Bulan Biru, Matahari Hijau: Dampak Krakatau pada Atmosfer

Ningsih R. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 52 dibaca
Bisik.id
Bulan Biru, Matahari Hijau: Dampak Krakatau pada Atmosfer

Gambar atau konten salah?

Bulan dan Matahari berubah warna pada hari ini. Biasanya bulan berwarna putih, perak, atau kekuningan, namun pada malam ini ia tampak biru. Sementara Matahari berwarna hijau. Warna ini dipengaruhi oleh atmosfer bumi, yang memecah cahaya menjadi spektrum warna.

Di kondisi malam cerah tanpa polusi, ketika Matahari berada tinggi di langit, Bulan biasanya tampak putih keperakan. Ini terjadi karena cahaya menembus atmosfer tanpa banyak hamburan. Namun cahaya biru, yang memiliki panjang gelombang lebih pendek, lebih mudah dihamburkan oleh partikel di udara dibandingkan cahaya merah. Jika cahaya yang dipantulkan dari Bulan melewati lapisan atmosfer yang lebih tebal, hamburan biru menumpuk dan mengubah penampilan bulan menjadi biru.

NASA menjelaskan bahwa Bulan “cenderung memiliki rona yang lebih kuning atau oranye, dibandingkan ketika berada tinggi di atas kepala.” (NASA). Penjelasan ini menegaskan bahwa ketika cahaya bulan menempuh jarak lebih jauh melalui atmosfer, gelombang biru tersebar lebih banyak, sehingga lebih banyak gelombang merah yang tersisa. Debu atau polusi dapat memperdalam warna kemerahan.

Peristiwa serupa terjadi pada tahun 1883, ketika Bulan dan Matahari berwarna biru. Pada saat itu, Krakatau di Indonesia meletus. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa uap air tidak cukup untuk menjelaskan fenomena tersebut. Sebaliknya, sulfur dioksida dan partikel lain yang dilepaskan oleh gunung berapi menjadi penyebab utama. Partikel ini memiliki jari-jari sekitar 500 hingga 700 nm, yang cukup besar untuk memicu hamburan anomali.

Makalah ilmiah yang mempelajari peristiwa ini menyatakan, “Senja vulkanik hijau dapat dijelaskan oleh hamburan anomali yang terjadi untuk partikel yang cukup besar (yaitu jari-jari sekitar 500 hingga 700 nm) dan distribusi ukuran partikel yang lebih sempit.” (Makalah). Karena partikel tersebut sedikit lebih lebar daripada panjang gelombang cahaya merah, ujung spektrum merah mengalami hamburan yang lebih besar daripada cahaya biru, sehingga menghasilkan warna biru kehijauan pada Bulan, Matahari, matahari terbit, dan matahari terbenam.

Efek yang sama dapat muncul selama kebakaran hutan atau letusan gunung berapi berikutnya, ketika partikel berukuran serupa dilepaskan ke atmosfer. Fenomena ini menunjukkan bahwa warna langit dan bulan dapat berubah drastis ketika partikel tertentu memasuki atmosfer, memengaruhi cara cahaya dipantulkan dan disebarkan.

Peristiwa ini menegaskan bahwa kondisi atmosfer dapat memengaruhi penampilan langit secara signifikan, terutama ketika partikel besar seperti yang dilepaskan oleh Krakatau masuk ke udara. Penelitian berkelanjutan diperlukan untuk memahami dampak jangka panjang dari partikel ini pada pandangan manusia dan lingkungan.

Bulan biruMatahari hijauhamburan cahayaKrakataupartikel vulkaniksulfur dioksidafenomena langit

Komentar

Memuat komentar...