Antrian Pertalite di SPBU Rancaekek Tembus Jalan harga
Gambar atau konten salah?
Di Jalan Garut‑Bandung, tepatnya di kawasan Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, sebuah SPBU menawarkan pemandangan yang berbeda antara dua jenis bahan bakar. Pada pagi hari, pompa pengisian BBM Pertamax khusus sepeda motor tampak kosong, tidak ada pelanggan yang menunggu. Sementara itu, pompa BBM Pertalite berantakan, antrean hampir melampaui batas SPBU dan menembus jalan di luar area layanan.
Antrean Pertalite sudah lama menjadi masalah. Setelah harga Pertamax melonjak, banyak pengendara beralih ke Pertalite. Akibatnya, antrean semakin panjang. Di beberapa SPBU lain, situasi serupa terjadi, bahkan sampai menimbulkan kemacetan di jalan.
Seorang warga Cicalengka, Asep Sopian berusia 42 tahun, karyawan swasta di Rancaekek, mengungkapkan alasan perubahan preferensinya. “Saya gunakan Pertamax sebelumnya, harganya naik hampir empat ribu, mikir lagi, jadi pindah ke Pertalite,” ujarnya. Asep, yang sedang libur kerja, memanfaatkan hari tersebut untuk isi BBM. Ia menghabiskan Rp60 ribu untuk bahan bakar, cukup untuk satu minggu. “Saya sengaja pindah ke Pertalite karena kalau memaksakan pakai Pertamax pengeluaran bisa tekor,” tambahnya.
Menjelang jam kerja, Asep menemukan sekitar 20 motor di depan SPBU. Untuk mendapatkan Pertalite, ia harus menunggu 20‑30 menit. “Dulu paling lama 10 menit, sekarang bisa lebih, bahkan bisa setengah jam gimana ramainya. Apalagi kalau petugasnya jaga dua (pompa motor dan mobil), itu bisa jadi lama,” jelasnya. Ketika ditanya tentang harapannya kepada pemerintah, ia bersikap realistis. “Rakyat mah pasrah saja, gimana lagi, meski kita ingin harga BBM turun lagi,” jawabnya.
Pengguna lain, Samsudin berusia 39 tahun, juga terpaksa beralih ke Pertalite. Ia mengatakan, “Mahal, mahal banget sekarang, kebangetan. Pindah ke Pertalite aja terpaksa, kalau gak gitu uang untuk kebutuhan lain keganggu.” Sebelumnya, Samsudin menggunakan Pertamax karena tidak perlu antre. “Gak usah ngantri kalau Pertamax, tapi karena harga terpaksa harus ngantre,” katanya. Ia berharap pemerintah dapat menyesuaikan harga Pertamax. “Turun gak mungkin, tapi kalau penyesuaian mungkin bisa, yuk pemerintah bisa,” harapannya.
Putri, 33 tahun, ibu dua anak, juga mengeluhkan kondisi serupa. Ia menyatakan, “Suka kosong, sebal lihat ada pengumuman itu di depan SPBU. Apalagi suka diarahkan agar isi Pertamax saja. Ya duitnya mana kalau ke Pertamax, pakai Pertalite juga ini tuh supaya menghemat.” Putri menegaskan keinginannya agar pemerintah menstabilkan harga BBM. “Harapan tuh bisa turun, apalagi lihat sekarang barang‑barang naik lagi, kebutuhan pokok naik. Ya intinya ada perubahan ke arah leboh baik,” pungkasnya.
Situasi ini mencerminkan dampak kenaikan harga Pertamax terhadap perilaku konsumen. Banyak pengendara beralih ke Pertalite, menambah beban antrean di SPBU. Keterbatasan stok dan kebijakan harga membuat masyarakat menunggu lebih lama. Kebijakan pemerintah dalam menyesuaikan harga BBM menjadi kunci untuk mengurangi ketidaknyamanan dan menjaga kesejahteraan pengendara di wilayah tersebut.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Gempa M 2,9 di Cianjur, Tidak Kerusakan di Jawa Barat
Warga Cimahi Solusi Air Tanpa PDAM: Water Harvesting Berhasil
Jadwal Sholat 14 Juni 2026 Bandung: Subuh, Zuhur, Maghrib
Jadwal Sholat Minggu, 14 Juni 2026: Cirebon dan Sekitarnya
Unpas Gelombang Kedua Wisuda, 1.075 Lulusan dan Kerja Sama
Jembatan Kebon Waru Berkarat, Warga Panggil Perbaikan Segera
Berita Terbaru
Antrian Pertalite di SPBU Rancaekek Tembus Jalan harga
Grup C Piala Dunia 2026: Skotlandia 3 Poin, Brasil 1 Poin
Knicks Juara NBA 2026: Kemenangan 94-90 atas Spurs di Frost Bank
KEK Gresik Perluas Wilayah, Investasi dan Kerja Naik
Iriawan Pantau AFT Ngurah Rai, Pastikan Pasokan Avtur Liburan
Doa Akhir Tahun Muslim: Sejarah, Asal Usul, dan Tidak Wajib
Hujan Sedang di Sumut, Siang dan Sore Penuh Risiko Banjir
Galbitang: Sop Iga Korea, Menu Sederhana Menikmati Keluarga
Proving Ground Bekasi: Uji Kendaraan Lokal, Biaya Kompetitif
Skotlandia Menang 1‑0 atas Haiti, Awali Piala Dunia 2026