Dari Buta Aksara Hingga Tembus UGM

Fitri A. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Dari Buta Aksara Hingga Tembus UGM

Gambar atau konten salah?

Julian Yusmar Dima Huda kini resmi menjadi mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi di Universitas Gadjah Mada (UGM). Perjalanannya tidak mudah. Ia baru benar-benar lancar membaca saat duduk di bangku kelas 5 SD.

Yusmar besar di Desa Raenalulu, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur. Kondisi ekonomi keluarganya terbatas. Itu sangat memengaruhi akses pendidikannya. Ia bahkan baru belajar bahasa Inggris ketika masuk SMA.

"Saya dulu baru bisa membaca waktu kelas 5 SD karena memang tidak ada yang mengajari. Opa dan Oma juga tidak sekolah, bahkan tidak bisa bahasa Indonesia. Waktu pandemi Covid-19 baru punya handphone, dari situ saya berkomitmen untuk serius belajar," kata Yusmar.

Sejak kecil, Yusmar diasuh oleh kakek dan neneknya. Kakeknya, Rehabeam Wadu Dima (75), bekerja sebagai petani. Neneknya, Welmintje Wila Magga (67), berjualan kue untuk menopang kebutuhan sehari-hari. Ayah Yusmar meninggal saat usianya baru satu tahun. Ibunya kemudian membangun kehidupan baru di daerah lain.

Awalnya, Yusmar tidak punya rencana untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Keterbatasan ekonomi membuatnya ragu. Semua berubah saat ia mengikuti ajang Duta Siswa Indonesia di kelas 12 SMA. Dari pengalaman itu, ia mulai percaya bahwa dirinya juga punya kesempatan untuk kuliah. Pandangannya terhadap pendidikan berubah total.

"Dari situ, saya benar-benar terbuka pikiran bahwa pendidikan itu sangat penting, apalagi untuk melanjutkan ke perguruan tinggi," ujarnya.

Selama SMA, Yusmar aktif di pramuka dan OSIS. Ia bahkan menjadi wakil ketua OSIS. Ia juga tertarik mengikuti kompetisi. Namun, ia sering tidak mendapat kesempatan untuk mewakili sekolah. Rasa takut menyesal membuatnya nekat. Sejak kelas 12, ia mulai mendaftar kompetisi secara mandiri. Termasuk ajang Duta Siswa Indonesia dan beberapa olimpiade.

"Selama dua tahun saya menunggu dipilih guru untuk ikut lomba, tapi tidak pernah dapat kesempatan. Akhirnya pada saat kelas 12 saya tidak mau menyesal, jadi saya mulai daftar sendiri ikut berbagai lomba," katanya.

Untuk menyeimbangkan organisasi dan akademik, Yusmar belajar menyusun prioritas. Ia bangun dini hari untuk belajar. Sepulang sekolah hingga malam, ia berkegiatan di organisasi.

"Hampir setiap hari saya bangun sekitar pukul 04.00 hingga 05.00 untuk membaca kembali materi yang akan dipelajari di sekolah. Pagi hari menjadi waktu paling efektif untuk memahami pelajaran karena kondisi tubuh dan pikiran masih segar," tuturnya.

Yusmar memilih prodi Ilmu Komunikasi UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026. Alasannya sederhana. Ia suka berkomunikasi dan membuat konten di media sosial. Ia juga melihat prospek kerja lulusan ilmu komunikasi yang sesuai dengan cita-citanya.

"Saya suka berkomunikasi, suka membuat konten di media sosial. Jadi Ilmu Komunikasi benar-benar sesuai dengan minat saya. Saya juga punya prinsip ingin keluar dari zona nyaman dan ingin membuktikan bahwa kita yang berasal dari daerah terpencil juga bisa bermimpi dan kuliah di kampus besar seperti UGM," jelasnya.

Usahanya membuahkan hasil. Ia diterima di Prodi S1 Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM. Lebih dari itu, ia juga mendapatkan beasiswa uang kuliah tunggal (UKT) pendidikan unggul bersubsidi 100 persen. Artinya, ia bisa kuliah gratis di UGM.

Yusmar berpesan kepada siswa lain yang mengalami keterbatasan atau berasal dari daerah 3T. Ia mendorong mereka untuk tetap berani mencoba dan mewujudkan cita-cita.

"Nikmati prosesnya, jangan hanya mengejar hasilnya saja. Jangan mengecilkan mimpi kalian hanya karena berasal dari daerah 3T atau memiliki keterbatasan ekonomi. Kalau ingin lolos SNBP, siapkan strategi yang matang dan percaya pada usaha serta doa," pungkas Yusmar.

Kisah Yusmar menunjukkan bahwa latar belakang ekonomi dan akses pendidikan yang terbatas tidak harus menjadi penghalang. Dengan tekad dan strategi, seorang anak dari desa terpencil bisa menembus kampus besar seperti UGM. Ia membuktikan bahwa kemampuan membaca yang terlambat bukanlah akhir dari segalanya.

YusmarUGMIlmu KomunikasiSNBPbeasiswadaerah 3Tperjuanganpendidikan

Komentar

Memuat komentar...