Baliho PB XIV di Gladag: Raja Baru dan Agenda Budaya

Arif S. · 3 min baca · 3 jam lalu · 8 dibaca
Bisik.id
Baliho PB XIV di Gladag: Raja Baru dan Agenda Budaya

Gambar atau konten salah?

Di kawasan Gladag, Solo, sebuah baliho besar memamerkan foto Paku Buwono (PB) XIV Mangkubumi pada 01 Juni 2026. Gambar tersebut memakai pakaian kebesaran Keraton Solo, dan di bawahnya tertulis Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono XIV Keraton Surakarta. Pemasangan ini menandai pengumuman raja baru kepada masyarakat.

Ketika diminta komentar, juru bicara Kanjeng Pakoenegoro menjawab, "Dari Gusti Tedjo sejauh ini belum ada arahan apa-apa, belum ada komentar nggih (baliho PB XIV Mangkubumi)," dia katakan pada 04 Juni 2026. Ia menyatakan bahwa belum ada petunjuk jelas dari Gusti Tedjo mengenai baliho tersebut.

Namun, Gusti Tedjowulan pernah memberi arahan agar baliho di sekitar Keraton Solo diisi dengan kegiatan atau agenda. Ia mencontohkan, "baliho bisa diisi dengan pemberitahuan kegiatan Grebeg dan lainnya." Jadi, ada harapan bahwa baliho akan menampilkan acara budaya.

Di sisi lain, Gusti Tedjowulan menekankan bahwa yang paling tepat adalah menampilkan gambar proses revitalisasi. Ia berkata, "Justru beliau malah, Gusti Tedjowulan sempat, sempat ngendiko, sebenarnya yang paling pas justru ini baliho-baliho itu berisi gambar-gambar tentang proses revitalisasi, kemudian kalaupun grebeg ya gunungan grebegnya. Kalau kirab ya kira-kira kebo dan kirabnya," ia ucap. Ide ini menyoroti pentingnya menampilkan kegiatan nyata di dalam keraton.

Ia juga menambahkan bahwa banner yang terbaca masyarakat dapat menenangkan atau membuat teduh kondisi. Ia berkata, "Sehingga, lanjutnya, baliho yang dibaca masyarakat bisa menenangkan atau membuat teduh kondisi." Dan ia menegaskan, "Masyarakatnya, itu akan lebih menenangkan, lebih adem gitu," ia bilang.

Menurutnya, visualisasi tradisi dan budaya akan jauh lebih bermanfaat bagi masyarakat luas karena memberikan informasi yang jelas mengenai agenda keraton. Ia menambahkan, "Ia menambahkan, visualisasi yang mengangkat tradisi dan budaya akan jauh lebih bermanfaat bagi masyarakat luas karena memberikan informasi yang jelas mengenai agenda keraton."

Ia juga menegaskan bahwa timeline harus jelas, tanpa menonjolkan satu pihak. Ia menyatakan, "Jadi timeline-nya jelas, tanpa menonjolkan satu dan lain pihak gitu, supaya rukun," imbuhnya. Ketika ditanya apakah saran tersebut sudah disampaikan kepada PB XIV Mangkubumi, Kanjeng Pakoenegoro menegaskan bahwa komunikasi antar pimpinan di internal keraton berjalan baik. Ia menegaskan, "Komunikasinya jalan terus. Sudah disampaikan semua. Gusti Tedjo itu merangkul penginnya," pungkasnya.

Di sisi lain, Kepala Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA), KPH Eddy Wirabhumi menjelaskan maksud pemasangan baliho. Ia berkata, "Pemasangan baliho itu sebagai pengumuman bagi masyarakat terkait raja baru di Keraton Solo?" Ia melanjutkan, "(Pemasangan baliho itu sebagai bentuk pengumuman ke masyarakat Solo?) Lha monggo dimaknai seperti apa. Bisa begitu, bisa ke dalam (ke internal Keraton), bisa ke pemerintah. Luas pengertiannya. Karena nek (kalau) Keraton iku kondone (katanya) lahir batin gitu ya," kata Eddy saat dihubungi media pada 01 Juni 2026.

Eddy juga menekankan bahwa pemasangan baliho bersamaan dengan Hari Lahir Pancasila memiliki makna yang sama. Ia berkata, "Jadi kan kita ini garisnya itu sebenarnya adalah meneguhkan satu sisi adat dan tradisi budaya, sisi lain pada saat kita juga bersama-sama mendirikan negara dan bangsa ini, juga harus konsisten dengan apa yang sudah kita bersama-sama mendirikan bangsa. Ini kan kebangsaan kita toh, Pancasila itu kan gitu," ucapnya.

Ia menegaskan kesiapan untuk menyesuaikan diri dari sisi hukum maupun adat. Ia berkata, "Nah, oleh karena itu, saya hanya ingin mengatakan saya bertanggung jawab penuh dari sisi hukum bahwa apa yang kita lakukan ini adalah berpegang teguh pada ketentuan adat dan ketentuan hukum nasional, gitu. Seperti itu. Karena saya, ya di situlah kapasitas tugas dan kewenangan saya, gitu," kata dia.

Secara keseluruhan, banner ini dan pernyataan para pemimpin menunjukkan bagaimana Keraton Solo menyeimbangkan tradisi lokal dengan nilai nasional. Banner tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pengumuman raja baru, tetapi juga sebagai media untuk menampilkan kegiatan budaya dan revitalisasi, sekaligus menegaskan hubungan antara adat, budaya, dan identitas bangsa.

Paku Buwono XIVKeraton SolobalihorevitalisasibudayaadatPancasilaraja baru

Komentar

Memuat komentar...