Fosil Ular Raksasa 3–4 m Ganti King Cobra di Yunani
Gambar atau konten salah?
King Cobra sering disebut ular berbisa terbesar yang diketahui manusia, namun klaim ini masih menimbulkan pertanyaan. Pada 01 Januari 1857, Richard Owen, ahli paleontologi Inggris yang menciptakan istilah dinosaurus, menemukan 13 fosil tulang belakang ular raksasa di dekat Thessaloniki, Yunani. Ia menamai spesies tersebut Laophis crotaloides dan mengklaim bahwa ular ini adalah yang terbesar yang pernah ada.
Owen tidak hanya mencatat keberadaan fosil, ia juga menghitung ukuran dan berat ular tersebut. Menurut catatannya, Laophis crotaloides memiliki berat sekitar 25,8 kg dan panjang antara 3 hingga 4 meter. Untuk dibandingkan, King Cobra yang kini diakui sebagai spesies ular berbisa terbesar dapat tumbuh hingga 5,5 meter namun beratnya jarang melebihi 9 kg. Dengan demikian, berat Laophis crotaloides hampir tiga kali berat King Cobra.
Temuan Owen sempat hilang selama 157 tahun. Baru-baru ini, satu fosil tunggal ditemukan kembali di wilayah yang sama, menguatkan kebenaran laporan awal Owen. Fosil tersebut menegaskan bahwa ular raksasa ini memang pernah hidup di wilayah Yunani, dan kemungkinan juga tersebar di tempat lain.
Menurut estimasi, Laophis crotaloides hidup sekitar 4 juta tahun yang lalu, ketika Bumi mengalami pendinginan dan ekosistem padang rumput modern mulai muncul. Habitatnya diperkirakan berupa padang rumput, vegetasi lebat, dan iklim dingin. Fenomena ini menimbulkan keheranan, mengingat sebagian besar ular modern hibernasi selama musim dingin dan hanya keluar saat cuaca hangat. Bagaimana Laophis crotaloides mampu bertahan dan tumbuh hingga ukuran tersebut masih menjadi misteri.
Penelitian lanjutan masih berlangsung. Para ilmuwan berpendapat bahwa spesies ini mungkin hidup di luar wilayah Yunani, namun belum ada bukti yang cukup. Satu-satunya fosil yang ditemukan belum memberikan informasi yang cukup tentang jenis bisa ular tersebut. Namun, karena Laophis crotaloides termasuk dalam kelompok ular beludak, para peneliti mengasumsikan bahwa bisa mereka mirip dengan ular beludak modern.
Ular beludak biasanya menyerang jaringan tubuh dan dapat menyebabkan kematian. Bisa mereka dapat menimbulkan necrosis (kematian jaringan), koagulopati (gangguan pembekuan darah), serta rasa sakit yang hebat. Selain itu, ular ini memiliki taring solenoglyphous panjang dan berongga, memungkinkan mereka menyuntikkan racun seperti jarum suntik.
Georgios Georgalis, seorang peneliti, percaya pola makan Laophis crotaloides sangat mirip dengan ular masa kini. Ia berpendapat bahwa ular ini memang hidup berdampingan dengan hewan berukuran besar, namun mangsanya lebih cenderung pada mamalia kecil seperti hewan pengerat. Georgalis pernah mempresentasikan temuannya tentang Laophis crotaloides kepada Society of Vertebrate Paleontology di Berlin. Ia berkata, “Ular ini memang sangat mengesankan. Kita benar-benar sedang membicarakan seekor monster!”
Menurut Georgalis, rasa penasarannya tidak hanya berasal dari ukuran ular, melainkan juga dari pertanyaan tentang perilaku monster semacam itu di wilayah beriklim sedang di Eropa. Sekitar 4 juta tahun lalu, iklim Bumi mendingin dan ekosistem padang rumput modern mulai bermunculan. Wilayah tempat Laophis ditemukan juga merupakan rumah bagi kura‑kura raksasa, beberapa di antaranya tumbuh sebesar mobil. Karena iklim sangat dingin, masih menjadi misteri bagaimana kura‑kura dan ular purba ini menjaga metabolisme mereka agar tetap cukup aktif untuk bisa tumbuh raksasa.
Walaupun masih banyak yang belum diketahui, temuan fosil ini membuka pintu bagi pemahaman baru tentang evolusi ular raksasa dan adaptasi mereka terhadap lingkungan yang berubah. Penelitian lebih lanjut diharapkan dapat mengungkap lebih banyak detail tentang kehidupan, perilaku, dan kemampuan bertahan hidup Laophis crotaloides di masa prasejarah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Elon Musk Bantah Rumor SpaceX Buat Ponsel AI
Gelombang Panas Pacu Eropa Banjir-Banjir AC China
Planet Mirip Bumi Ditemukan, Tapi Radiasi Jadi Masalah
Meta Gunakan RAM DDR4 Bekas di Server AI Baru
Ahli Bantah Gempa California dan Jepang Saling Terkait
Registrasi SIM Card Wajib Pindai Wajah Mulai Juli 2026
Berita Terbaru
Satpol PP Cianjur Bongkar 23 Kios Liar di Ciranjang
Klopp Dihubungi DFB, tapi Kontrak Red Bull Jadi Penghalang
Whoosh Angkut 184 Ribu WNA Sepanjang 2026
Prancis vs Paraguay: Rekor Buruk Menanti di 16 Besar Piala Dunia
Pemuda di Bondowoso Pilih Jual Cilok Meski Tinggal di Rumah Mewah
Tuchel Akui Ketinggian Azteca Jadi Keunggulan Meksiko
Xbox Tinggalkan Game Fisik, Generasi Baru Tanpa Disk Drive
Pertamina Buka Magang, Daftar Hanya 5 Hari
Kaktus Pir Berduri: Superfood Baru Jepang
