Es Teler Berawal dari Mimpi Ibu di 1967
Gambar atau konten salah?
Manis, creamy, dan segar—es teler memang sulit ditolak. Tapi sebelum menjadi primadona seperti sekarang, minuman ini punya cerita panjang. Siapa sangka, di balik segelas es teler ada kisah seorang ibu yang mendapat petunjuk lewat mimpi.
Es teler sebenarnya adalah salah satu jenis es campur tradisional. Isian utamanya sederhana: irisan alpukat, nangka, dan kelapa muda. Tapi seiring waktu, orang mulai menambahkan jelly, sagu mutiara, nata de coco, hingga kuah yang creamy. Susu kental manis jadi topping wajib yang bikin rasanya makin legit. Beberapa penjual bahkan menaburkan parutan keju cheddar untuk sensasi gurih.
Cerita dimulai dari pasangan suami istri asal Solo, Tukiman Darmowiyono dan Samijem Darmowiyono. Merekalah yang pertama kali meracik es teler di Indonesia. Tahun 1967, mereka merantau ke Jakarta. Awalnya kerja serabutan: jualan rokok, jamu, bakso, sampai siomay.
Lalu suatu hari, Samijem bermimpi. "Awalnya ibu Hajah mimpi disuruh jualan yang segar-segar. Jadilah habis pagi jualan jamu, siangnya jualan es campur, pakai meja kecil waktu itu," kata Sis, penerus usaha es teler Tukiman dan Samijem di Cikini, yang kini dikenal sebagai Es Teler Sari Mulia Asli.
Dalam wawancara tahun 2020, Sis menceritakan bahwa es campur buatan Samijem laris manis. Pembelinya kebanyakan mahasiswa. Sampai akhirnya tahun 1976, muncullah kreasi baru. Seorang mahasiswa Universitas Indonesia (UI) datang dan membeli es campur dengan isian sederhana: alpukat, nangka, dan kelapa muda. Tanpa tambahan lain. Racikan itu ternyata sangat disukai.
Mahasiswa itulah yang memberi nama "es teler." Kata Sis, menirukan ucapan sang mahasiswa: "Sudah Bu diberi nama es teler saja. Sekali sedot langsung teler saking enaknya."
Hingga kini, Es Teler Sari Mulia Asli masih beroperasi. Di sudut ruangannya, terpajang informasi bahwa merekalah "Penemu Pertama di Indonesia." Lokasinya di Kompleks Bioskop Metropole XXI, Jl. Pangeran Diponegoro No.2, Cikini, Jakarta Pusat. Satu gelas es teler dibanderol Rp 25.000.
Es teler bukan sekadar minuman pelepas dahaga. Ia sudah menjadi bagian dari kekayaan kuliner Indonesia yang diwariskan turun-temurun. Dari mimpi seorang ibu di tahun 1960-an, hingga kini bisa dinikmati di berbagai tempat. Cerita ini menunjukkan bahwa inovasi kadang datang dari hal paling sederhana—dan dari mimpi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Es Krim Baltic Tutup Setelah 87 Tahun
Argentina vs Inggris: Bukan Cuma di Lapangan, Juga di Pastry
PM Hungaria Terima 90 Mangga dari Pakistan, Simbol Diplomasi
Workshop Kotak Bunga Korea: Kado Personal Buatan Sendiri
Wisatawan RI Didenda Rp385 Ribu Bawa Bakso di KLIA
5 Tempat Ayam Bakar Enak di Jakarta, Mulai Rp23.000
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
