Anak 7 Tahun di India Berhasil Hindari Dialisis Dari CAKUT
Gambar atau konten salah?
Di India, seorang anak berusia tujuh tahun mengalami kondisi yang biasanya dianggap tak terelakkan: gagal ginjal stadium akhir. Penderita penyakit ginjal kronis stadium 5 biasanya harus menjalani dialisis seumur hidup. Namun, kisah ini berbeda.
Awalnya pada 01 Maret 2025, sang anak dibawa ke rumah sakit swasta setelah mengalami pembengkakan seluruh tubuh, penurunan produksi urine, kelelahan ekstrem, nafsu makan buruk, dan penurunan drastis aktivitas. Gejala‑gejala ini awalnya diiraikan sebagai penyakit umum biasa. Hanya setelah evaluasi medis mendalam, terungkap bahwa penyebabnya adalah Congenital Anomalies of the Kidney and Urinary Tract (CAKUT), kelainan bawaan yang mengganggu struktur dan perkembangan ginjal serta sistem kemih.
CAKUT memicu hipodisplasia pada kedua ginjal anak tersebut. Hipodisplasia berarti ukuran ginjal sangat kecil dan kurang berkembang, sehingga fungsi penyaringannya menurun tajam. Sebelum dirawat di rumah sakit, anak ini sudah menjalani beberapa sesi dialisis. Namun, dokter memutuskan untuk menghentikan dialisis, mempertimbangkan usianya yang masih sangat muda.
Tim medis kemudian merancang perawatan konservatif. Selama 7‑10 hari, anak tersebut dirawat intensif dengan rencana perawatan terukur. Fokus utama adalah stabilisasi fungsi tubuh dan memperlambat kerusakan ginjal. Pendekatan ini menggabungkan intervensi obat‑obatan, pemantauan ketat, serta pengaturan pola makan dan gaya hidup.
Hasilnya menakjubkan. Tubuh anak merespons dengan baik pengobatan yang diberikan. Selama setahun terakhir, pemeriksaan rutin menunjukkan bahwa ia kini dapat menjalani hidup normal dengan kesehatan stabil tanpa harus menyentuh mesin dialisis lagi.
“Kelainan ginjal bawaan merupakan penyebab utama penyakit ginjal kronis pada anak‑anak. Seringkali, gejala awal tidak jelas dan dapat tidak disadari hingga akhirnya kambuh di usia yang lebih tua,” jelas Dr Neha V Pandey, konsultan nefrologi anak di Rumah Sakit Kailash. “Namun, dengan deteksi dini dan penanganan medis yang tepat, perkembangan penyakit dapat diperlambat secara signifikan,” sambungnya yang dikutip dari Times of India.
Dr Pandey memaparkan bahwa kasus CAKUT menyumbang hampir 40‑50 persen kasus penyakit ginjal kronis pada anak‑anak. Kelainan struktural ini bisa berupa ginjal yang tidak terbentuk (aplasia), ginjal kerdil (hipodisplastik), penyakit ginjal kistik, hingga adanya sumbatan atau aliran balik urine dari kandung kemih ke ginjal (refluks vesikoureterik).
“Selain penyebab bawaan lahir, kondisi lain yang dapat menyebabkan penyakit ginjal kronis pada anak‑anak meliputi infeksi ginjal berulang, glomerulonefritis (peradangan unit penyaringan ginjal), gangguan herediter yang memengaruhi fungsi ginjal, penyakit ginjal kistik, dan gangguan metabolisme tertentu atau obat‑obatan yang dapat merusak ginjal,” beri Dr Pandey.
Mirisnya, kasus gangguan ginjal pada anak di bawah usia 10 tahun kini semakin sering dilaporkan. Di luar faktor bawaan lahir, Dr Pandey menyoroti efek dari pergeseran gaya hidup modern anak‑anak saat ini yang membebani kinerja ginjal secara ekstrem.
Konsumsi tinggi makanan cepat saji (junk food), makanan olahan yang asin, minuman manis, sembelit kronis, kebiasaan menahan buang air besar, kurang tidur, hingga waktu penggunaan layar (screen time) yang berlebihan menjadi pemicu utama yang harus diwaspadai oleh setiap orang tua.
Kasus ini menegaskan bahwa deteksi dini dan penanganan medis yang tepat dapat memperlambat perkembangan penyakit ginjal kronis pada anak. Dengan pendekatan konservatif yang terkoordinasi, bahkan kondisi yang dianggap tak terelakkan dapat diubah menjadi peluang untuk pemulihan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Serangan Jantung Malam: Gejala, Penyebab, dan Pencegahan
Bolot Di ICU, Komedian Terus Pantau Jantung Setelah Serangan
Diabetes dan Risiko Penyakit Gusi: Pentingnya Kontrol Gula
El Nino Kuat Berlanjut di Pasifik, Prediksi NOAA Hingga Tahun
AB Plastic Surgery Menjadi Tuan Rumah IFAAS 2026 di Jakarta
Rupiah Lemah, BPJS Jaga Obat Tetap Tak Melewati 20%
Berita Terbaru
16 Juni 2026: Hari Libur Nasional, Tahun Baru Islam 1448 H
KemenHAM Rekrut Penggerak HAM 2026 di Desa, Kelurahan
Wushu Indonesia Pilih Pengurus Baru, Target Emas Asian Games
Edin Dzeko Usia 40, Piala Dunia 2026 Jadi Tantangan Terakhir
Pertamina Patra Niaga Jaga Pertalite di Semua SPBU
Piala Dunia 2026: Brasil vs Maroko, Belanda vs Jepang
PRIMA Sukaraja & SMART KANG Luncurkan Layanan Publik Bandung
