BGN Sambungkan CCTV Dapur MBG ke Pusat

Sari D. · 2 min baca · 40 menit lalu · 15 dibaca
Bisik.id
BGN Sambungkan CCTV Dapur MBG ke Pusat

Gambar atau konten salah?

Badan Gizi Nasional (BGN) punya rencana baru. Mereka ingin semua dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) terhubung ke kamera pengawas pusat. Bukan kamera baru, melainkan kamera yang sudah ada di setiap dapur. Tujuannya jelas: memantau proses produksi makanan dari jauh.

Kepala BGN, Sudaryono, menjelaskan soal ini dalam konferensi pers di kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, pada Senin, 19 Oktober 2026. Ia bilang, setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG sebenarnya sudah punya CCTV. Hanya saja, selama ini kamera-kamera itu hanya bisa dilihat oleh orang dalam dapur masing-masing. Tidak terhubung ke mana-mana.

"Jadi semua dapur itu sudah punya CCTV, hanya CCTV-nya belum (terintegrasi), hanya dikonsumsi oleh internal dari dapur itu," kata Sudaryono.

Sekarang BGN sedang menjajaki sesuatu. Sekitar 70 dapur sedang dalam tahap uji coba. CCTV di dapur-dapur itu akan ditarik sambungannya ke pusat kendali di Jakarta. Bukan sekadar ditarik, tapi juga akan dilengkapi dengan kecerdasan buatan atau AI. Dengan AI, BGN bisa memonitor Standar Operasional Prosedur (SOP) secara langsung, real-time.

"Sehingga kami sedang piloting ada sekitar 70-an dapur yang kita piloting untuk CCTV-nya kita tarik ke pusat, kita kasih artificial intelligence sehingga kita bisa memonitor SOP," jelasnya.

Apa saja yang akan dipantau? Cukup banyak. Mulai dari persiapan bahan baku, pengolahan makanan, sampai proses pencucian perlengkapan makan seperti ompreng. Semua tahapan operasional akan diawasi ketat. Harapannya, kelalaian atau ketidakpatuhan tenaga kerja di lapangan bisa dicegah.

Sudaryono menegaskan satu hal penting: kebijakan ini tidak akan membebani anggaran negara. Kenapa? Karena BGN tidak akan membeli CCTV baru. Tidak ada pengadaan alat besar-besaran yang bisa menghabiskan miliaran rupiah.

"Kalau yang lalu itu kan ada anggaran yang bombastis kemudian jadi temuan dan lain sebagainya. Tapi di sini kami berusaha untuk sebisa mungkin itu kita tidak membeli atau melakukan pengadaan untuk misalnya beli CCTV 90.000, nggak ada. Jadi kami berusaha bagaimana mengkoneksi saja," tegas Sudaryono.

Ia juga mengingatkan soal risiko pengadaan alat. Menurutnya, selain menghabiskan banyak uang, pengadaan alat baru rawan disalahgunakan oknum. Bisa berujung pada kasus korupsi seperti yang sudah-sudah. Makanya, BGN memilih jalan yang lebih hemat: menghubungkan CCTV yang sudah ada.

"Jadi CCTV yang sudah ada di setiap dapur itu kemudian bagaimana kita koneksikan saja. Jadi insyaAllah sih tidak akan ada pengadaan yang bombastis kayak yang lalu-lalu sampai ratusan miliar dan lain sebagainya, nggak akan ada," tegasnya.

Artinya, setiap dapur MBG sudah punya fasilitas pengawasan sendiri. Tugas BGN sekarang hanya menyambungkan semuanya ke pusat. Dengan begitu, pemerintah pusat, terutama BGN, bisa mengawasi langsung proses produksi makanan dari Jakarta.

Program ini masih dalam tahap uji coba. Baru sekitar 70 dapur yang terlibat. Tapi jika berhasil, bukan tidak mungkin akan diperluas ke semua dapur MBG di seluruh Indonesia. Yang jelas, BGN berusaha keras agar program ini berjalan transparan dan efisien, tanpa membuang anggaran negara untuk hal-hal yang sebenarnya sudah ada.

Badan Gizi NasionalMakan Bergizi GratisCCTVkecerdasan buatanpemantauan jarak jauhdapur MBGpengawasan real-time

Komentar

Memuat komentar...