7 Ton Cabai Dikirim ke Halmahera Tekan Harga Rp150 Ribu

Endah K. · 3 min baca · 2 jam lalu · 25 dibaca
Bisik.id
7 Ton Cabai Dikirim ke Halmahera Tekan Harga Rp150 Ribu

Gambar atau konten salah?

Kementerian Perdagangan mengirimkan 7 ton cabai rawit dari Probolinggo, Jawa Timur, ke Halmahera Utara, Maluku Utara. Tujuannya? Menekan selisih harga yang lebar antar daerah. Pengiriman ini juga untuk mengamankan stok menjelang Natal 2026 dan Tahun Baru 2027.

Menteri Perdagangan Budi Santoso bilang, langkah ini bagian dari usaha menghubungkan daerah penghasil dengan daerah yang kekurangan pasokan. Pemerintah ingin harga tetap stabil dan barang kebutuhan pokok tersedia. Salah satu caranya dengan mendorong kerja sama pasokan antar daerah.

"Kami harap tambahan pasokan bisa jaga keseimbangan harga," kata Budi dalam keterangan tertulis, Senin 02 November 2026. "Masyarakat juga bisa dapat barang dengan harga terjangkau."

Kementerian Perdagangan bekerja sama dengan Bank Indonesia Perwakilan Maluku Utara untuk distribusi cabai ini. Badan Pangan Nasional juga mendukung lewat program Fasilitasi Distribusi Pangan. Pengiriman dilakukan setelah melihat harga dan kebutuhan di Halmahera Utara.

"Fasilitasi ini mempertimbangkan perkembangan harga dan kebutuhan pasokan di daerah tujuan," tambah Budi.

Pertimbangan itu berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan. Pada 27 Oktober 2026, harga cabai rawit di Halmahera Utara mencapai Rp150.000 per kilogram. Angka yang sangat tinggi.

Bupati Halmahera Utara Piet Hein Babua menyambut baik pengiriman ini. Menurutnya, distribusi dari Jawa Timur bisa memperlancar penyaluran komoditas. Juga membantu memenuhi kebutuhan warga dan mengendalikan harga yang sudah melonjak.

"Pengiriman cabai ini memperlancar distribusi dari daerah penghasil ke daerah yang butuh," ujar Piet. "Kami harap tambahan pasokan bisa menekan harga hingga di bawah Rp100.000 per kilogram."

Selain menambah pasokan, Kementerian Perdagangan juga mendorong fasilitasi perdagangan antar daerah untuk mengendalikan inflasi. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Iqbal Shoffan Shofwan menjelaskan, pihaknya mempertemukan daerah dengan harga komoditas tinggi dengan daerah sentra produksi.

Kerja sama ini diharapkan bisa memperlancar distribusi dan mengendalikan inflasi di masing-masing wilayah. Iqbal berharap pengiriman cabai dari Jawa Timur ke Halmahera Utara bisa jadi contoh.

"Semoga kerja sama ini jadi contoh bagi pemerintah daerah lain," kata Iqbal. "Ini salah satu upaya pengendalian inflasi di wilayah masing-masing."

Penguatan kerja sama antar daerah juga dilakukan lewat fasilitasi penyaluran komoditas. Dari wilayah yang kelebihan pasokan ke daerah yang membutuhkan. Langkah konkretnya? Memfasilitasi penandatanganan kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara dan Pemerintah Kabupaten Malang pada Senin 19 Oktober. Bank Indonesia juga mendukung lewat Tim Pengendalian Inflasi Daerah.

Kelancaran logistik jadi perhatian utama. Kementerian Perdagangan berkoordinasi dengan Badan Pangan Nasional dan penyedia jasa transportasi. Pemilihan moda transportasi disesuaikan dengan kebutuhan pasokan, waktu tempuh, dan biaya. Supaya pengiriman lebih efektif.

Kementerian juga memperluas jangkauan distribusi lewat program Gerai Maritim. Program ini menjangkau wilayah tertinggal, terdepan, terluar, dan perbatasan. Memanfaatkan Tol Laut dan Jembatan Udara. Sudah menjangkau 63 kota atau kabupaten lewat Tol Laut dan 12 kabupaten lewat Jembatan Udara.

Program Gerai Maritim mencatat penurunan harga rata-rata 11,22 persen. Rinciannya? Barang kebutuhan pokok turun 11,63 persen. Barang penting turun 8,04 persen.

Pemantauan arus barang antarpulau juga ditingkatkan lewat sistem Indonesia National Single Window (INSW). Pada Januari hingga September 2026, pelaporan angkutan barang mencakup 244 pelabuhan. Volume barang tercatat 541,26 juta ton.

Distribusi barang kebutuhan pokok dan barang penting juga dipantau lewat INATRADE. Sistem ini melibatkan 253 pelaku usaha dan mencakup 16 komoditas. Koordinasi kerja sama antar daerah sudah menjangkau 18 provinsi dan 301 kabupaten atau kota.

Iqbal menegaskan, semua upaya ini diharapkan meningkatkan ketersediaan pasokan di daerah yang butuh. Juga menekan kesenjangan harga dan menjaga harga tetap terjangkau.

"Upaya ini diharapkan bisa meningkatkan ketersediaan pasokan," tutup Iqbal. "Menekan kesenjangan harga, dan menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat."

Kementerian Perdagangan terus berupaya menjaga kelancaran pasokan kebutuhan pokok. Lewat fasilitasi pengiriman, penguatan kerja sama antar daerah, dan pemantauan distribusi. Tujuannya mengurangi disparitas harga dan memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi, terutama menjelang Natal dan Tahun Baru. Harga cabai di Halmahera Utara yang sempat Rp150.000 per kilogram jadi contoh nyata kesenjangan yang coba ditekan. Pengiriman 7 ton cabai dari Jawa Timur diharapkan bisa menurunkan harga hingga di bawah Rp100.000 per kilogram. Tapi apakah ini solusi jangka panjang? Atau hanya tambal sulam sementara? Kerja sama antar daerah yang difasilitasi Kementerian Perdagangan mungkin jadi kunci. Tapi butuh konsistensi dan koordinasi yang kuat agar distribusi berjalan lancar dan harga benar-benar stabil.

cabai rawitdisparitas hargadistribusi panganNatal 2027Tahun Baru 2027kerja sama antar daerahinflasi

Komentar

Memuat komentar...