Berita 1 Muharram: Tahun Baru Hijriah, Makna dan Keutamaan

Sinta R. · 5 min baca · 1 hari lalu · 8 dibaca
Bisik.id
Berita 1 Muharram: Tahun Baru Hijriah, Makna dan Keutamaan

Gambar atau konten salah?

1 Muharram menandai awal tahun Hijriah bagi umat Islam di seluruh dunia. Momen ini bukan sekadar pergantian angka pada kalender; ia membawa nilai sejarah, spiritual, dan pelajaran hidup yang tetap relevan.

Keistimewaan 1 Muharram tidak hanya karena menjadi awal tahun, tetapi juga karena berada di bulan Muḥarram, salah satu bulan paling mulia dalam Islam. Umat dianjurkan memperbanyak amal kebaikan pada bulan ini karena banyak keutamaan yang terkandung di dalamnya.

Kalender Hijriah pertama kali digunakan pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA. Penanggalan ini didasarkan pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, peristiwa penting dalam perkembangan Islam. Setiap datangnya 1 Muharram menjadi pengingat semangat hijrah, yang mengajarkan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Hijrah juga simbol perjuangan, pengorbanan, kesabaran, dan keberanian dalam mempertahankan keimanan. Dari peristiwa tersebut, umat belajar bahwa perubahan menuju kebaikan sering memerlukan proses, usaha, dan keteguhan hati.

Karena itu, banyak ulama memaknai Tahun Baru Islam sebagai momentum untuk melakukan evaluasi diri sekaligus memperbaiki kualitas ibadah dan akhlak di tahun yang baru.

Berikut keutamaan bulan Muḥarram yang sering disebut:

  1. Termasuk Salah Satu Bulan Haram
  2. Bulan Allah SWT
  3. Bulan yang Paling Utama
  4. Bulan Penting bagi Para Nabi
  5. Terdapat Hari Asyura
  6. Pahala Dilipatgandakan
  7. Dosa Dilipatgandakan

1. Termasuk Salah Satu Bulan Haram

Bulan Muḥarram termasuk salah satu dari Asyhurul Hurum, bulan-bulan haram yang dimuliakan dalam Islam. Bulan ini bahkan disebutkan telah dimuliakan sebelum datangnya Islam. Keutamaan Muḥarram sebagai bulan mulia tersirat dalam firman Allah SWT berikut:

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗ

Artinya: Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauh Mahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram… (at‑Taubah: 36)

Rasulullah SAW turut menjelaskan bahwa dalam satu tahun terdapat empat bulan haram yang memiliki kedudukan istimewa. Tiga di antaranya berlangsung secara berurutan, yaitu Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Muḥarram.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya, zaman berputar sebagaimana ketika Allah menciptakan langit dan Bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci), tiga bulan berurutan, yakni Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Muḥarram, kemudian bulan Rajab suku Mudhar, antara Jumadil Tsani (Jumadil Akhir) dan Sya'ban.” (HR Bukhari dan Muslim)

2. Bulan Allah SWT

Menurut al‑Zamakhsyari, yang dinukil dari Faidh al‑Qadir karya Abd al‑Ra'uf al‑Munawi, bulan Muḥarram disebut sebagai syahrullah atau bulan Allah. Penyandaran nama bulan ini kepada lafaz Allah menunjukkan kemuliaan dan keagungannya di sisi-Nya.

“Bulan Muḥarram ini disebut syahrullah (bulan Allah), disandarkan pada lafazh jalalah ‘Allah’ untuk menunjukkan mulia dan agungnya bulan tersebut, sebagaimana pula kita menyebut ‘Baitullah’ (rumah Allah) atau ‘Ahlullah’ (keluarga Allah) ketika menyebut Quraisy.”

Penyebutan khusus tersebut menunjukkan bahwa Muḥarram memiliki kedudukan yang istimewa dibandingkan bulan-bulan lainnya. Tidak ada bulan lain yang secara khusus dinisbatkan kepada Allah sebagaimana Muḥarram.

Rasulullah SAW dalam sabdanya pun menyebut Muḥarram sebagai bulan Allah. Hal itu disebutkan dalam sebuah riwayat dari Abu Zar RA berikut:

“Aku bertanya kepada Rasulullah SAW: ‘Malam apakah yang lebih baik dan bulan apakah yang lebih utama?’ Beliau menjawab: ‘Sebaik‑baik malam adalah pertengahannya. Bulan yang paling utama adalah bulan Allah yang kalian sebut Muḥarram.’” (HR An‑Nasai)

3. Bulan yang Paling Utama

Keutamaan selanjutnya adalah Muḥarram sebagai bulan yang paling utama di antara empat bulan haram dalam Islam. Tiga bulan haram lainnya ialah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Rajab.

Mayoritas ulama berpendapat Muḥarram memiliki kedudukan yang lebih utama dibandingkan bulan-bulan haram lainnya. Pendapat ini di antaranya dikemukakan oleh Al‑Hasan dan sejumlah ulama lainnya. Pendapat ini didasarkan pada sebuah riwayat, di mana Rasulullah SAW bersabda:

“Sholat yang paling utama setelah sholat fardu adalah sholat di tengah‑tengah malam, dan bulan yang paling utama setelah bulan Ramadhan adalah bulan Muḥarram, dan ia adalah bulan Allah yang tuli.” (HR al‑Baihaqi)

4. Bulan Penting bagi Para Nabi

Muḥarram juga dikenal sebagai bulan yang memiliki makna penting dalam sejarah para nabi. Sejumlah peristiwa besar yang berkaitan dengan para utusan Allah diyakini terjadi pada bulan ini. Berikut beberapa peristiwa penting yang dialami para nabi pada bulan Muḥarram:

  • Nabi Adam AS: Diterima taubatnya setelah diturunkan dari surga
  • Nabi Idris AS: Diangkat ke tempat yang tinggi
  • Nabi Nuh AS: Diturunkan dari kapal setelah banjir bandang
  • Nabi Ibrahim AS: Diselamatkan dari bakaran apinya raja Namrud
  • Nabi Musa AS: Diturunkan kitab Taurat
  • Nabi Yusuf AS: Dikeluarkan dari penjara
  • Nabi Ya'qub AS: Disembuhkan kebutaannya dari wasilah pakaiannya
  • Nabi Yusuf AS: (duplikat, mungkin kesalahan penulisan)
  • Nabi Ayyub AS: Disembuhkan dari sakit kulit yang berkepanjangan
  • Nabi Yunus AS: Dikeluarkan dari perut ikan Nun
  • Nabi Musa AS dan Bani Israil: Disibakkan lautan untuk melarikan diri dari kejaran raja Fir'aun Mesir yang kejam
  • Nabi Dawud AS: Diampuni kesalahannya
  • Nabi Sulaiman AS: Diberi kekuasaan berupa kerajaan
  • Nabi Isa AS: Diangkat ke langit setelah dikepung bangsa Romawi
  • Nabi Muhammad SAW: Diampuni kesalahan yang telah lewat dan yang akan datang

5. Terdapat Hari Asyura

Keutamaan bulan Muḥarram berikutnya adalah adanya Hari Asyura yang diperingati setiap 10 Muharram. Hari istimewa ini bahkan disebut sebagai hari‑hari Allah SWT. Hal tersebut sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

إِنَّ عَاشُورَاءَ يَوْمٌ مِنْ أَيَّامِ الهِ

Artinya: Sesungguhnya Asyura merupakan hari diantara hari‑hari Allah. (HR Muslim)

Hari Asyura juga dikenal sebagai hari yang menyimpan banyak peristiwa penting dalam sejarah para nabi. Pada hari ini, Allah SWT menunjukkan pertolongan dan kemenangan kepada hamba‑hamba‑nya yang beriman. Kisah tersebut dijelaskan dalam hadis berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الله عَنْهُمَا ، قَالَ: قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المَدِينَةَ فَرَأَى اليَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، فَقَالَ: «مَا هَذَا؟»، قَالُوا: هَذَا يَوْمٌ صَالِحُ هذَا يَوْمٌ نَجَّى الله بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدْوَهِمْ، فَصَامَهُ مُوسَى، قَالَ: «فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ، فَصَامَهُ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Artinya: Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma berkata: “Nabi SAW tiba di Madinah, maka beliau melihat orang‑orang Yahudi berpuasa Hari ‘Asyura. Beliau bertanya kepada mereka: ‘Ada apa ini?’ Mereka menjawab, ‘Ini adalah hari yang baik. Pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka. Maka Nabi Musa berpuasa pada hari ini.’ Nabi SAW bersabda, ‘Saya lebih layak dengan nabi Musa dibandingkan kalian.’ Maka beliau berpuasa ‘Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa ‘Asyura.” (HR Bukhari)

6. Pahala Dilipatgandakan

Setiap muslim yang memperbanyak amal saleh pada bulan Muḥarram diyakini akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. Sebagaimana hadis Rasulullah SAW yang menunjukkan kemuliaan bulan Muḥarram:

Maka sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian semua haram (mulia) atas kalian seperti mulianya hari ini, di negeri ini, dan di bulan ini. Dan sesungguhnya kalian akan menghadap Tuhanmu sekalian dan Dia akan bertanya kepada kalian tentang amal perbuatkan kalian.” (HR Bukhari dan Muslim)

7. Dosa Dilipatgandakan

Selain pahala yang dilipatgandakan, dosa yang dilakukan pada bulan haram juga akan dilipatgandakan. Oleh karena itu, umat Islam untuk lebih berhati‑hati dan menjaga diri dari perbuatan dosa maupun perbuatan yang dilarang.

Penjelasan tersebut dijelaskan dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir, yang di dalamnya dijelaskan bahwa kemuliaan bulan haram berlaku untuk pahala maupun dosa yang dilakukan di dalamnya.

“Allah SWT mengkhususkan empat bulan haram dari 12 bulan yang ada, bahkan menjadikannya mulia dan istimewa, juga melipatgandakan perbuatan dosa disamping melipatgandakan perbuatan baik.” (irb/hil)

Dengan memahami keutamaan bulan Muḥarram, umat Islam dapat memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperbaiki akhlak, dan memperbanyak amal saleh. Bulan ini menegaskan kembali pentingnya kesabaran, pengorbanan, dan keteguhan hati dalam menegakkan keimanan. Pada saat yang sama, ia mengingatkan akan konsekuensi dosa yang lebih berat jika tidak dihindari. Semua ini menjadikan 1 Muharram sebagai titik awal yang penuh makna bagi setiap muslim.

1 MuharramBulan MuḥarramHari AsyuraKeutamaan bulan haramPahala dilipatgandakanDosa dilipatgandakanHijrah

Komentar

Memuat komentar...