Hari Asyura 10 Muharram: Doa Khusus Dibaca 25 Juni 2026

Lia N. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Hari Asyura 10 Muharram: Doa Khusus Dibaca 25 Juni 2026

Gambar atau konten salah?

Hari Asyura, yang jatuh pada tanggal 10 Muharram setiap tahun, dianggap sebagai hari istimewa bagi umat Islam. Pada hari ini, umat dianjurkan melakukan beberapa amalan, salah satunya adalah membaca doa khusus Asyura.

Menurut buku Kalender Ibadah Sepanjang Tahun karya Ust. Abdullah Faqih Ahmad Abdul Wahid, doa Asyura memiliki banyak keutamaan. Salah satu keutamaannya adalah hati yang membaca doa tersebut tidak akan mati dan dijauhkan dari segala keburukan sepanjang tahun.

Berikut lafal doa Asyura yang dianjurkan untuk dibaca:

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلِ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرِ. سُبْحَانَ اللهِ مِلْءَ الْمِيزَانِ وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَزِنَةَ الْعَرْشِ لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوِتْرِ. وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ كُلِّهَا نَسْأَلُكَ السَّلَامَةَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ. وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِي الْعَظِيمِ. وَهُوَ حَسْبُنَا وَنِعْمَ الْوَكِيلِ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Arab Latin: Hasbunallaah wani'mal wakil, ni'mal maulaa wani'man nashiir. Subhaanallaahi mil-al miizaani wa muntahal 'ilmi wa mablaghar ridhaa wazinatal 'arsyi. Laa malja-a minallaahi illaa ilaihi subhaanallaahi 'adadasy syaf'i wal witir. Wa 'adada kalimatillaahit taammaati kullaha, nas-alukas salaamata birahmatika yaa arhamar raahimiin. Walaa haula walaa quwwata illaa billaahil 'aliyyil 'azhiim. Wahuwa hasbunaa wani'mal wakil, ni'mal maulaa wani'man nashiir. Washallallaahu 'alaa sayyidinaa muhammadin wa 'alaa aalihii washahbihii wasallam.

Artinya: “Cukuplah Allah yang menjadi penolong dan kami, dan Allah adalah sebaik‑baik Pelindung. Maha Suci Allah sepenuh mizan (timbangan), setinggi ilmu, sebanyak keridhaan, dan setimbang ‘Arsy. Tiada tempat untuk menyelamatkan diri, dan tiada tempat untuk bersandar, melainkan kepada Allah. Maha Suci Allah sebanyak bilangan yang genap dan ganjil, dan sebanyak kalimat yang sempurna kesemuanya. Saya memohon keselamatan kepada‑Mu dengan rahmat‑Mu, wahai Dzat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dan, tiada daya dan kekuatan, melainkan dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Cukuplah Allah yang memeliharaku, tempatku berpegang, dan sebaik‑baik Pemberi pertolongan. Semoga Allah memberikan rahmat atas nabi kita, penghulu kami, Muhammad. Kemudian, juga kepada keluarga dan para sahabat nabi kesemuanya.”

Doa ini biasanya dibaca sebanyak tujuh kali, namun lebih utama jika dibaca tujuh puluh kali, sesuai dengan petunjuk dalam buku tersebut.

Waktu membaca doa Asyura adalah setelah sholat Maghrib pada tanggal 10 Muharram. Menurut kalender Hijriah yang disusun Kementerian Agama RI, 10 Muharram 1448 H bertepatan dengan Kamis, 25 Juni 2026.

Perihal tata cara, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Beberapa ulama membolehkan doa Asyura dibaca secara langsung setelah Maghrib. Namun, ulama lain menganjurkan agar doa tersebut didahului dengan sholat sunnah empat rakaat, lengkap dengan dua kali salam.

Setiap rakaat sholat sunnah tersebut dianjurkan membaca surat Al‑Fatihah dan Al‑Ikhlas sebanyak lima puluh kali. Setelah menyelesaikan sholat sunnah, maka doa Hari Asyura dibaca sesuai dengan lafal yang telah disebutkan.

Dengan mengikuti tata cara ini, umat dapat merasakan keutamaan doa Asyura, yakni hati yang dilindungi dan tidak mati selama tahun tersebut. Doa ini menjadi bagian penting dalam ibadah sehari‑harinya bagi mereka yang ingin memperkuat hubungan spiritual dengan Allah.

Dalam praktiknya, membaca doa Asyura secara konsisten dan sesuai jadwal dapat membantu memperdalam kesadaran spiritual. Hal ini juga dapat menjadi pengingat akan nilai-nilai keagamaan yang penting bagi kehidupan sehari‑harinya.

Hari Asyuradoa Asyura10 MuharramMaghribsholat sunnahulamaKalender Hijriah

Komentar

Memuat komentar...