Embun Beku di Puncak Merbabu, Suhu Sentuh Minus 1 Derajat
Gambar atau konten salah?
Puncak Gunung Merbabu di Solo kini tengah dilanda cuaca yang sangat dingin. Embun beku mulai menyelimuti area tersebut. Para pendaki diminta untuk lebih waspada, terutama terhadap risiko hipotermia yang bisa mengancam jiwa.
Dalam beberapa hari terakhir, suhu di puncak Merbabu tercatat bisa mencapai minus 1 derajat Celsius. Fenomena embun beku ini masih sering terlihat di jalur pendakian, bahkan hingga akhir pekan kemarin. Hal ini disampaikan oleh Dian Saraswati, Humas Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb), pada Selasa, 14 Juli 2026.
Dian menjelaskan bahwa saat ini kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu sedang memasuki fenomena yang disebut bediding. Fenomena ini, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), adalah siklus alam yang normal terjadi saat puncak musim kemarau. Kondisi ini diperkirakan akan berlangsung hingga September 2026.
Gunung Merbabu memiliki ketinggian 3.145 meter di atas permukaan laut (mdpl). Ketinggian yang ekstrem ini membuat penurunan suhu terasa jauh lebih dingin dibandingkan di dataran rendah. "Kondisi dingin yang ekstrem pada malam hingga dini hari ini berpotensi tinggi memicu hipotermia bagi para pendaki yang tidak melakukan persiapan dengan matang," kata Dian.
Petugas BTNGMb telah melakukan pemantauan suhu dan kelembaban di area Pos Sabana 1. Pemantauan dilakukan menggunakan termometer dan higrometer pada tanggal 9 hingga 10 Juli 2026. Hasilnya cukup mencengangkan. Pada tanggal 9 Juli 2026 pukul 20.00 WIB, suhu udara mencapai 6 derajat Celsius dengan tingkat kelembaban 54 persen.
Kemudian, pada tanggal 10 Juli 2026 pukul 05.30 WIB, suhu udara turun drastis menjadi minus 1 derajat Celsius. Tingkat kelembaban saat itu adalah 46 persen. Lalu pada pukul 06.00 WIB, suhu udara sudah meningkat lagi menjadi 3 derajat Celsius dengan kelembaban 44 persen.
"Data tersebut menunjukkan bahwa suhu udara di kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu pada musim kemarau dapat turun hingga di bawah 10 derajat celcius. Bahkan mencapai -1°C pada dini hari. Kondisi ini sejalan dengan penjelasan BMKG mengenai fenomena mbediding yang terjadi selama puncak musim kemarau, bahkan berdasarkan data telah terbentuk embun beku," imbuh Dian.
Suasana puncak Gunung Merbabu yang berselimut embun beku pun sempat diabadikan dalam foto yang diunggah pada Selasa, 14 Juli 2026.
Waspadai Gejala Hipotermia
Paparan suhu udara yang sangat rendah, ditambah tiupan angin, serta kondisi pakaian yang basah atau lembap, dapat meningkatkan risiko hipotermia. Hipotermia adalah kondisi ketika suhu inti tubuh turun di bawah 35 derajat Celsius.
BTNGMb mewanti-wanti para pendaki untuk peka mengenali gejala awal hipotermia, baik pada diri sendiri maupun rekan kelompok. Gejala hipotermia antara lain:
- Menggigil hebat secara terus-menerus
- Bibir, kuku, dan ujung-ujung jari mulai memucat atau membiru
- Penurunan konsentrasi dan mulai sulit berpikir jernih
- Cara berbicara mulai terbata-bata atau pelo
- Tubuh terasa lemas tak bertenaga disertai rasa kantuk yang berat
Apabila gejala tersebut mulai muncul, pihaknya mengimbau para pendaki untuk tidak memaksakan melanjutkan perjalanan. Segera cari lokasi yang terlindung dari angin. Ganti pakaian yang basah dengan pakaian kering. Hangatkan tubuh secara bertahap. Konsumsi minuman hangat apabila memungkinkan. Dan segera laporkan kepada petugas apabila kondisi tidak membaik.
Kepala BTNGMb, Anggit Haryoso, menegaskan bahwa keselamatan adalah prioritas mutlak yang tidak boleh dikompromikan oleh estetika panorama kemarau. Musim kemarau memang menyuguhkan pemandangan Gunung Merbabu yang sangat indah dengan langit yang bersih. Namun, selaras dengan peringatan BMKG mengenai puncak kemarau, fenomena mbediding membawa risiko suhu ekstrem hingga minus 1 derajat Celsius di lapangan.
"Kami menghimbau agar para pendaki tidak meremehkan cuaca ini. Persiapkan perlengkapan sesuai standar, jaga kondisi fisik, dan pahami langkah-langkah mitigasi apabila terjadi kondisi darurat. Keberhasilan pendakian bukan hanya ketika mencapai puncak, tetapi ketika seluruh anggota rombongan dapat kembali pulang dengan selamat," tegas Anggit.
Fenomena embun beku di Gunung Merbabu ini merupakan bagian dari siklus alam yang biasa terjadi saat puncak kemarau. Meskipun pemandangan yang dihasilkan sangat indah, risiko kesehatan seperti hipotermia sangat nyata. Persiapan matang dan kewaspadaan tinggi menjadi kunci utama agar pendakian tetap aman dan menyenangkan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Mahasiswa Tuntut Transparansi Kasus Jampidsus
Polisi Gerebek Tempat Oplosan Gas Elpiji di Blora
Polisi Gerebek Lokasi Pengoplosan Gas Elpiji di Blora
BMKG Peringatkan Gelombang Tinggi di Laut Selatan Jateng
Gus Ipul Buka MPLS Sekolah Rakyat, 28.478 Siswa Tercatat
Atap SD Ambrol, Siswa Belajar Bergantian di Musala
Berita Terbaru
Embun Beku di Puncak Merbabu, Suhu Sentuh Minus 1 Derajat
IDAI Jadi Amicus Curiae Kasus Dokter Anak di Pangkalpinang
Andoni Iraola Hadapi Dua Krisis Besar di Liverpool
Kemnaker Buka MagangHub 2026, Target 150.000 Peserta
Perempuan di Muna Barat Tewas Diserang Ular Piton 6 Meter
5 Kafe Bernuansa Vintage di Jakarta
Samsung Rilis Flex Titanium, Layar Lipat Lebih Kuat Tanpa Bekas Lipatan
OJK Ungkap Enam Hambatan Berantas Judi Online