Evans Batal Gestur, FIFA Tidak Temukan Pelanggaran, Selengkapnya

Hendra M. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Evans Batal Gestur, FIFA Tidak Temukan Pelanggaran, Selengkapnya

Gambar atau konten salah?

Shaun Shaun Evans terekam membuat gestur yang diartikan sebagai simbol supremasi kulit putih saat pertandingan Piala Dunia 2026 antara Jerman dan Curacao. Insiden terjadi pada 14 Juni 2026, di mana Evans, asisten wasit video berusia 38 tahun, menampilkan gerakan “OK” dengan ibu jari dan telunjuk mengarah ke bawah di ruang VAR.

FIFA segera merespons dengan mengumumkan penyelidikan. Dalam pernyataannya, badan ini menegaskan bahwa Komite Disiplin independen FIFA telah menyelidiki kasus tersebut dan tidak menemukan bukti pelanggaran terhadap Kode Disiplin FIFA. Komite menambahkan bahwa tidak ada indikasi bahwa Evans sengaja membuat gestur tersebut.

“Komite Disiplin independen FIFA dapat memastikan bahwa, setelah menyelidiki masalah yang melibatkan asisten wasit video Shaun Evans, tidak ditemukan bukti pelanggaran terhadap Kode Disiplin FIFA. Komite Disiplin juga telah mencatat pernyataan dari Bapak Evans,” kata Komite Disiplin FIFA.

Shaun Evans sendiri mengeluarkan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa ia tidak membuat gestur semacam itu. “Satu-satunya penjelasan yang bisa saya berikan adalah bahwa gerakan itu merupakan kedutan yang tidak disengaja dan tidak disadari. Dan saya tidak menyadari saya telah melakukannya saat itu. Gambar-gambar yang diambil kemudian selama pertandingan menunjukkan saya mengulangi gerakan ini berkali‑kali sambil memegang pulpen di antara jari‑jari saya,” jelas Shaun Evans.

Ia juga menambahkan, “Liputan media setelah insiden ini sama sekali tidak mencerminkan siapa saya. Tentu saja, saya memahami bagaimana gestur tersebut diinterpretasikan dan saya menyesalinya, namun saya ingin sangat jelas dan tegas menyatakan bahwa saya tidak secara sengaja atau dengan niat membuat simbol tangan yang disarankan.”

“Menjadi wasit di Piala Dunia adalah kehormatan terbesar dalam karier saya dan saya menantikan untuk mendukung rekan‑rekan saya selama sisa turnamen,” katanya.

Gestur yang dipertanyakan, yang dalam beberapa tahun terakhir sering digunakan oleh kelompok supremasi kulit putih, bermakna White Power. Gerakan tersebut terbentuk dari tiga jari tersisa yang menyerupai huruf W, sementara lingkaran ibu jari dan telunjuk ke bawah diasosiasikan dengan huruf P (yna/pur).

Insiden ini menyoroti sensitivitas terhadap simbolisme dalam olahraga global. Meskipun FIFA menegaskan tidak ada pelanggaran, kejadian ini mengingatkan semua pihak akan pentingnya kesadaran akan tindakan nonverbal yang dapat disalahpahami. Pihak berwenang dan para wasit kini lebih berhati-hati dalam mengekspresikan diri di depan kamera, sementara penonton di seluruh dunia tetap menunggu hasil pertandingan selanjutnya.

Shaun Evansgestur supremasi kulit putihFIFAVARPiala Dunia 2026Komite Disiplinsimbol white power

Komentar

Memuat komentar...