Anak Netra Nonton Liga FIFA di Stadion GBK, Dipandu Teman
Gambar atau konten salah?
Di dalam stadion, suara gempur, sorak sorai, dan bendera yang berkibar menjadi ciri khas bagi penonton yang melihat. Tetapi bagi anak-anak difabel netra, bagaimana mereka merasakan suasana itu? Pertanyaan itu muncul setelah sebuah postingan di Instagram menampilkan dua anak netra menikmati pertandingan FIFA Series 2026 di Stadion Gelora Bung Karno.
Konten tersebut dibuat oleh Sadar Belajar Indonesia, sebuah organisasi yang mendukung belajar bagi penyandang disabilitas. Ketua organisasi ini, Fani (23), menjelaskan bahwa anak-anak netra masih dapat menikmati pertandingan sepakbola langsung di stadion, asalkan ada bantuan dari teman bisik.
Fani menyatakan, "Mereka mengandalkannya suara sama perabaan, indra selain visual," saat berbincang. Ia menekankan bahwa pendampingan ini memanfaatkan indera pendengaran dan perabaan untuk menggambarkan pergerakan di lapangan.
Program ini bermula ketika Sadar Belajar Indonesia bekerja sama dengan Wallpass untuk membawa dua anak netra ke Stadion GBK. Mereka dapat merasakan gemuruh penonton, suara peluit, dan bahkan aroma popcorn yang mengisi udara. Kegiatan ini menjadi sorotan karena menampilkan bagaimana teknologi dan pendamping dapat membuka akses bagi penyandang disabilitas netra.
Sejak berdiri pada tahun 2020 dengan nama awal Sanggar Belajar Sadar, organisasi ini telah aktif mengajak anak-anak netra menonton pertandingan sepakbola lokal. Salah satu acara yang pernah mereka lakukan adalah menonton PSS Sleman. Meski pengalaman tersebut terasa menyenangkan, Fani mengakui masih ada tantangan bagi teman bisik yang harus menjelaskan pergerakan secara real time.
Fani berkata, "Tantangannya ini sih, bagaimana kita menjelaskan, mendeskripsikan apa yang kami lihat sebagai pendamping awas ya, teman bisik. Itu kan harus real time ya pergerakan, itu kan juga cepat ya," Ia menambahkan, "Gimana kita menjelaskannya dengan cepat, dan itu kan koordinasi mata sama tangan banget. Apa yang kami lihat sama tangan yang akan kami gerakkan, belum juga apa yang harus kami ucapkan,".
Selain itu, Fani menyoroti bahwa fasilitas stadion, khususnya GBK, masih belum sepenuhnya ramah bagi penyandang netra. Ia menyerukan agar pihak terkait memperhatikan hal ini agar akses dapat ditingkatkan.
Sejak tahun 2024, Sadar Belajar Indonesia telah memperoleh legalitas dari Kementerian Hukum dan HAM. Organisasi ini menawarkan berbagai program, mulai dari pendampingan belajar daring, belajar membaca braille, hingga outing class ke museum atau mencoba transportasi umum.
Dengan pendekatan yang sederhana namun terstruktur, Sadar Belajar Indonesia menunjukkan bahwa pengalaman menonton sepakbola tidak harus terbatas pada penglihatan. Melalui suara, perabaan, dan pendamping yang terkoordinasi, anak-anak netra dapat merasakan kehangatan stadion dan semangat pertandingan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Messi Pecahkan Rekor 18 Gol di Piala Dunia
Pemain Kanada hisap 'peluit hijau' saat patah kaki, apa itu Penthrox?
Pemain Kanada Tertangkap Hisap "Peluit Hijau" Pereda Nyeri
Wasit Piala Dunia Kram Kaki, Pemain AS Bantu di Lapangan
Pemula Maraton Rentan Rhabdomyolysis, Dokter: Pemanasan Bertahap Kunci Utama
Ginjal Rusak Akibat Rhabdomyolysis, Bisakah Pulih?
Berita Terbaru
Tio Pakusadewo Pulih, Cegukan Tanda Jantung Bermasalah
Bahasa Bali Gaul, Slang Anak Muda yang Hidup di Tengah Modernisasi
Jadwal Sholat Denpasar 24 Juni 2026 Lengkap Niat
Sarwendah Bantah Halangi Ruben Onso Temui Anak
Portugal Pesta Gol, Ronaldo Bawa Tim ke Unggul 3-0
Tiga Pemuda Tewas di Baron, Polisi Pastikan Kecelakaan Murni
Pembalap Muda Indonesia Raphael Anggoman Juara Group D di Italia
Menteri Kesehatan Dorong Pasien TBC Masuk Penerima Makan Bergizi Gratis
Ekspor 26 Ton Kelapa Parut Gorontalo ke Jerman Tembus Rp1,2 Miliar