Buku Multikulturalisme: Membangun Kesadaran terhadap Keberagaman
Gambar atau konten salah?
Jakarta - Ketika scrolling di media sosial, terutama saat bulan puasa, banyak orang yang masih menunjukkan sikap tidak toleran terhadap perbedaan. Ujaran kebencian atas nama agama dan perbedaan suku masih marak. Ironisnya, pelaku seringkali adalah orang-orang berpendidikan yang bahkan memiliki gelar sarjana hingga doktor. Dalam konteks ini, buku Multikulturisme hadir sebagai tawaran yang reflektif dan aplikatif.
Buku ini ditulis dengan kesadaran bahwa Indonesia, sejak awal berdiri, adalah bangsa yang majemuk. Beragam suku, bahasa, agama, dan tradisi hidup berdampingan. Keragaman ini bisa menjadi energi positif, namun juga berpotensi menimbulkan konflik jika tidak dikelola dengan bijak. Buku ini tidak hanya menyerukan untuk "saling menghargai", tetapi juga menyusun landasan teoretis untuk pendidikan multikultural dan menawarkan cara praktis untuk menginternalisasikannya dalam pendidikan dan kehidupan sehari-hari.
Di bab awal, pembaca diperkenalkan pada konsep dasar multikulturalisme dan tujuan pendidikan multikultural. Pendidikan bukan sekadar penyampaian ilmu, tetapi juga proses membangun kesadaran akan keberagaman. Selanjutnya, buku ini mengulas sejarah perkembangan pendidikan multikultural di Indonesia, yang menunjukkan bahwa masyarakat sudah lama akrab dengan pluralitas dalam praktik sosial.
Bab ketiga mengupas nilai-nilai pendidikan multikultural dan pendekatan dalam proses belajar. Menariknya, multikulturalisme tidak diposisikan sebagai konsep yang terpisah, melainkan dihubungkan dengan kerangka etis dan religius. Di sinilah kekuatan buku ini terlihat. Bab keempat mengaitkan pendidikan Islam dengan nilai multikultural. Penulis menjelaskan bahwa ajaran Islam mendorong perdamaian, keadilan, serta penolakan terhadap kekerasan, dengan konsep seperti at ta'aruf (saling mengenali) dan at tawassuth (moderat) sebagai fondasi etis bagi kehidupan dalam masyarakat majemuk.
Buku ini juga membahas pemikiran tokoh-tokoh seperti Sokrates dan Plato untuk menambah perspektif multikultural. Bab keenam lebih aplikatif, menjelaskan implementasi nilai-nilai tersebut dalam konteks pendidikan dan hubungan sosial. Bab ketujuh membahas definisi etnik dan ras, membuka ruang refleksi tentang identitas.
Bab kedelapan sangat penting karena menjelaskan Islam sebagai doktrin kemanusiaan. Pembahasan mencakup hak asasi manusia, demokrasi, pluralisme, dan kesetaraan gender. Penulis membandingkan pendekatan Islam dengan konsep HAM Barat, mencatat bahwa meskipun ada perbedaan, pada dasarnya keduanya memiliki esensi yang sama: penghormatan terhadap martabat manusia. Ayat Al Qur'an yang menyatakan pembunuhan satu orang sama dengan membunuh seluruh umat manusia mengilustrasikan bahwa nilai kemanusiaan sudah menjadi inti ajaran Islam.
Bab terakhir menekankan pentingnya pendidikan multikultural untuk memperkuat persatuan bangsa. Penulis mengajak pembaca untuk menjadikan multikulturalisme sebagai cara hidup, bukan sekadar teori di kelas. Prof Djunaidi Ghony, penulis utama, menambah kredibilitas buku ini dengan latar belakang akademiknya yang kuat. Ia merupakan Guru Besar di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
Buku Multikulturisme terasa sistematis dan argumentatif. Ia tidak hanya memaparkan teori Barat tentang pluralisme tetapi juga mengaitkannya dengan tradisi keislaman dan konteks kebangsaan Indonesia. Di tengah polarisasi yang masih ada, buku ini relevan bagi akademisi dan masyarakat yang peduli pada isu toleransi dan kebangsaan.
Keberagaman seharusnya bukan dianggap sebagai ancaman, tetapi sebagai kenyataan sosial yang perlu dikelola dengan nilai-nilai keadilan, moderasi, dan kemanusiaan. Pendidikan, baik di tingkat dasar maupun tinggi, menjadi ruang strategis untuk menanamkan kesadaran tersebut sejak dini. Dalam konteks ini, Multikulturisme layak menjadi referensi penting untuk memahami hubungan antara Islam, budaya, dan kehidupan berbangsa di Indonesia.
Judul Buku: Multikulturisme
Penulis: Prof Djunaidi Ghony, Dr Fauzan Almanshuri, Yahya Savero
Penerbit: PT Refika Aditama, Bandung
Tahun Terbit: April 2025 | 172 halaman | ISBN: 978 623 5031 118
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Nilai Inggris Tinggi, Anak Sulit Bicara? Natieva Kids Solusi
Agung Sulistyo: Dari Satpam Jadi Doktor UMY, Inspirasi
Media Sosial Jadi Kunci Belajar Bahasa Inggris di Sekolah
Dr Andryanto Kusmara Dapat Chevalier Palmes Académiques
Polban Buka Jalur SMBM 2026/27: Pilih Hingga 4 Program
Perubahan Media Sosial: Dari Jaringan ke Alat Politik
Berita Terbaru
Seri 1-1 Qatar-Swiss di Levi's Stadium, Piala Dunia 2026
Zodiak Pisces 14 Juni 2026: Emosi, Intuisi, dan Keseimbangan Hari Ini
Numerologi 14 Juni 2026: Energi Angka 3 dan Cara Memanfaatkannya
Feng Shui 14 Juni 2026: Dominasi Elemen Kayu dan Tips Keberuntungan
Primbon Jawa 14 Juni 2026: Pasaran Pon, Neptu 16, Keberuntungan
Zodiak Capricorn: Prediksi Hari 14 Juni 2026 - Tips Sehari
Zodiak Aquarius 14 Juni 2026: Panduan Harian Energi Mars
Tarot Harian 14 Juni 2026: The Fool, Ace of Cups, The Hanged Man
Zodiak Libra 14 Juni 2026: Keseimbangan & Keputusan
Zodiak Sagittarius 14 Juni 2026: Petualangan & Kestabilan Hari Ini
