Perubahan Media Sosial: Dari Jaringan ke Alat Politik

Endah K. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Perubahan Media Sosial: Dari Jaringan ke Alat Politik

Gambar atau konten salah?

Prof. Dra Rachmah Ida MComms PhD dari FISIP Universitas Airlangga (UNAIR) menegaskan bahwa media sosial kini berfungsi lebih dari sekadar tempat berjejaring. Pada 12 Juni 2026, ia menyatakan bahwa media sosial awalnya dimaksudkan untuk membangun social network, namun peranannya telah meluas mengikuti kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks.

"Komunikasi tatap muka sekarang jauh berkurang daripada komunikasi yang berlangsung melalui media," ungkapnya di laman Unair. Ia menyoroti pergeseran pola interaksi manusia, di mana percakapan daring kini sering menggantikan pertemuan fisik.

Perbedaan antara media sosial dan media massa menjadi kunci pemahaman. Media massa beroperasi melalui proses jurnalistik yang terstruktur, sedangkan media sosial menawarkan ruang interaksi di mana setiap pengguna dapat menyebarkan informasi. Dengan demikian, platform digital tidak hanya menjadi sarana penyebaran berita, tetapi juga menjadi alat mobilisasi massa, wadah gerakan sosial, dan instrumen yang memengaruhi dinamika politik di berbagai negara.

Ia mengutip contoh Arab Spring sebagai bukti nyata bagaimana media sosial dapat mengorganisasi gerakan masyarakat dalam skala besar. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa platform daring dapat menjadi katalisator perubahan sosial, memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengungkapkan aspirasi mereka.

Di bidang pendidikan, University of Michigan mencatat bahwa banyak dosen dan peneliti memanfaatkan media sosial untuk menyebarluaskan hasil riset, membangun diskusi dengan masyarakat, dan menjangkau pembuat kebijakan. Dalam laporan #SocialScholars: Professors Show Power of Public Engagement, Liz Kolb dari School of Education University of Michigan menyatakan, "Ini adalah alat yang bisa sangat kuat," menegaskan potensi kolaborasi lintas negara tanpa batas geografis.

Di Indonesia, fenomena No Viral No Justice menunjukkan kekuatan media sosial dalam membentuk opini publik. Unggahan yang menjadi viral sering menarik perhatian publik sekaligus memicu respons dari berbagai pihak. Renee DiResta, Associate Research Professor di McCourt School of Public Policy, menjelaskan bahwa media sosial telah mengubah audiens menjadi pihak yang ikut menentukan informasi apa yang akan menyebar luas. Ia menambahkan bahwa influencer, algoritma, dan respons pengguna menciptakan siklus yang memperkuat narasi melalui komentar, suka, dan pembagian ulang.

"Hasilnya adalah sebuah lingkungan ketika perhatian yang viral sering kali lebih diutamakan daripada akurasi, dan rumor dapat berubah menjadi kenyataan melalui pengulangan dan pembenaran," kata Prof. Rachmah Ida. Ia menegaskan bahwa kekuatan media sosial harus diimbangi dengan tanggung jawab dan sikap kritis. Kemampuan memilah informasi menjadi kunci, karena masyarakat berpotensi membentuk opini berdasarkan data yang belum tentu benar.

Penelitian di Georgetown University menekankan pentingnya peningkatan literasi digital sebagai langkah menciptakan ekosistem media sosial yang lebih sehat. Selain dukungan teknologi, pengguna perlu menyadari bahwa mereka memiliki kendali atas informasi yang dikonsumsi maupun disebarkan. Dengan kesadaran ini, harapannya media sosial dapat tetap menjadi platform yang memperluas pengetahuan dan memfasilitasi dialog, tanpa mengorbankan kebenaran atau integritas informasi.

media sosialmobilisasi massaArab Springliterasi digitalalgoritmapengaruh politikviral

Komentar

Memuat komentar...