkan jumlah lulusan SD turun dari sekitar 13 ribu menjadi 11 ribu siswa tahun ini.

Persaingan antar sekolah juga ikut memengaruhi pilihan masyarakat. Meski begitu, Zuyun menegaskan minimnya jumlah murid baru tidak otomatis berarti kualitas sekolah rendah atau sistem penerimaan siswa baru gagal.

"Ini bukan gagalnya SPMB. Pemerintah terus meningkatkan kualitas pendidikan melalui perbaikan sarana prasarana, pemberian papan interaktif digital, revitalisasi sekolah, hingga peningkatan kompetensi guru. Hanya saja masih ada persepsi masyarakat yang memilih sekolah tertentu," jelasnya.

Dinas Pendidikan Tulungagung berencana mengevaluasi sekolah-sekolah yang tidak mendapatkan siswa. Tujuannya untuk mengetahui penyebab pasti dan menentukan langkah penanganan ke depan. Zuyun menyebut kemungkinan merger atau penggabungan sekolah masih terbuka, meskipun belum ada rencana konkret saat ini.

"Kalau untuk rencana merger masih belum ada, tapi kalau analisanya mengarah merger bisa jadi," imbuhnya.

Dampak lain dari kondisi ini dirasakan oleh guru kelas. Zuyun mengatakan guru kelas pengampu di sekolah tanpa siswa tidak akan mendapatkan tunjangan sertifikasi pendidik. Sebab, aturan mensyaratkan minimal satu siswa untuk setiap guru kelas.

"Kalau guru kelas ya minimal 1 siswa," jelasnya.

Kondisi ini menggambarkan tantangan yang dihadapi dunia pendidikan dasar di Tulungagung. Penurunan jumlah anak usia sekolah dan persaingan antar lembaga menjadi faktor yang saling terkait. Pemerintah daerah perlu mencari solusi agar sekolah-sekolah yang kekurangan murid tetap bisa beroperasi dan memberikan layanan pendidikan yang layak.

sekolah dasarkekurangan peminatmurid baruTulungagungangka kelahiranpersaingan sekolahmerger sekolah

Komentar

Memuat komentar...