AFTECH Dorong Pindar, Pinjaman Online Tumbuh 1,388 Triliun
Gambar atau konten salah?
Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) menegaskan komitmennya untuk mendukung pertumbuhan ekosistem pinjaman daring, atau pindar, yang sehat dan berdampak nyata. Organisasi ini menyoroti peran penting pinjaman online dalam menyediakan akses modal bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) yang sebelumnya tidak terjangkau layanan keuangan tradisional.
Menurut data industri, sejak penyelenggara pindar mulai beroperasi, total akumulasi penyaluran pinjaman telah melampaui Rp1.388 triliun. Lebih dari 169 juta borrower aktif telah terlayani, di antaranya sekitar 38 hingga 40 persen adalah pelaku UMKM yang mendapatkan akses pendanaan untuk pertama kalinya. Selain itu, lebih dari 90 persen borrower membayar tepat waktu sesuai perjanjian, menunjukkan tingkat kepatuhan yang tinggi di kalangan peminjam.
“Ada ketidakseimbangan narasi yang perlu dikoreksi, salah satunya tentang jutaan borrower yang berhasil tidak pernah jadi berita. Pindar adalah jembatan bagi jutaan orang tersebut, yang selama ini tidak punya rekam jejak perbankan dan kini bisa mendapatkan modal untuk tumbuh. Mereka yang meminjam untuk beli stok dagangan, bayar biaya sekolah anak, atau tambal modal saat arus kas seret dan kemudian melunasi pinjamannya tanpa masalah. Cerita mereka juga bagian dari realitas industri ini,” ujar Sekretaris Jenderal AFTECH, Firlie Ganinduto dalam keterangan resminya ditulis Kamis, 11 Juni 2026.
Firlie menambahkan bahwa AFTECH secara aktif memastikan seluruh penyelenggara pindar yang menjadi anggota AFTECH beroperasi di atas standar tata kelola yang ketat. “Kami memastikan transparan dalam biaya dan bunga sejak awal perjanjian, serta memiliki mekanisme perlindungan konsumen yang terstandar dan dapat diakses publik.”
Kepercayaan menjadi fondasi utama bagi pertumbuhan industri ini. “Kepercayaan adalah satu-satunya fondasi yang membuat industri ini bisa terus tumbuh dan relevan. AFTECH tidak hanya hadir sebagai asosiasi administratif. Kami adalah mitra aktif bagi setiap anggota dalam membangun kepercayaan itu, kepada pengguna, kepada regulator, kepada masyarakat luas,” tegasnya.
Di tingkat platform, dampak yang dirasakan borrower tidak berhenti pada angka pinjaman yang cair. Direktur Utama Easycash, Nucky Poedjiardjo, menggambarkan perubahan perilaku ekonomi di antara penggunanya. “Yang kami lihat adalah bagaimana seorang borrower yang pertama kali meminjam untuk stok dagangan kecil, dua tahun kemudian sudah punya beberapa karyawan dan mulai masuk ke ekosistem perbankan formal. Pindar bukan titik akhir perjalanan keuangan mereka, kami adalah titik masuknya. Dan itu yang membuat pekerjaan ini punya makna,” kata Nucky.
Easycash mencatat bahwa sebagian besar penggunanya berasal dari segmen yang sebelumnya tidak tersentuh layanan keuangan konvensional. Tingkat kepercayaan yang dibangun melalui pengalaman pertama yang positif menjadi modal terbesar bagi pertumbuhan jangka panjang.
Pandangan serupa disampaikan oleh Direktur PT Sahabat Mikro Fintek (Samir), Yonathan Gautama, yang platformnya juga merambah segmen produktif di luar pulau Jawa. “Ada sesuatu yang sangat kuat yang terjadi ketika seseorang yang tidak pernah dianggap layak oleh sistem keuangan formal, untuk pertama kalinya mendapatkan kepercayaan berupa modal. Kami mencatat bahwa dampak pinjaman produktif tidak berhenti pada penerima langsung, tetapi menjalar ke rantai ekonomi di sekitarnya: tenaga kerja yang terserap, pemasok lokal yang ikut tumbuh, dan perputaran uang yang semakin aktif di tingkat komunitas,” ungkap Yonathan.
AFTECH kini menaungi sembilan penyelenggara pindar aktif: Easycash, Samir, AdaKami, Amartha, Julo, Indosaku, PinjamDuit, LumbungDana, dan Danai. Masing-masing beroperasi di segmen dan wilayah yang berbeda, namun seluruhnya berada dalam satu kerangka pengawasan yang sama di bawah OJK dan komitmen bersama terhadap tata kelola yang bertanggung jawab.
AFTECH mendorong seluruh anggotanya untuk secara proaktif mempublikasikan data dampak platform masing-masing, termasuk repayment rate, jumlah UMKM yang didanai, dan laporan audit collection, sebagai bentuk transparansi nyata kepada publik. “Kami ingin masyarakat melihat pindar sebagaimana adanya: industri yang lahir dari masalah nyata, tumbuh dengan inovasi yang bertanggung jawab dan terus berkomitmen untuk melayani mereka yang paling membutuhkan akses keuangan. Masih banyak yang harus kami perbaiki, tapi cerita tentang jutaan orang yang hidupnya berubah karena pindar, cerita itu juga harus didengar,” pungkas Firlie.
Dengan data yang menunjukkan pertumbuhan pinjaman daring yang signifikan dan tingkat kepatuhan pembayaran yang tinggi, AFTECH menegaskan peran strategisnya dalam memperluas inklusi keuangan. Pindar tidak hanya menyediakan modal, tetapi juga membuka pintu bagi pelaku UMKM untuk terintegrasi ke dalam sistem keuangan formal, memperkuat rantai nilai lokal, dan meningkatkan kesejahteraan komunitas. Kepercayaan, tata kelola, dan transparansi menjadi pilar utama yang akan terus ditekankan oleh asosiasi ini untuk memastikan ekosistem pinjaman daring tetap sehat dan berkelanjutan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Goodyear Minta Perpanjangan SNI Hingga Januari 2027
Pemerintah Naik Batas Bawah Pendapatan Negara 12,01% PDB 2027
Menteri Perhubungan Tinjau Penyesuaian Tarif Penyeberangan
IHSG Tutup Merah, Turun 0,28% Jadi 5.896,03 Pasar Jakarta
Dudy: TBA Ekonomi Tidak Diubah, Fuel Surcharge Penyesuaian
Ojek Online: Potongan 20% Padahal Perpres Tetapkan 8% di Lapangan
Berita Terbaru
AFTECH Dorong Pindar, Pinjaman Online Tumbuh 1,388 Triliun
Ir. Muaz HD Meninggal, DPRD Bogor Berduka Besar, Kebijakan
Garuda Muda vs Young Socceroos: Semifinal AFF U-19 2026
Khutbah Jumat: Muharram Awal Kebangkitan Islam dan Refleksi
Mengenang Otak: Mengapa Melupakan Lebih Penting Bawah Sadar
Perang Pandan Tenganan: Tradisi Daya Tarik Wisatawan
Spanyol Siap Hadapi Piala Dunia 2026: Kuat di Grup H
