Minuman Probiotik Gula Tinggi: Keseimbangan Usus vs Diabetes

Agus P. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Minuman Probiotik Gula Tinggi: Keseimbangan Usus vs Diabetes

Gambar atau konten salah?

Probiotik telah lama dikenal sebagai mikroorganisme hidup yang memberi manfaat bagi kesehatan bila dikonsumsi dalam jumlah yang cukup. Banyak penelitian menunjukkan bahwa probiotik dapat membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus, yang berperan penting dalam pencernaan, sistem kekebalan tubuh, dan metabolisme.

Popularitas probiotik mendorong munculnya berbagai minuman dan makanan yang mengklaim mengandung mikroorganisme ini. Label probiotik sering dianggap pilihan lebih sehat dibandingkan minuman manis biasa. Namun, di balik klaim tersebut ada satu hal yang juga perlu diperhatikan: kandungan gula.

Di beberapa produk minuman probiotik yang populer di pasaran, gula dapat mencapai sekitar 12 hingga 20 gram per 100 ml. Kondisi ini menimbulkan dilema. Di satu sisi, probiotik berpotensi mendukung kesehatan usus. Di sisi lain, konsumsi gula berlebih tetap terkait dengan peningkatan risiko gangguan metabolik, termasuk diabetes.

Dr. Dicky Levenus Tahapary, SpPD-KEMD, PhD, seorang dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan endokrin, metabolik, serta diabetes, mengingatkan bahwa minuman probiotik tinggi gula tetap meningkatkan risiko diabetes. “Meningkatkan risiko sih. Kita ada penelitiannya, komposisi minuman‑minuman manis itu ya, meningkatkan risiko diabetes lebih tinggi,” ujarnya saat ditemui di Jakarta Pusat, Kamis 11 Juni 2026.

Karena itu, konsumen perlu berhati-hati terhadap fenomena health halo effect, yaitu kecenderungan menilai suatu produk sehat hanya berdasarkan satu keunggulannya. Pada produk probiotik, manfaat bagi pencernaan sering menjadi fokus utama, sehingga kandungan gula yang tinggi menjadi kurang diperhatikan. Padahal, manfaat probiotik dan kandungan gula merupakan dua informasi yang harus dipertimbangkan secara bersamaan.

Salah satu alasan yang sering dikemukakan untuk tingginya gula pada produk probiotik adalah sebagai sumber energi bagi bakteri selama proses fermentasi. Prof. Dra Wellyzar Sjamsuridzal, M.Sc., PhD, Guru Besar Mikrobiologi Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa gula memang dibutuhkan sebagai energi bagi bakteri selama fermentasi berlangsung. Studi fermentasi menunjukkan bahwa konsentrasi gula sekitar 4 hingga 6 persen umumnya sudah cukup untuk menjaga viabilitas bakteri dan menghasilkan fermentasi yang optimal.

Viabilitas sendiri merujuk pada kemampuan bakteri tetap hidup sejak proses produksi hingga dikonsumsi. Menurut definisi FAO dan WHO, probiotik hanya dapat memberi manfaat bila dikonsumsi dalam keadaan hidup dan jumlah yang memadai.

Namun, kadar gula yang tercantum pada label produk jadi tidak selalu mencerminkan kebutuhan bakteri tersebut. Prof. Wellyzar menambahkan bahwa sebagian produk minuman susu fermentasi dapat memperoleh tambahan gula setelah proses fermentasi selesai. “Ada produk minuman susu fermentasi yang mendapat penambahan gula pasca proses fermentasi untuk menyeimbangkan rasa asam yang dihasilkan,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa produk probiotik pada akhirnya tetap harus dapat diterima konsumen dari sisi cita rasa. “Ketika probiotik dihantarkan ke dalam pencernaan dalam bentuk makanan, maka rasa produk tersebut harus dapat diterima oleh yang mengonsumsinya.” Artinya, tidak semua gula dalam produk probiotik digunakan oleh bakteri selama fermentasi. Sebagian gula dapat ditambahkan untuk membantu menciptakan rasa yang disukai konsumen.

Di sinilah letak dilema produk probiotik tinggi gula. Di satu sisi, konsumen dapat memperoleh manfaat dari bakteri probiotik yang terkandung. Di sisi lain, tubuh tetap menerima asupan gula yang perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari pola makan sehari‑harinya.

Gula yang berasal dari minuman probiotik tetap akan diproses tubuh seperti gula dari minuman manis lainnya. Jika dikonsumsi secara berlebihan dan berlangsung dalam jangka panjang, asupan gula tinggi dapat berkontribusi pada peningkatan berat badan, resistensi insulin, dan risiko diabetes.

Oleh karena itu, produk probiotik tinggi gula menghadirkan dua sisi yang perlu dilihat secara bersamaan. Manfaat probiotik bagi kesehatan usus memang nyata dan didukung oleh berbagai penelitian. Namun, kandungan gula yang tinggi juga tetap membawa konsekuensi kesehatan yang tidak bisa diabaikan.

Keputusan mengonsumsi produk probiotik sebaiknya tidak hanya didasarkan pada manfaat yang ditawarkan, tetapi juga mempertimbangkan kandungan gula dan profil gizi secara keseluruhan. Membaca label informasi gizi dan memperhatikan jumlah gula per sajian dapat membantu konsumen memperoleh manfaat probiotik tanpa menambah asupan gula secara berlebihan.

Dengan memahami bahwa gula dalam produk probiotik dapat berasal dari dua sumber—energi bagi bakteri dan penambah rasa—konsumen dapat membuat pilihan yang lebih bijaksana. Memilih produk dengan kandungan gula lebih rendah atau yang menonjolkan manfaat probiotik tanpa menambah gula secara berlebihan dapat menjadi strategi yang lebih sehat. Sehingga, manfaat probiotik dapat dinikmati tanpa menimbulkan risiko kesehatan yang tidak perlu.

Komentar

Memuat komentar...