Edi Jaya Servis: Pasar Genteng Tempat Nostalgia Elektronik

Surya B. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 102 dibaca
Bisik.id
Edi Jaya Servis: Pasar Genteng Tempat Nostalgia Elektronik

Gambar atau konten salah?

Pasar Genteng Surabaya menjadi tempat yang dikenal karena lantai dua dan tiga kiosnya yang penuh peralatan elektronik tua. Di antara ribuan kios, satu nama selalu muncul ketika pelanggan ingin menghidupkan kembali perangkat lama: Edi Sutrisno (68), pemilik Edi Jaya Servis Elektronik.

Di gerai sederhana yang terletak di sudut pasar, Edi menghabiskan hari-harinya memperbaiki kaset, ampli, dan perangkat suara lainnya. Ia memang ahli dalam menelusuri kerusakan pada tape, ampli, dan perangkat suara lainnya. “Kebanyakan yang masuk memang barang lama. Penjual lain ngasih tahu ke pelanggan kalau servis barang lama ke sini. Akhirnya yang servis ke saya barang-barang lama rata-rata,” jelas Edi kepada reporter pada 30 Maret 2026.

Usaha ini dimulai pada 1996. Namun, sebelum itu, Edi sudah terjun ke dunia elektronik sejak 1983 dengan membantu kakaknya. Solder dan komponen kecil menjadi sahabatnya, membantu memecahkan misteri kerusakan di setiap perangkat yang datang.

Kesabaran dan ketelitian menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari Edi. Menebak letak kerusakan pada perangkat tua tidak mudah, apalagi bila komponen lama sudah tidak diproduksi lagi. “Kalau barangnya (komponen) nggak ada ya itu, harus bisa ‘ngakali’. Gimana kira-kira kalau pakai yang lain, bisa apa nggak? Nafsirnya itu yang sulit memang,” ujarnya.

Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, Edi tidak hanya mengandalkan stok yang ada. Ia sering berburu komponen pengganti di toko elektronik sekitar. Jika tidak menemukan yang cocok, ia mencoba mencarinya secara daring. Di sinilah pengalaman mengambil peran menjadi penting. Sejak awal, Edi memang terbiasa belajar dengan caranya sendiri. Membongkar dan memahami perangkat satu per satu tanpa banyak bergantung pada teori.

“Yang ‘ngajari’ itu barangnya. Karena dipegang kan, terus dilihat, nanti bisa ‘baca’ (kerusakannya) sendiri,” kata pria yang sudah berusia senja itu.

Tidak jarang Edi mengambil jeda sejenak ketika pikiran tidak bisa dipaksa bekerja. Jalan-jalan singkat menjadi titik terang. Kembali ke meja kerjanya, ia sering menemukan arah baru untuk menelusuri bagian yang sebelumnya terlewat, sehingga akar masalah terungkap.

Pengalaman menjadi guru terbaiknya. Kepiawaian Edi dalam menghidupkan kembali perangkat rusak tumbuh dari ketekunan yang terus diuji waktu. Kepercayaan pelanggan pun terbangun dari sana. Sebagian pelanggan lama sudah mempercayakan perbaikan sejak dulu. Bahkan ada yang rela menunggu saat gerai masih ditutup agar barangnya ditangani langsung oleh Edi.

Menariknya, kini bukan hanya generasi lama yang datang. Anak-anak muda juga menapaki jejak yang sama, membawa perangkat lawas yang kembali mereka cari. “Malah anak muda-muda, yang kuliah itu ke sini karena senang dengan kaset gini. Katanya lebih enak suaranya dibanding USB,” jelasnya.

Di balik pasang surut usaha servisnya, ada Afrait (65), sang istri yang setia menemani. Sekitar satu dekade terakhir, ia ikut menjaga kios, berbagi waktu dan rutinitas yang sama. Dari pukul 11.00-17.00 WIB, keduanya menjalani hari di tempat sederhana itu.

Sambil sesekali menerima “panggilan rindu” dari anak-anaknya, salah satunya mewarisi ketertarikan Edi terhadap dunia elektronik. “(Anak) yang nomor dua ini elektronik juga bisa. Dulu pernah ikut di sini. Habis itu ngelamar di PLN keterima. Kerja di sana sampai sekarang,” ucap Edi bangga.

Bilik kecil itu menjadi saksi bagaimana kehidupan keluarga Edi dibangun. Anak-anak tumbuh hingga mandiri, sementara Edi tetap bertahan pada apa yang sudah ia tekuni sejak lama. “Sebab baginya, setiap perangkat yang kembali menyala bukan sekadar tanda bahwa pekerjaan selesai. Di dalamnya ada rasa lega, juga kepuasan yang diam-diam menghapus lelah yang sempat mengendap,” tutupnya.

Di pasar yang ramai, gerai kecil ini tetap menjadi tempat di mana nostalgia bertemu keahlian. Perangkat lama yang kembali berfungsi menegaskan bahwa, meski teknologi terus berubah, keahlian tangan manusia masih tetap berharga.

Pasar Genteng SurabayaEdi Jaya Servis Elektronikperalatan elektronik tuakomponen penggantinostalgiakeahlian tangangenerasi muda

Komentar

Memuat komentar...