Bank Indonesia Tindak Lanjut Inflasi Pangan 6,44%

Yanto K. · 2 min baca · 1 hari lalu · 29 dibaca
Bisik.id
Bank Indonesia Tindak Lanjut Inflasi Pangan 6,44%

Gambar atau konten salah?

Bank Indonesia (BI) terus memainkan peran penting dalam menjaga kestabilan harga pangan domestik. Langkah ini bertujuan menekan inflasi yang berasal dari sektor pangan.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan mencapai 3,08% pada Mei 2026. Kepala Departemen Regional BI, Rudy Brando Hutabarat, menegaskan bahwa angka tersebut juga dipengaruhi oleh kenaikan harga pangan yang bersifat volatile.

Inflasi pangan saat ini berada di level 6,44%, naik dari 3,36% pada periode sebelumnya. Penanganan inflasi ini menjadi alasan utama keterlibatan BI di sektor pangan.

“Jadi kami akan perhatian ke situ. Karena angka ini bukan akan sedar angka statistik, tetapi ini adalah menyangkut-paut adalah catatan masalah perut. Kalau misalnya inflasi makanan itu meningkat, maka harga bahan makanan meningkat, maka ini bermasalah dengan perut,” ujar Rudy dalam acara Ketahanan Pangan Untuk Indonesia Emas di Kempinski, Jakarta, Rabu, 10 Juni 2026.

Ia menjelaskan bahwa komoditas pangan menjadi penyumbang inflasi inti pada bulan Mei 2026. Inflasi pangan tertinggi berasal dari cabai merah yang naik 0,8%, minyak goreng 0,04%, bawang merah 0,04%, bahan bakar rumah tangga 0,03%, hingga tomat 0,03%.

Rudy menambahkan bahwa kenaikan inflasi ini disebabkan oleh penurunan jumlah produksi di tingkat petani. Penurunan produksi ini terjadi akibat banyak hal, seperti cuaca ekstrem.

“Kalau dia meningkat, Bank Indonesia tidak bisa meresponnya dengan kenaikan suku bunga, untuk menurunkan itu. Karena masalahnya di produksi, bukan di demand side yang itu adalah peranan Bank Indonesia. Oleh karena itu, kami di Bank Indonesia berperan serta, berperan aktif malah untuk menurunkan hal-hal seperti ini,” jelasnya.

BI juga menggelar operasi pasar di daerah dengan inflasi pangan tertinggi, seperti Sumatera dan Jawa. Di Sumatera, operasi pasar yang dilakukan BI mencapai 2.436 kali, sedangkan di Jawa BI telah menggelar operasi pasar sebanyak 1.911 kali.

“Sumber kenaikan volatile food itu ada di Sumatera dan di Jawa. Jadi kenaikan harga cabai itu ada di Sumatera dan Jawa, maka kami gas pol di Sumatera dan Jawa,” pungkasnya.

Dengan langkah-langkah tersebut, BI menunjukkan komitmen untuk menstabilkan harga pangan melalui intervensi langsung di pasar, bukan hanya melalui kebijakan moneter. Hal ini menegaskan peran bank sentral dalam menanggapi dinamika produksi yang mempengaruhi harga konsumen sehari‑hari.

Bank IndonesiaInflasi PanganOperasi PasarSumateraJawaProduksi PetaniCuaca Ekstrem

Komentar

Memuat komentar...