BNI Raup Laba Rp16,1 Triliun hingga Kuartal III 2026

Arif S. · 4 min baca · 1 jam lalu · 25 dibaca
Bisik.id
BNI Raup Laba Rp16,1 Triliun hingga Kuartal III 2026

Gambar atau konten salah?

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, yang dikenal dengan nama BNI, melaporkan laba bersih sebesar Rp 16,1 triliun. Angka ini naik 6,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Selain itu, laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) mencapai Rp 27,5 triliun hingga kuartal III-2026. Pertumbuhan PPOP tercatat 11,6% secara tahunan.

Pencapaian ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah BNI untuk periode kuartal ketiga. Ini menunjukkan ketahanan fundamental perusahaan di tengah tekanan ekonomi global dan persaingan ketat di industri perbankan.

Kinerja positif ini didorong oleh pertumbuhan kredit yang mencapai 22,2% secara tahunan, menjadi Rp 992,5 triliun. Distribusi kredit merata di semua segmen. Dana murah atau current account savings account (CASA) juga tumbuh 19,6% menjadi Rp 733,7 triliun. Sementara itu, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross membaik menjadi 1,9%.

Di tengah dinamika ekonomi global, Bank Indonesia (BI) terus memperkuat kebijakan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 20-21 Oktober 2026, BI mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75% serta memutuskan penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) secara bertahap mulai November 2026. Kebijakan tersebut diharapkan dapat memperkuat likuiditas perbankan dan mendukung penyaluran kredit ke sektor produktif.

Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, capaian tersebut mencerminkan konsistensi perseroan dalam menjaga pertumbuhan bisnis yang berkualitas melalui penguatan fundamental dan pengelolaan risiko.

"Di tengah dinamika pasar yang menantang, BNI tetap menjaga momentum pertumbuhan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan disiplin dalam pengelolaan risiko. Fokus kami adalah memperkuat fundamental dan produktivitas untuk menciptakan pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan," ujar Putrama dalam keterangan tertulis, Selasa (27 Oktober 2026).

Pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) BNI tumbuh 13,6% secara tahunan menjadi Rp 33,2 triliun. Sementara itu, fee-based income meningkat 8,3% menjadi Rp 13,9 triliun.

Pengembangan layanan digital dan jaringan cabang terus mendukung pertumbuhan bisnis BNI. Hingga September 2026, jumlah pengguna wondr by BNI mencapai 16,6 juta, tumbuh 58% secara tahunan. Nilai transaksi mencapai Rp 1.774 triliun, meningkat 25% secara tahunan. Sementara itu, BNIdirect mencatat nilai transaksi Rp 9.324 triliun, tumbuh 16% secara tahunan. Jumlah pengguna BNIdirect mencapai 293 ribu, meningkat 19% secara tahunan.

Penguatan layanan tersebut didukung transformasi jaringan melalui inisiatif BRAVE (Branch, Region & Area Value Empowerment) untuk meningkatkan produktivitas cabang, aktivitas transaksi, serta penghimpunan dana murah.

"Integrasi layanan digital dan jaringan cabang memungkinkan BNI memperluas jangkauan layanan, meningkatkan transaksi, sekaligus memperkuat hubungan dengan nasabah di berbagai segmen," tambah Putrama.

Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menjelaskan, ekspansi kredit dilakukan secara selektif pada semua segmen. Pihaknya menerapkan standar analisis kelayakan kredit (underwriting) yang disiplin. Strategi tersebut mendorong pangsa pasar kredit BNI meningkat 113 basis poin secara tahunan menjadi 10,6%.

Dari sisi pendanaan, penguatan layanan perbankan transaksi melalui BNIdirect dan wondr by BNI turut mendorong pertumbuhan CASA sebesar 19,6% secara tahunan menjadi Rp 733,7 triliun. Hingga September 2026, giro BNI tumbuh 25,9% secara tahunan. Angka ini melampaui pertumbuhan industri sebesar 9,8% berdasarkan data Agustus 2026. Pangsa pasar giro meningkat 120 basis poin menjadi 13,2%. Sementara itu, pangsa pasar tabungan naik 10 basis poin menjadi 9,2%, didukung pertumbuhan tabungan BNI sebesar 11,6% secara tahunan.

Di tengah tekanan margin industri, net interest margin (NIM) BNI turun 30 basis poin menjadi 3,5%. Penurunan ini sejalan dengan penurunan NIM industri. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi penyesuaian imbal hasil kredit (loan yield) dari 7,3% menjadi 6,9%. Sementara itu, biaya dana atau cost of fund (CoF) relatif terkendali, dari 2,83% menjadi 2,77%. Hal ini didukung pertumbuhan CASA yang kuat.

"Pertumbuhan kredit yang selektif dan penguatan dana murah menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan profitabilitas. Kami terus mengoptimalkan struktur pendanaan agar pertumbuhan tetap sehat dan berkelanjutan," tutur Paolo.

Direktur Risk Management BNI David Pirzada menambahkan, kualitas aset terus membaik. Hal ini tercermin dari penurunan rasio loan at risk (LaR) dari 10,4% menjadi 7,8% dan NPL gross dari 2,0% menjadi 1,9%.

Sebagai bagian dari penerapan prinsip kehati-hatian, BNI menjaga rasio total pencadangan terhadap kredit sebesar 3,8%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan industri sebesar 3,5%. Sementara itu, NPL coverage ratio tercatat sebesar 193,3%. Ini mencerminkan kecukupan pencadangan dalam mengantisipasi potensi risiko.

"Pengelolaan risiko dilakukan sejak penetapan sektor prioritas, analisis kelayakan debitur, hingga pemantauan pascapenyaluran kredit, didukung sistem peringatan dini yang terus diperkuat," ujar David.

BNI memiliki fondasi likuiditas dan permodalan yang kuat untuk melanjutkan pertumbuhan bisnis. Hal ini tercermin dari loan to deposit ratio (LDR) sebesar 87,9%, Liquidity Coverage Ratio (LCR) sebesar 143,4%, dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) sebesar 128,4%. Sementara itu, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 19,2%. Angka ini berada di atas ketentuan minimum, memberikan ruang bagi perseroan untuk mendukung ekspansi bisnis sekaligus mengantisipasi potensi risiko.

Penguatan fundamental dan transformasi bisnis BNI juga sejalan dengan agenda transformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bawah koordinasi Danantara Indonesia. Arahan ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas, daya saing, serta penciptaan nilai jangka panjang bagi perusahaan dan perekonomian nasional.

Melalui penguatan bisnis inti, pengembangan layanan digital, dan penerapan tata kelola perusahaan yang baik, BNI terus berupaya meningkatkan kontribusinya dalam mendukung pembiayaan sektor produktif dan pembangunan nasional. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya perseroan untuk menciptakan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan.

Memasuki kuartal IV-2026, BNI akan melanjutkan penguatan pendanaan berbasis transaksi, pertumbuhan kredit yang selektif, pengelolaan risiko yang disiplin, serta transformasi digital dan jaringan. Semua ini dilakukan guna mendukung pembiayaan sektor produktif dan pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.

Secara keseluruhan, laporan keuangan BNI hingga kuartal III-2026 menunjukkan pertumbuhan di berbagai lini bisnis. Pertumbuhan kredit yang selektif, penguatan dana murah, dan pengelolaan risiko yang disiplin menjadi kunci utama. Meskipun ada tekanan pada margin bunga, BNI berhasil menjaga biaya dana tetap terkendali. Pengembangan layanan digital juga memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan transaksi dan jumlah nasabah. Dengan fundamental yang kuat, BNI memiliki modal untuk melanjutkan ekspansi bisnis sambil tetap berhati-hati dalam mengelola risiko.

laba BNIpertumbuhan kreditdana murah CASApengelolaan risikolayanan digitalkualitas asetekspansi bisnis

Komentar

Memuat komentar...