BMKG Prediksi Awal Kering 2026: 39,7% Wilayah Terpengaruh

Cahyo S. · 4 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
BMKG Prediksi Awal Kering 2026: 39,7% Wilayah Terpengaruh

Gambar atau konten salah?

BMKG baru saja merilis prediksi iklim untuk tahun 2026, termasuk perkiraan musim kemarau di seluruh Indonesia. Data ini menunjukkan bahwa sebagian wilayah sudah mengalami musim kemarau sejak bulan Mei, sementara wilayah lain diperkirakan akan menyusul dalam beberapa bulan ke depan.

Menurut pemutakhiran tersebut, 308 zona musim atau 39,7 persen luas wilayah Indonesia diprediksi akan mengalami kemarau lebih cepat dari biasanya. 165 zona musim (17,03 persen) diperkirakan akan berlangsung normal, sedangkan 113 zona musim (9,52 persen) diprediksi akan mengalami kemunduran awal musim kemarau.

“Sebanyak 308 zona musim atau 39,7 persen luas wilayah Indonesia diprediksi mengalami awal kemarau yang lebih maju dari biasanya. Adapun 165 zona musim (17,03 persen) diperkirakan berlangsung normal, sedangkan 113 zona musim (9,52 persen) diprediksi mengalami kemunduran awal musim kemarau,” kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, dikutip dari laman Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Kamis (11 Juni 2026).

BMKG menilai bahwa awal musim kemarau tahun ini cenderung lebih awal dibandingkan rata-rata klimatologis periode 1991‑2020. Hal ini disebabkan oleh perubahan pola iklim global yang mempengaruhi sirkulasi udara di wilayah tropis.

Prediksi musim kemarau 2026 diperkirakan berlangsung hingga awal tahun 2027. Faktor utama yang mempengaruhi durasi ini adalah fenomena El Nino, yang diprediksi mulai berkembang dan bertahan hingga awal tahun 2027. “Anomali suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur telah melewati batas netral selama lima dasarian. BMKG memprediksi fenomena El Nino akan segera aktif dan terus bertahan hingga awal tahun 2027,” ujar Ardhasena.

Model iklim terbaru menunjukkan peluang El Nino berkembang menjadi kategori moderat mencapai 98 persen, dan peluang meningkat menjadi kategori kuat sebesar 62 persen. Kondisi ini diperkirakan akan membuat musim kemarau lebih kering dibandingkan kondisi normal di sebagian besar wilayah Indonesia.

Selain El Nino, BMKG juga memantau potensi terjadinya fenomena IOD positif di Samudra Hindia pada periode Juli hingga November 2026. Kombinasi kedua fenomena tersebut berpotensi memperkuat kondisi kering di sejumlah wilayah.

BMKG memprediksi puncak musim kemarau akan terjadi pada bulan Juli hingga September 2026. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa puncak kemarau pada bulan Juli mencakup 93 Zona Musim (ZOM) atau 12,26 persen luas daratan Indonesia. Pada bulan Agustus, puncak kemarau akan meluas ke 369 ZOM (48,84 persen luas daratan), dan pada September, puncak kemarau akan menempati 169 ZOM (25,41 persen luas daratan).

Ardhasena menambahkan, berdasarkan pemantauan BMKG hingga akhir Mei 2026, sebanyak 200 ZOM (11,83 persen luas daratan) sudah memasuki musim kemarau. Wilayah yang telah mengalami kemarau meliputi sebagian Sumatra, sebagian Jawa, sebagian besar Nusa Tenggara, Kalimantan Tengah bagian timur, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku, dan sebagian Papua.

Selanjutnya, 198 ZOM (31,60 persen luas daratan) wilayah diprediksi akan mengalami kemarau pada bulan Juni. Daerah yang termasuk dalam kategori ini meliputi sebagian besar Sumatra, Kalimantan Barat, sebagian besar Banten, DKI Jakarta bagian selatan, Jawa Tengah bagian tengah dan barat, sebagian kecil Jawa Timur, Kalimantan Barat bagian selatan, sebagian besar Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan bagian tengah, sebagian besar Kalimantan Timur, serta sebagian Sulawesi, Maluku, Papua Barat, dan Papua bagian timur.

Di sisi lain, 66 ZOM (7,28 persen wilayah Indonesia) akan memasuki kemarau mulai bulan Juli. Wilayah yang termasuk di sini antara lain Jambi bagian barat, sebagian Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan bagian timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku Utara, dan sebagian Maluku.

Berikut jadwal puncak musim kemarau 2026 di berbagai wilayah Indonesia, berdasarkan pemaparan kepala BMKG:

  • Juli
    • Sumatera
    • Sebagian kecil Kalimantan
    • Sebagian kecil Jawa
    • NTT bagian selatan
    • Sulawesi Barat bagian utara
    • Sulawesi Tengah bagian barat
    • Sebagian kecil Maluku
    • Papua Barat Daya bagian selatan
    • Papua Barat bagian tengah
    • Papua bagian timur
  • Agustus
    • Sumatera bagian tengah
    • Sebagian besar Jawa
    • Bali
    • NTB
    • Sebagian NTTS
    • Sebagian besar Kalimantan
    • Sebagian Sulawesi
    • Sebagian Maluku
    • Maluku Utara
    • Sebagian besar Pulau Papua
  • September
    • Kepulauan Bangka Belitung
    • Sebagian besar Sumatera Selatan
    • Lampung
    • Sebagian kecil Jawa
    • Sebagian besar NTT
    • Kalimantan bagian selatan
    • Sebagian besar Sulawesi
    • Sebagian besar Maluku Utara
    • Sebagian Maluku
    • Papua Pegunungan bagian tengah

Informasi ini penting bagi masyarakat dan sektor-sektor yang terdampak, seperti pertanian, perikanan, dan perumahan. Mengetahui kapan wilayah akan memasuki puncak kemarau membantu pihak berwenang dan warga mempersiapkan pasokan air, mengatur irigasi, serta menyiapkan langkah-langkah mitigasi kebakaran hutan.

Dengan prediksi ini, pemerintah daerah diharapkan dapat menyesuaikan kebijakan pengelolaan sumber daya alam dan perencanaan pembangunan, sehingga dampak musim kemarau dapat diminimalkan. Sementara itu, masyarakat disarankan untuk menjaga kebersihan lingkungan, meminimalkan penggunaan air, dan mengikuti arahan BMKG terkait kondisi cuaca.

Data ini menegaskan bahwa pola iklim global terus berubah, memaksa Indonesia untuk lebih proaktif dalam mengelola risiko iklim. Pengenalan zona musim dan pemantauan fenomena El Nino serta IOD menjadi alat penting dalam mempersiapkan diri menghadapi musim kemarau yang lebih panjang dan kering di masa depan.

BMKGEl NinoIODmusim kemarau 2026zona musimirigasimitigasi kebakaran hutan

Komentar

Memuat komentar...