Harga Emas Turun, Energi Mengguncang Pasokan Meski Konflik
Gambar atau konten salah?
Jakarta: emas tetap dianggap komoditas aset aman atau safe haven bagi para investor. Pada masa konflik antara Amerika Serikat dan Iran, harga emas melonjak ketika banyak investor membeli secara masif. Namun, belakangan ini harga emas justru menunjukkan tren turun.
Menurut Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta, Yazid Kanca Surya, ketegangan geopolitik membuat pasar khawatir karena jalur distribusi energi terancam. Ketika perang pecah di Timur Tengah, pasokan minyak dan gas menjadi terhambat.
Yazid menyatakan, “Di emas pun mungkin sebelum perang Iran, banyak negara-negara yang mengumpulkan emas. Cuma ada pernah terjadi perangnya semakin tinggi, harga emasnya turun. Nah, itu kenapa? Karena faktor energi,” ia bilang di Jakarta Pusat, Rabu (15 April 2026).
Ia menambahkan bahwa negara produsen emas harus memastikan likuiditas saat gangguan pasokan energi, sebagai antisipasi ketika harga energi global melonjak. Dengan begitu, kelebihan pasokan di pasar dapat menurunkan harga emas meski ketegangan perang tinggi.
“Jadi, itu kadang-kadang harusnya secara fundamental kan perang makin dahsyat. Harusnya emas naik dong, itu safe haven commodity, tapi enggak, itu turun. Karena apa? Karena yang diganggu energi. Energi diganggu, alhasil orang perlu likuiditas. Supaya suatu saat dia mau beli minyak dari mana pun yang lebih mahal pun, itu negara itu aman,” ujarnya.
Yazid menjelaskan bahwa pasar komoditas global kini mengalami pergeseran perilaku. Dulu, perdagangan fokus pada efisiensi harga termurah, sekarang lebih menitikberatkan pada kepastian pasokan. Dalam kondisi pasar yang semakin sensitif dan sulit diprediksi, ia mengingatkan pelaku usaha dan investor agar tidak lagi hanya mengandalkan pola lama.
Di Bursa, peran hedging dan price discovery tetap diperkuat. Transaksi di bursa tetap bergairah, dengan dominasi produk seperti timah yang mencapai 95% transaksi nasional.
Di sektor derivatif, kontrak olein (OLE01) mencatat kontribusi 38,7% dari total volume transaksi Exchange Traded Derivatives (ETD) JFX, setara dengan 615.028 lot. Sementara itu, kontrak Loco Gold mendominasi aktivitas transaksi OTC dengan porsi mencapai 85,2% dari total volume.
“Jadi apa respons kita? Kita melakukan pengembangan produk ini juga sebagai respons terhadap kebutuhan pasar saat ini. Itu kenapa? Karena tadi perubahan struktur pasar jadi pengembangan produk menjadi bagian penting dalam pendalaman pasar,” jelasnya.
Secara keseluruhan, dinamika harga emas saat ini dipengaruhi lebih banyak oleh faktor energi dan pasokan daripada konflik geopolitik semata. Investor disarankan untuk memperhatikan pergeseran fokus pasar dari harga ke kepastian pasokan, serta memanfaatkan produk-produk hedging yang tersedia di bursa.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Pedagang Valas Kaki Lima di Jalan Kwitang Terima Dolar Rusak
BGN Digeledah, Pimpinan Baru Fokus Perbaikan Tata Kelola
AS Pasang Tarif 10‑12,5% ke Barang Indonesia dan 59 Negara
IHSG Turun 4,11% di Tengah Sesi, Rupiah Menguat
Grab Tegaskan Tidak Keluar Indonesia, Tetap Komitmen Lanjut
SKK Migas Catat 1,500 BOPD Saat Ini, Target 20,000 BOPD
Berita Terbaru
Empat Anakan Harimau Sumatra Lahir di Taman Safari Prigen
Operasi Patuh 2026: 14 Hari Tepatkan Lalu Lintas Nasional
Vlahovic Bebas: Arsenal Tertarik, Juventus Tak Berikan Kontrak
Fabiola Elizabeth Tersangka Penipuan Online Internasional
Pedagang Valas Kaki Lima di Jalan Kwitang Terima Dolar Rusak
Kebakaran 4 Ha di Bangka Barat Padam dalam 1 Jam pada 3 Juni
Khutbah Jumat Akhir Tahun: Refleksi dan Muhasabah 1447 H
