BPBD Petakan 8 Kabupaten Rawan Kekeringan di Bengkulu
Gambar atau konten salah?
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bengkulu telah menyusun peta wilayah rawan kekeringan. Pemetaan ini dilakukan berdasarkan prediksi cuaca dan pengalaman tahun-tahun sebelumnya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Bengkulu memperkirakan puncak musim kemarau di Provinsi Bengkulu akan berlangsung pada Juli 2026. Data dari peta prediksi BMKG menunjukkan sekitar 66,7 persen wilayah atau 12 Zona Musim (ZOM) akan mengalami puncak kemarau di bulan tersebut. Sisanya, 33,3 persen wilayah, diprediksi mencapai puncak kemarau pada Agustus 2026.
Durasi musim kemarau di Bengkulu diperkirakan berlangsung selama 7 hingga 9 dasarian. Itu setara dengan sekitar dua hingga tiga bulan di sebagian besar wilayah provinsi.
Daerah yang masuk dalam zona rawan kekeringan meliputi Kabupaten Seluma, Bengkulu Selatan, Kaur, Bengkulu Utara, Mukomuko, Lebong, Rejang Lebong, dan sebagian wilayah Kepahiang.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Provinsi Bengkulu Khristian Hermansyah menyatakan pihaknya sudah melakukan pemetaan terhadap daerah-daerah yang berpotensi mengalami kekeringan saat musim kemarau berlangsung.
"Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya serta mengacu pada prediksi BMKG, daerah yang perlu menjadi perhatian terhadap potensi kekeringan antara lain Kabupaten Seluma, Bengkulu Selatan, Kaur, Bengkulu Utara, Mukomuko, Lebong, Rejang Lebong, dan sebagian wilayah Kepahiang. Kami terus berkoordinasi dengan BPBD kabupaten/kota untuk memantau perkembangan kondisi di lapangan," katanya pada Selasa, 14 Juli 2026.
Menurutnya, dampak kekeringan biasanya terasa pada berkurangnya debit sumber air bersih. Kebutuhan air masyarakat pun terganggu. Sektor pertanian yang mengandalkan curah hujan juga ikut terdampak.
Khristian mengimbau pemerintah daerah untuk menyiapkan langkah antisipasi sejak dini. Salah satunya memastikan ketersediaan pasokan air bersih apabila terjadi kekeringan berkepanjangan.
Dia juga mengingatkan masyarakat agar menggunakan air secara bijak selama musim kemarau. Selain itu, kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) perlu ditingkatkan.
"Kami mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan air bersih, tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan, serta segera melaporkan kepada pemerintah setempat apabila mulai terjadi kesulitan mendapatkan air bersih. Upaya pencegahan sejak dini akan jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah bencana terjadi," jelasnya.
Khristian mengatakan pihaknya akan terus memantau perkembangan informasi cuaca dan iklim dari BMKG. Langkah-langkah penanganan juga disiapkan apabila dampak musim kemarau menyebabkan kekeringan di sejumlah daerah.
Masyarakat diminta mengikuti informasi resmi dari BMKG dan BPBD sebagai acuan dalam menghadapi musim kemarau 2026.
Berdasarkan data yang ada, delapan kabupaten di Bengkulu masuk dalam daftar daerah rawan kekeringan. Puncak kemarau diprediksi terjadi pada Juli hingga Agustus 2026. Pemerintah daerah dan masyarakat diminta bersiap sejak sekarang, terutama dalam hal ketersediaan air bersih dan pencegahan kebakaran hutan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
BPBD Petakan 8 Kabupaten Rawan Kekeringan di Bengkulu
Rp107 M untuk Rehab 131 SD di Gianyar
Pemkot Medan Desak Pertamina Atasi Antrean BBM
Inggris Vs Argentina, Dendam 40 Tahun di Semifinal
Rodri Bangkit dari Cedera Horor, Bawa Spanyol ke Final Piala Dunia
Kontroversi Telur Hilang dari Menu Makan Siang Gratis India
Kunjungan Turis Asing ke Indonesia Tumbuh 5,83%
Anggie Bawa Emas, Okto Sebut Awal Kebangkitan Tinju
