Arezoo Eskandari Bersepeda 7 Bulan Menyebarkan Perdamaian

Cahyo S. · 4 min baca · 1 hari lalu · 24 dibaca
Bisik.id
Arezoo Eskandari Bersepeda 7 Bulan Menyebarkan Perdamaian

Gambar atau konten salah?

Arezoo Eskandari (35) memulai petualangan panjangnya dengan sepeda tujuh bulan lalu, melintasi ribuan kilometer di berbagai negara Asia. Ia berasal dari Iran dan membawa misi sederhana: menyebarkan pesan perdamaian, persahabatan, dan saling pengertian antarbangsa.

Perjalanan dimulai di China pada 08 Juni 2026. Dari Iran, Arezoo terbang ke negara tersebut untuk memulai perjalanan. “China menjadi bagian tersulit karena itu negara pertama dalam perjalanan ini. Saya baru memulai dan harus beradaptasi dengan banyak hal. Selain itu, tidak banyak warga lokal yang bisa berbahasa Inggris sehingga komunikasi menjadi tantangan tersendiri,” ujarnya ketika berbincang dengan media di Jakarta.

Sebagai seorang muslim, Arezoo menghadapi tantangan lain: mencari makanan halal. Di kota-kota besar China, makanan halal relatif mudah ditemukan. Namun di wilayah yang lebih kecil dan terpencil, situasinya berbeda. “Kadang sangat sulit menemukan makanan halal di kota kecil,” tambahnya.

Setelah China, ia melanjutkan perjalanan ke Vietnam, Laos, Thailand, dan Malaysia, lalu tiba di Indonesia. Dari semua negara tersebut, Laos meninggalkan kesan tersendiri. Menurutnya, masyarakat Laos sangat ramah, namun kondisi jalan yang rusak membuat perjalanan menjadi lebih berat. “Saya sempat mengalami kecelakaan dan terjatuh di Laos. Untungnya hanya cedera ringan sehingga saya bisa kembali melanjutkan perjalanan,” jelasnya.

Setelah beberapa hari di Jakarta, Arezoo berencana beristirahat sebelum menuju Bali. Jaraknya sekitar 1.200 hingga 1.300 kilometer dan ia memperkirakan akan membutuhkan sekitar 30 hari untuk menyelesaikan rute tersebut. Setiap hari, ia menempuh jarak 50 hingga 70 kilometer. Setelah tiga hingga empat hari bersepeda, biasanya ia akan beristirahat satu hari penuh.

Mobil bisa menempuh 100 kilometer dalam waktu sekitar satu jam. Saya hanya bisa menempuh sekitar 15 kilometer per jam karena menggunakan sepeda dan membawa beban yang berat,” ia menjelaskan. Beban yang dibawanya tidak main-main. Total perlengkapan mencapai sekitar 60 kilogram, termasuk tenda, pakaian, perlengkapan memasak, peralatan berkemah, dan kebutuhan sehari‑hari lainnya.

Karena keterbatasan anggaran, tenda menjadi pilihan utama untuk bermalam. Ia juga memasak sendiri hampir setiap hari untuk menghemat biaya. “Perjalanan seperti ini tidak mungkin dijalani tanpa rasa cinta. Kalau hanya dianggap tugas, saya rasa saya tidak akan mampu melakukannya sejauh ini,” ujarnya. “Sepeda ini adalah rumah kedua saya,” tambahnya.

Walaupun menikmati setiap perjalanan, Arezoo mengakui ada satu hal yang paling dirindukannya setelah tujuh bulan jauh dari rumah. “Keluarga, terutama pelukan ibu,” ia ungkap. Kerinduan itu sempat terasa semakin berat ketika komunikasi dengan keluarga terputus akibat Iran digempur Amerika Serikat (AS) dan Israel. Hari itu menjadi momen mencekam bagi dia. Ia merasa ingin langsung pulang, tetapi bersamaan ia memiliki misi tersendiri kali ini. “Itu salah satu momen yang sulit karena saya harus menjalani semuanya sendirian. Sekarang saya bersyukur komunikasi sudah kembali lancar,” ia menambahkan.

Tak sedikit orang yang mempertanyakan keputusan Arezoo melakukan perjalanan seorang diri sebagai perempuan. Ia berasal dari keluarga yang cukup tradisional. Meyakinkan keluarga bukan perkara mudah. Ia mengaku memulainya secara bertahap, dari perjalanan pendek satu atau dua hari hingga akhirnya mampu menjalani ekspedisi lintas negara selama berbulan‑bulan. “Keberanian yang saya miliki hari ini adalah hasil proses selama bertahun‑tahun. Izin yang saya dapatkan dari orang tua ini sudah saya rintis selama 10 tahun,” ia katakan. Untuk fisik, ia bilang cukup terlatih. Ia memang hobi mendaki gunung dan terbiasa gowes di negaranya.

Selain fisik dan mental, Arezoo juga menyiapkan finansial untuk mendukung perjalanannya. Dulu ia bekerja di sektor swasta. Demi mewujudkan impiannya, ia memutuskan mengundurkan diri. Ia bahkan menjual mobil pribadinya untuk membiayai langkah awal petualangan tersebut. Ia mengakui bekal dari menjual mobil dan sponsor belum cukup membuatnya terbebas dari tantangan finansial. Di setiap kota dan negara yang disinggahi, ia berupaya mencari dukungan tambahan agar perjalanannya tetap berlanjut.

Setelah tujuh bulan perjalanan, Arezoo ingin mendorong perempuan dan anak‑anak perempuan untuk berani mengejar impian mereka. “Pesan saya kepada perempuan dan anak‑anak perempuan di seluruh dunia, khususnya di Indonesia, adalah jangan takut untuk bermimpi dan mengejar impian kalian,” ucapnya. “Mulailah dari perjalanan satu atau dua hari. Tidak perlu langsung jauh. Seiring waktu, jarak dan kemampuan akan bertambah,” ia menambahkan.

Setelah menyelesaikan perjalanan di Indonesia, Arezoo berencana melanjutkan petualangannya ke India. Negara itu, menurutnya, menjadi tantangan berikutnya yang telah ia pelajari jauh‑jauh hari melalui berbagai diskusi dengan pesepeda lain dan riset pribadi. Meski menyadari perjalanan ke depan tidak akan mudah, ia tetap optimistis. “Saya percaya pada tujuan saya. Kepercayaan itu yang memberi saya kekuatan untuk terus melanjutkan perjalanan,” ia katakan.

Perjalanan Arezoo menyoroti bagaimana tekad, persiapan, dan dukungan keluarga dapat membawa seseorang melewati rintangan fisik, finansial, dan emosional. Ia menunjukkan bahwa meski menghadapi tantangan bahasa, makanan, dan kondisi jalan, semangat untuk menyebarkan perdamaian dapat menjadi pendorong utama. Perjalanan ini juga menginspirasi perempuan muda di Indonesia dan sekitarnya untuk memulai langkah kecil menuju impian mereka, menumbuhkan rasa percaya diri dan ketangguhan dalam menghadapi dunia yang luas.

Arezoo Eskandarisepedaperjalanan lintas negarapesan perdamaianmakanan halalperempuankeluarga

Komentar

Memuat komentar...