Gubernur Bicarakan Kenaikan Harga BBM Non‑Subsidi, Rencana
Gambar atau konten salah?
Gubernur Indonesia membuka perbincangan mengenai kenaikan harga bahan bakar non‑subsidi pada Sabtu, 18 April 2024. Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), penyesuaian harga mengikuti dinamika pasar global.
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menjelaskan bahwa keputusan pemerintah merupakan respons terhadap kondisi pasar internasional. “Kita memahami bahwa penyesuaian harga BBM non‑subsidi merupakan bagian dari mekanisme yang mengikuti dinamika harga minyak dunia dan nilai tukar, sehingga ini merupakan respons terhadap kondisi pasar global,” ujarnya.
Dwi Anggia menambahkan bahwa negara tetangga telah menaikkan harga bahan bakar terlebih dahulu. Ia menegaskan bahwa rentang kenaikan sangat tinggi. “Yang terpenting sekarang adalah memastikan harga transparan, kompetitif, dan tak menimbulkan distorsi di pasar,” katanya.
Ia menekankan bahwa pemerintah akan menjaga harga BBM subsidi, seperti Pertalite dan Solar Subsidi, agar tidak naik. “Namun demikian sekali lagi, kita pasti bisa melewati kondisi ini dengan kerja sama dan dukungan dari masyarakat. InsyaAllah kita bisa survive,” ia berseru.
PT Pertamina (Persero) telah menyesuaikan harga BBM di Indonesia pada hari itu. Tiga jenis bahan bakar terdampak: Pertamax Turbo, Dexlite dan Pertamina Dex.
Menurut mypertamina.id, harga Pertamax Turbo kini mencapai Rp 19.400/liter, naik Rp 6.300/liter dari Rp 13.100/liter sebelumnya.
Sementara Dexlite dijual seharga Rp 23.600/liter, meningkat Rp 9.400/liter dibandingkan bulan lalu. Pertamina Dex kini dibanderol Rp 23.900/liter, naik dari Rp 14.500/liter.
Meski demikian, Pertamina tetap menahan harga BBM subsidi. Pertalite masih dijual Rp 10.000/liter dan Solar tetap Rp 6.800/liter. Selain itu, BBM non‑subsidi jenis lain tidak mengalami perubahan: Pertamax masih Rp 12.300/liter dan Pertamax Green Rp 12.900/liter.
Dengan penyesuaian harga ini, pemerintah menekankan pentingnya transparansi dan stabilitas harga, serta perlindungan bagi masyarakat rentan. Kenaikan harga non‑subsidi diharapkan dapat menyesuaikan diri dengan kondisi pasar global tanpa mengorbankan daya beli konsumen.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Toyota Panggil Produsen Jepang Bersatu Lawan Mobil China
Tragedi Indramayu: 12 Tewas Akibat Pikap Angkut Manusia
BYD Tabrak Kaca Gedung SCBD, Sopir Salah Injak Pedal
Mitsubishi Luncurkan XForce Hybrid, SUV Irit Pertama
Recall Stiker, Subaru Tarik 541 Ribu Mobil di AS
Rincian Tarif SWDKLLJ 2025, Dari Motor hingga Truk
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
