Airlangga: Surplus Neraca Dagang September 2026 Capai US$3,36 Miliar

Lia N. · 2 min baca · 2 jam lalu · 18 dibaca
Bisik.id
Airlangga: Surplus Neraca Dagang September 2026 Capai US$3,36 Miliar

Gambar atau konten salah?

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memberikan tanggapan terkait neraca perdagangan Indonesia yang mencatatkan surplus sebesar US$ 3,36 miliar pada September 2026. Menariknya, surplus ini bisa dipertahankan meskipun nilai impor melonjak hingga hampir 20 persen. Menurut Airlangga, kondisi neraca perdagangan masih tergolong baik. Hal yang sama juga berlaku untuk inflasi yang masih berada dalam rentang target sasaran, yaitu 2,5% dengan toleransi plus minus 1%.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi bulanan mencapai 0,22%. Sementara itu, inflasi tahunan tercatat sebesar 3,23%. Airlangga menyampaikan hal ini di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta Pusat, pada Senin, 02 November 2026. Ia menegaskan bahwa neraca perdagangan selama sepuluh bulan terakhir berjalan dengan baik. Inflasi pun, menurutnya, masih dalam taraf yang terkendali, baik secara bulanan maupun year-to-date.

Lebih lanjut, Airlangga juga menyoroti Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers Index/PMI) Manufaktur Indonesia. Indeks ini naik ke level 54,0 pada Oktober 2026, meningkat dari 52,4 pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini, menurut Airlangga, mencerminkan optimisme pasar terhadap perekonomian Indonesia. "PMI naik ke 54 juga menunjukkan optimisme pasar terhadap perekonomian," jelasnya.

Sebelumnya, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, merinci lebih lanjut penyebab surplus neraca perdagangan. Ia mengatakan bahwa surplus pada September 2026 terutama ditopang oleh sektor non-minyak dan gas (nonmigas). "Pada September 2026 neraca perdagangan barang mengalami surplus sebesar US$ 3,36 miliar. Surplus neraca perdagangan pada September 2026 terutama disebabkan oleh surplus pada komoditas non migas sebesar US$ 5,67 miliar," ujar Ateng di kantor BPS, Jakarta, pada hari yang sama.

Data ini menunjukkan bahwa meskipun ada tekanan dari lonjakan impor, sektor nonmigas masih menjadi andalan utama dalam menjaga keseimbangan neraca perdagangan Indonesia. Kenaikan PMI manufaktur juga menjadi sinyal positif bagi iklim bisnis di dalam negeri.

neraca perdagangansurplusAirlangga HartartoinflasiPMI manufakturnonmigasoptimisme pasar

Komentar

Memuat komentar...