Batu Lingga Terselubung di Klaten Terungkap Aksara Asal Usul

Bayu K. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Batu Lingga Terselubung di Klaten Terungkap Aksara Asal Usul

Gambar atau konten salah?

Batu lingga ditemukan di gang buntu Dukuh Jogodayoh Lor, Desa Gumulan, Kecamatan Klaten Tengah, Klaten. Batu tersebut sudah lama terletak di sana dan asalnya tidak diketahui.

“Kata orang tua‑tua, sebelum ada masjid sudah ada batu itu. Sudah lama di situ,” kata warga sekitar, Ratno (52). 14 Juni 2026 siang, Ratno menjelaskan bahwa batu itu tidak pernah dipindahkan oleh warga atau pemilik rumah.

“Tidak ada yang merawat, ya cuma di situ. Tidak tahu batu apa,” ungkap Ratno. Ia menegaskan bahwa tidak ada upaya khusus untuk merawat lingga tersebut.

Warga lain, Sadimin (65), menambahkan bahwa di area itu terdapat masjid dan makam. “Ya masjid ini katanya kuno sama makam itu pertigaan ke kiri. Makam Wirobongso,” katanya.

Ketika ditanya, beberapa warga yang lebih tua tidak mengetahui cerita tentang batu lingga. Mereka baru saja mengetahui keberadaan batu itu.

Batu lingga terbuat dari batu andesit dan masih utuh. Bentuknya terdiri dari kotak persegi di bagian kaki, kemudian berubah menjadi silinder hingga puncak. Aksara dipahat pada bagian atas lingga dalam bentuk setengah lingkaran.

Lokasi batu berada di gang buntu antara rumah warga dan area parkir masjid Al‑Muttaqien. Lingga terguling dan tertutup beberapa kayu sebelum ditemukan.

Tim peneliti dari Dinas Kebudayaan Pemuda Olahraga dan Pariwisata Pemkab Klaten datang pada 13 Juni 2026 untuk memeriksa batu tersebut. Analis cagar budaya, Wiyan Ari Tanjung, menjelaskan proses awal.

“Kita bersama teman‑teman pegiat sejarah blusukan ke sini karena kemarin ada informasi di dekat masjid Al Muttaqien ada lingga. Setelah ada laporan hari ini kita tindak lanjuti,” teriak Wiyan Ari.

Setelah batu diangkat dan dibersihkan, Wiyan Ari melaporkan bahwa aksara sudah terlihat. “Setelah kita bersihkan ternyata ada aksaranya. Tahap awal kita dokumentasikan, kita ukur dimensi dan kita akan minta bantuan epigraf untuk membaca,” ujarnya.

Lingga memiliki tinggi 82 sentimeter dan lebar 35 sentimeter. “Bagian atas berbentuk silinder dan di bawah berbentuk persegi, berbahan batu andesit,” jelas Wiyan Ari.

Ia juga mencatat adanya potensi Yoni di tepi jalan depan masjid. “Bagian atas berbentuk silinder dan di bawah berbentuk persegi, berbahan batu andesit. Di tepi jalan depan masjid ada yang diduga Yoni posisi terpendam,” tutur Wiyan Ari.

“Kondisi tulisan atau aksara masih bagus dan terbaca. Namun untuk memastikan hurufnya jenis apa, tahunnya berapa, isinya prasasti, mantra atau apa kita akan berkoordinasi dengan epigraf,” ujarnya.

Dengan data yang telah dikumpulkan, langkah selanjutnya adalah meminta bantuan epigraf untuk membaca dan menafsirkan aksara. Hasilnya akan memberikan gambaran tentang asal-usul dan fungsi batu lingga ini.

Batu linggaKlatenBatu andesitMasjid Al‑MuttaqienEpigrafAksaraCagar budaya

Komentar

Memuat komentar...