Piala Dunia 2026 Gagal Tarik Lonjakan Wisatawan

Sigit W. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Piala Dunia 2026 Gagal Tarik Lonjakan Wisatawan

Gambar atau konten salah?

Piala Dunia 2026 tinggal menyisakan satu pertandingan terakhir, yaitu partai final. Tapi meski turnamen sepak bola terbesar di dunia ini hampir selesai, jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Amerika Serikat tidak melonjak seperti yang diharapkan.

Data dari National Travel & Tourism Office (NTTO) di bawah Departemen Perdagangan AS menunjukkan bahwa pada bulan Juni 2026, kunjungan internasional hanya naik 0,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Padahal, fase grup Piala Dunia 2026 sendiri berlangsung pada 11 Juni hingga 27 Juni 2026.

Yang menarik, justru ada penurunan dari dua pasar utama. Kunjungan dari Eropa turun 1,2%, sementara dari Asia merosot 5,6%. Sebaliknya, kenaikan hanya datang dari pasar yang lebih kecil. Misalnya, Afrika naik 13,8% dan Amerika Selatan naik 4,7%.

Sebelum turnamen dimulai, FIFA memproyeksikan bahwa Piala Dunia 2026 akan menyumbang sekitar USD 30,5 miliar (atau sekitar Rp 549 triliun) bagi perekonomian AS. Proyeksi itu didasari oleh keyakinan bahwa banyak wisatawan asing akan datang dan membelanjakan uang lebih banyak dibanding penonton lokal.

Tapi Andrew Zimbalist, Profesor Emeritus Ekonomi dari Smith College, tidak setuju. Menurutnya, angka itu terlalu berlebihan. "FIFA memainkan permainan hubungan masyarakat (PR) dengan semua angka itu. Tidak pernah masuk akal jika dampaknya mencapai USD 30,5 miliar bagi ekonomi Amerika Serikat," kata Zimbalist.

Di sektor perhotelan, situasinya juga tidak menggembirakan. Banyak hotel di kota-kota tuan rumah menaikkan tarif kamar selama turnamen. Tapi American Hotel & Lodging Association (AHLA) melaporkan bahwa tingkat hunian dan permintaan kamar tidak mengalami peningkatan yang berarti.

Zimbalist mengaitkan hal ini dengan kebijakan tarif dan hubungan internasional yang dijalankan Presiden Donald Trump. "Ada penolakan yang meluas terhadap tarif Trump dan kebijakan internasionalnya. Ini bukan pernyataan memihak, melainkan kenyataan," tegasnya.

Pendapat senada disampaikan Jan Freitag, Direktur Analisis Pasar Perhotelan Nasional dari CoStar. "Sulit melihat data yang ada lalu menyimpulkan bahwa turnamen ini benar-benar menjadi pendorong besar bagi kedatangan wisatawan mancanegara," ungkap Freitag.

Analisis dari North Carolina State University menunjukkan bahwa 16 kota tuan rumah Piala Dunia 2026 di Amerika Utara sudah menginvestasikan dana yang tidak sedikit. Masing-masing kota mengeluarkan sekitar USD 100 juta hingga USD 200 juta (sekitar Rp 1,80 triliun hingga Rp 3,60 triliun) untuk infrastruktur, transportasi, dan keamanan. Beberapa negara bagian bahkan memberikan keringanan pajak demi mendukung penyelenggaraan turnamen.

Namun, menurut Michael Edwards, Profesor Manajemen Olahraga di universitas yang sama, keuntungan terbesar justru dinikmati oleh FIFA. "Model FIFA adalah FIFA memperoleh pendapatan, sementara kota-kota tuan rumah menanggung biaya dan risikonya," kata Edwards.

Memang, beberapa kota seperti New York, Miami, dan Atlanta masih mencatat kinerja pariwisata yang positif. Tapi sebagian besar kota tuan rumah lainnya belum merasakan lonjakan wisatawan sesuai yang diharapkan.

Dari seluruh data dan pernyataan para ahli, terlihat bahwa gelaran Piala Dunia 2026 tidak otomatis menjadi magnet wisatawan global seperti yang dibayangkan. Faktor kebijakan politik dan persepsi internasional tampaknya lebih berpengaruh daripada daya tarik turnamen itu sendiri. Sementara FIFA menuai pendapatan besar, kota-kota tuan rumah justru menanggung beban investasi tanpa kepastian keuntungan pariwisata yang signifikan.

Piala Dunia 2026wisatawanpenurunan kunjungankebijakan tarifhotelFIFAekonomi

Komentar

Memuat komentar...