Dukuh Mao Tanpa Pisang: Tradisi Unik Tanpa Tumbuhan Ini
Gambar atau konten salah?
Dukuh Mao terletak di Klaten, Jawa Tengah. Nama desa ini sangat singkat, bahkan menjadi salah satu nama terpendek di provinsi. Keunikan lainnya muncul dari tidak adanya pohon pisang di wilayah ini.
Warga Dukuh Mao menegaskan bahwa tidak ada satu pun pohon pisang yang ditanam, baik di pekarangan maupun di sawah. Tradisi ini sudah menjadi bagian dari identitas desa.
Alasan tidak menanam pohon pisang bukan karena tanah tidak subur. Tanah di desa ini subur, air mudah didapat, dan sawah tidak pernah kering. Air bersih berasal dari dua sumber mata air.
Di sisi barat Dukuh Mao terdapat Umbul Susuan dan Jolotundo. Kedua mata air ini tidak hanya mengairi pertanian, tetapi juga menjadi objek wisata yang cukup terkenal.
Selama pencarian, tidak ditemukan satu batang pun pohon pisang. Pencarian dilakukan di pekarangan, sawah, dan ladang. Semua area tetap kosong dari tanaman pisang.
Desa ini terbagi menjadi dua wilayah. Satu masuk ke Desa Jambeyan, Kecamatan Karanganom, dan satu lagi ke Desa Manjungan, Kecamatan Ngawen. Kedua wilayah tersebut sama-sama tidak memiliki pohon pisang.
"Di sini tidak ada pohon pisang, tidak ada yang berani nanam. Pokonya di kebun Mao tidak ada yang berani," ungkap warga Dukuh Mao, Siti Rahayu (80).
Siti menjelaskan bahwa ketakutan ini turun temurun. Tidak ada larangan resmi, tetapi warga takut dengan sendirinya. Ia menambahkan, "Tidak ada yang melarang tapi takut sendiri. Ya cuma pisang, lainnya tidak takut, sampai sekarang."
Warga lain bernama Satori (55) menceritakan bahwa menanam pohon pisang di Dukuh Mao bisa berbahaya. Ia mengaku pernah ada keluarga yang sakit. Ia berkata, "Saya bukan asli sini tapi ikut takut. Kalau makan, goreng pisang tidak apa-apa sepuasnya asal tidak menanam di sini."
Di wawancara terpisah, Kadus I Desa Manjungan, Kecamatan Ngawen, Sugiartono membenarkan perilaku unik warga. Ia menyatakan bahwa ketakutan berasal dari nenek moyang. Ia berkata, "Sejak nenek moyang tapi kalau makan pisang tidak apa-apa. Hanya menanam yang takut, tapi mungkin mitos."
Menurut Sugiartono, selain pohon pisang, semua tanaman bebas ditanam. Ia juga mengungkapkan mitos tentang pewayangan. Ia menjelaskan, "Cerita pewayangan ada putri tertancap sompil (keong runcing) lalu diambil ditancapkan ke pohon pisang. Tapi ada wewaler (larangan) apa kok kemudian pada tidak berani menanam pohon pisang, tidak ada yang tahu."
Warga Dukuh Mao tidak menolak menanam tanaman lain. Tanaman lain seperti padi, jagung, dan sayuran tumbuh subur. Tidak ada larangan selain pohon pisang.
Sejarah nama Dukuh Mao diperkirakan berasal dari bahasa Jawa Kawi. Hari Wahyudi menjelaskan bahwa kata Mao atau Maung berarti harimau. Dalam prasasti-prasasti, Mao sering disebut sebagai harimau atau macan Jawa.
Keunikan Dukuh Mao terletak pada tradisi larangan menanam pohon pisang yang berakar pada mitos dan ketakutan turun temurun. Meskipun tidak ada larangan resmi, rasa takut tetap memengaruhi pola tanam warga. Desa ini tetap subur berkat sumber air dan tanamannya yang beragam.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Empat Anakan Harimau Sumatra Lahir di Taman Safari Prigen
Bandara Husein Sastranegara Dipertimbangkan Rute Luar Jawa
Trans Luxury Hotel Surabaya Buka, Soft Opening Rp999.000
Jatiluwih: Turis Asia Domestik Naik, Barat Turun Pasar Konflik
Pendaki Terjatuh di Gunung Semeru, Evakuasi Sempat Lama
Allo PayLater dan Allo Prime Diskon 20% di Trans Studio
Berita Terbaru
Scammer Solo Baru Target Warga AS, Polda Jawa Tengah
Beasiswa Garuda Gelombang II Terbuka Hingga 25 Juni 2026
Moody's Atur Peringkat Baa2 Negatif untuk Danantara Investasi
Dolar AS Kembali Menguat, Rupiah Turun di Bawah Rp18.000
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Jawa Tengah Hari Ini Pada
Perpres No.27 2026: Potongan Ojek Online 8% Belum Berlaku
Brasil Bayar 203 Miliar Rupiah ke Ancelotti, Piala 2026
