Gelombang Panas Eropa Dongkrak Penjualan AC Asia

Rini S. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Gelombang Panas Eropa Dongkrak Penjualan AC Asia

Gambar atau konten salah?

Gelombang panas yang melanda Eropa ternyata membawa berkah bagi produsen pendingin ruangan (AC) asal Asia. Bukan cuma Samsung Electronics, Midea, dan Mitsubishi Electric yang menikmati lonjakan permintaan. Perusahaan-perusahaan ini kebanjiran pesanan dari berbagai negara di Benua Biru. Penyebabnya jelas: suhu ekstrem yang memecahkan rekor di banyak wilayah Eropa.

Cuaca panas ini sudah menimbulkan korban jiwa. Pasokan listrik terganggu. Bahkan, beberapa sekolah terpaksa menghentikan kegiatan belajar. Di tengah situasi seperti itu, masyarakat dan pelaku usaha berbondong-bondong membeli AC portabel maupun AC permanen. Mereka butuh cara untuk bertahan menghadapi musim panas yang luar biasa.

Menurut laporan Reuters pada 7 Juli 2026, Samsung Electronics memperkirakan tren ini masih akan berlanjut. Suhu diprediksi terus meningkat dalam beberapa bulan ke depan. "Dengan suhu yang diperkirakan terus meningkat mulai Juni, kami memperkirakan permintaan akan tetap kuat sepanjang puncak musim pendinginan," kata Samsung Electronics.

LG Electronics juga merasakan hal yang sama. Perusahaan ini mengatakan lini produksi AC di salah satu pabriknya di Korea Selatan sudah beroperasi dengan kapasitas penuh sejak April. Mereka harus memenuhi permintaan musim panas dari Korea Selatan dan juga pasar global.

Produsen asal China, Midea, mengalami kondisi serupa. Permintaan untuk AC portabel PortaSplit melonjak tajam. Stok di beberapa jalur distribusi bahkan habis. Tingginya permintaan membuat harga unit bekas melampaui harga produk baru. Ini menunjukkan betapa paniknya masyarakat Eropa.

Midea menyebut pasar Italia, Spanyol, dan Prancis mencatat pertumbuhan penjualan dua digit sepanjang paruh pertama tahun ini. "Gelombang panas pada dua pekan terakhir Mei secara signifikan meningkatkan penjualan, terutama untuk AC PortaSplit yang habis terjual di beberapa saluran distribusi," ujar mereka.

Penjualan melalui kanal e-commerce di Jerman naik sekitar 37% pada Mei dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, pengiriman AC ke Spanyol dan Prancis melonjak hingga 108% secara tahunan. Angka-angka ini menunjukkan perubahan besar dalam kebiasaan belanja masyarakat Eropa.

Meningkatnya permintaan perangkat pendingin mencerminkan perubahan kebutuhan masyarakat Eropa di tengah dampak perubahan iklim yang semakin nyata. Selama ini, penggunaan AC di Eropa masih jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara Asia. Banyak bangunan tua di Eropa yang membuat pemasangan AC menjadi lebih rumit dan mahal.

Menurut Midea, biaya pemasangan AC di Eropa bisa mencapai lebih dari 1.000 euro atau sekitar Rp 20 juta. Besarnya biaya ini membuat banyak rumah tangga belum mampu memasang pendingin ruangan. Data International Energy Agency (IEA) menunjukkan tingkat kepemilikan AC di Eropa baru sekitar 20%.

Gelombang panas yang berkepanjangan diperkirakan akan terus menguntungkan negara-negara produsen AC seperti China, Jepang, dan Korea Selatan. Namun, cuaca ekstrem juga menjadi tantangan tersendiri bagi kelompok rentan. Lansia dan penderita penyakit kronis lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat suhu tinggi.

Beberapa perusahaan di Eropa mulai menerapkan berbagai langkah untuk melindungi pekerja lapangan. Mereka membagikan kotak pendingin berisi handuk pendingin yang dapat digunakan kembali. Ada juga pendingin pergelangan tangan berbahan aktif air, hingga pelindung leher dari paparan sinar ultraviolet.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) sebelumnya menyebut Eropa merupakan kawasan yang mengalami pemanasan lebih dari dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Ini bukan sekadar tren musiman. Ini adalah perubahan struktural.

Direktur Konsultan dan Layanan Perhotelan Global HVS, Alexandra Dumoulin, mengatakan AC awalnya merupakan investasi yang hanya terkonsentrasi pada properti mewah. Tapi dengan kondisi suhu ekstrem saat ini, AC menjadi kebutuhan pasti untuk semua kategori. "Kita sudah mengalami gelombang panas ini selama kurang lebih satu dekade terakhir. Dan industri perhotelan sudah mulai bergerak, investasi pendingin ruangan di hotel-hotel Eropa telah meningkat secara signifikan," ungkapnya.

Dumoulin menegaskan kini hotel-hotel tanpa pendingin ruangan lebih banyak dikeluhkan oleh wisatawan. Mereka mendapatkan rating buruk. Ini menunjukkan bahwa AC bukan lagi barang mewah di Eropa, melainkan kebutuhan dasar.

Gelombang panas di Eropa telah mengubah pola konsumsi dan investasi. Produsen AC Asia menjadi pihak yang paling diuntungkan. Sementara itu, masyarakat Eropa harus beradaptasi dengan realitas iklim baru yang lebih panas. Biaya pemasangan yang tinggi dan infrastruktur bangunan tua menjadi hambatan utama. Namun, tekanan suhu ekstrem memaksa perubahan ini terjadi lebih cepat dari perkiraan.

gelombang panaspendingin ruanganprodusen AC Asialonjakan permintaanEropaperubahan iklimkebutuhan dasar

Komentar

Memuat komentar...