Arak‑Arak Sapi Boyolali: Tradisi Lebaran Pererat Kebersamaan

Wulan M. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 61 dibaca
Bisik.id
Arak‑Arak Sapi Boyolali: Tradisi Lebaran Pererat Kebersamaan

Gambar atau konten salah?

Di Boyolali, pada 28 Maret 2026, warga lereng Gunung Merapi menggelar tradisi angon hewan ternak sebagai bagian syawalan perayaan Hari Raya Idulfitri. Ratusan sapi dan kambing ikut dalam arak‑arakan ini.

Tradisi ini digelar di Dukuh Mlambong dan diikuti oleh warga di lingkup RW 04 Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali. Lokasi yang terlibat meliputi Dukuh Mlambong, Rejosari, Gedongsari, Wonodadi, dan Tegalsari.

Ini tradisi tahunan. Dilaksanakan setahun sekali saat syawalan,” kata tokoh masyarakat setempat, Jaman, di sela‑sela acara.

Jaman menjelaskan bahwa arak‑arakan sapi telah berlangsung turun‑temurun sejak zaman nenek moyang. Hingga kini, warga masih melestarikan tradisi tersebut, bahkan pelaksanaannya semakin meriah.

Ratusan warga dari berbagai daerah menonton peristiwa ini. Tamu undangan dari dinas terkait Pemkab Boyolali juga hadir untuk menyaksikan.

Tradisi diawali dengan kenduri ketupat. Semua warga membawa ketupat berbagai jenis beserta lauk pauknya. Setelah didoakan, warga makan bersama, dan pengunjung pun dipersilakan ikut menikmati hidangan.

Setelah kenduri, warga pulang ke rumah masing‑masing. Kemudian mereka mengeluarkan sapi untuk diarak keliling kampung. Barisan paling depan terdiri dari pemudi yang membawa spanduk acara tradisi ini. Di belakangnya, ada gunungan hasil bumi dan ketupat. Kesenian reog dan warok dari Desa Sruni turut memeriahkan suasana.

Barisan berikutnya adalah ibu‑ibu yang mengenakan kebaya. Selanjutnya, ratusan sapi dan kambing milik warga muncul. Beberapa warga juga membawa sapi tunggang. Sapi‑sapi dihias dengan kalung ketupat.

Tradisi ini juga dikenal sebagai Bakdo Sapi atau Lebaran Sapi. Jaman mengatakan, “Tradisi arak‑arakan sapi digelar di akhir perayaan Lebaran atau di H + 7 Lebaran, bertepatan dengan kupatan atau syawalan. Sehingga oleh masyarakat setempat juga biasa disebut bakdo kupat dan bakdo sapi alias Lebaran sapi.”

Jaman menambahkan, tradisi ini juga merupakan wujud syukur kepada Allah. Ketua RW 04, Desa Sruni, mengungkapkan, “Tradisi ini juga sebagai wujud syukur kepada Allah, yang telah melimpahkan rezeki kepada masyarakat disini melalui hewan‑hewan ternak yang dipeliharan warga maupun hasil pertanian warga,” ujar ia.

Para pengunjung, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, menonton di pinggir jalan. Acara berlangsung meriah. Menurut kepercayaan warga, Nabi Sulaiman memeriksa hewan‑hewan ternak pada hari itu, sehingga warga mengeluarkan sapi dari kandang dan membawanya keliling kampung.

Setelah arak‑arakan sapi, pengunjung juga dihibur dengan kesenian tarian tradisional reog.

Tradisi ini menegaskan rasa kebersamaan dan rasa syukur warga Boyolali terhadap rezeki yang diberikan, sekaligus memperkuat identitas budaya lokal dalam rangka perayaan Idulfitri.

BoyolaliGunung MerapiTradisi arak‑arakan sapiIdulfitriReogDukuh MlambongPemkab BoyolaliLebaran Sapi

Komentar

Memuat komentar...