Dr Andryanto Kusmara Dapat Chevalier Palmes Académiques
Gambar atau konten salah?
Dr Andryanto Rikrik Kusmara, Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian, dan Administrasi Institut Teknologi Bandung, menerima tanda kehormatan dari Pemerintah Republik Prancis.
Penghargaan tersebut, bertajuk Chevalierdansl'Ordre desPalmesAcadémiques, diberikan kepada individu yang dianggap memberikan dampak luar biasa dalam pendidikan, ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan warisan budaya.
Penghargaan ini pertama kali diciptakan oleh Napoleon pada tahun 1808 dan telah dianugerahkan kepada tokoh-tokoh terkenal dunia seperti Marie Curie, Jean-Baptiste Charcot, dan Léopold Sédar Senghor.
Dalam upacara, Duta Besar Prancis, Fabien Penone, menyampaikan bahwa Prancis kembali memberikan gelar kehormatan kepada seorang seniman, pendidik, dan pembangun. Ia juga mengucapkan selamat atas bergabungnya Dr Andryanto dengan kelompok terhormat tersebut.
“Hari ini, Dr Andryanto Rikrik Kusmara, Anda bergabung dengan kelompok terhormat (seperti seperti Marie Curie, Jean-Baptiste Charcot, dan Léopold Sédar Senghor). Saya senang bahwa upacara ini dapat diselenggarakan di ITB, sebuah simbol keunggulan Indonesia sekaligus mitra lama Prancis. Melalui diri Anda, Prancis memberikan penghormatan kepada seorang seniman, pendidik, dan pembangun,” ujarnya dalam laman ITB dikutip Sabtu 13 Juni 2026.
Menurut Penone, kontribusi Dr Andryanto tidak terbatas pada institusi atau ruang kelas. Ia turut membentuk lanskap seni kontemporer di Indonesia dengan memberi ruang bagi karya dan gagasan publik.
Dr Andryanto juga memainkan peran penting dalam memperkuat kerja sama antara Bandung dan Saint-Étienne. Pada tahun 2015, Bandung ditetapkan sebagai Kota Kreatif UNESCO, dan pada tahun yang sama Dr Andryanto mengunjungi Saint-Étienne, kota pertama di Prancis yang bergabung dalam jaringan kota kreatif UNESCO.
Kunjungan tersebut berkembang menjadi kolaborasi yang menggabungkan desain, pendidikan, inovasi, dan kebudayaan. Salah satu hasilnya adalah Material Library pertama di Indonesia, yang terletak di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Perpustakaan ini menjadi pusat pembelajaran desain dan transdisipliner, memetakan material alami dan inovatif dari Asia Tenggara.
Duta Besar Fabien Penone menyoroti peran Dr Andryanto dalam mengembangkan jejaring kemitraan dengan institusi terkemuka di Prancis, termasuk Université Paris 1 Panthéon-Sorbonne dan École Supérieure d'Art et Design Saint-Étienne. Ia juga menjadi tokoh penting dalam program Bandung-Saint-Étienne Design Cities, sebuah program residensi yang mempertemukan akademisi, pusat riset, industri, dan masyarakat sipil.
Sebagai penerima penghargaan, Dr Andryanto menyampaikan rasa syukur. Ia menegaskan bahwa penghargaan tersebut bukan sekadar pengakuan atas pencapaian pribadi, melainkan penghormatan terhadap perjalanan panjang kolaborasi, persahabatan, dan pertukaran intelektual antara Indonesia dan Prancis.
“Dengan penuh rasa syukur, kerendahan hati, dan kehormatan yang mendalam, saya menerima tanda kehormatan Chevalier dans l'Ordre des Palmes Académiques yang dianugerahkan oleh Pemerintah Republik Prancis,” ujarnya.
Penghargaan ini menegaskan hubungan budaya dan akademik yang telah terjalin lama antara Indonesia dan Prancis. Keberhasilan Dr Andryanto dalam membangun jaringan internasional dan memajukan seni kontemporer di Indonesia menjadi contoh nyata bagaimana kerja sama lintas negara dapat memperkaya kedua belah pihak.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
