Harga Biji Plastik Naik, Pindah Impor ke Afrika, India, AS
Gambar atau konten salah?
Maman Abdurrahman, Menteri Usaha Mikro Kecil dan Menengah, mengungkapkan bahwa ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah telah mengganggu pasokan bahan baku plastik. Konflik antara Iran dan gabungan Amerika Serikat–Israel menurunkan kelancaran logistik pengiriman. Akibatnya, harga biji plastik, atau nafta, melonjak secara signifikan.
“Bahan baku dari plastik itu kan biji plastik, itu kan nafta. Nah, itu memang supply pasokannya sebagian besar didapat dari negara-negara Timur Tengah. Nah, dengan adanya konflik ini tentunya terhambat kan, akhirnya makanya naiknya signifikan,” ujar Maman di Gedung Smesco, Jakarta Selatan, Kamis 09 April 2026.
Untuk menstabilkan harga di dalam negeri, pemerintah menyiapkan solusi jangka pendek. Fokusnya adalah mengalihkan impor biji plastik ke negara yang dianggap aman secara geopolitik. Maman menyebutkan bahwa tiga negara baru akan menjadi pemasok utama: Afrika, India, dan Amerika Serikat.
“Nah sekarang ini kita sudah dapat dari Afrika, India dan Amerika. Nah sekarang lagi proses administrasi dan pengiriman dan segala macemnya,” kata Maman.
Ia juga menegaskan bahwa kejadian ini menjadi catatan evaluasi penting bagi pemerintah. Saat ini, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian tengah menindaklanjuti rencana pengalihan impor biji tersebut.
“Nah sekarang ini kementerian perdagangan, karena itu kan wewenangnya di sana tuh, Kementerian Perdagangan sedang melakukan tindak lanjut untuk mengambil supply nafta dari Afrika, India dan Amerika Serikat,” terang Maman.
Dengan langkah ini, pemerintah berharap dapat mengurangi ketergantungan pada wilayah rawan konflik dan menjaga kestabilan harga bahan baku plastik di pasar domestik.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
