Hipertensi Diam-Diam Rusak Jantung, Otak, hingga Ginjal
Gambar atau konten salah?
Tekanan darah tinggi, atau yang sering disebut hipertensi, adalah kondisi medis yang bisa terjadi tanpa disadari. Seseorang bisa mengalaminya selama bertahun-tahun tanpa merasakan gejala yang jelas. Baru setelah kerusakan terjadi, masalah baru mulai muncul. Secara umum, seseorang dianggap memiliki hipertensi jika tekanan darahnya mencapai angka 130/80 mmHg atau lebih tinggi dari itu.
Angka tersebut bukan sekadar angka. Ini adalah indikator bahwa ada tekanan ekstra yang terus-menerus bekerja pada dinding pembuluh darah di seluruh tubuh. Lama-kelamaan, tekanan ini bisa menyebabkan kerusakan serius pada berbagai organ. Dampaknya tidak hanya terasa pada satu titik, tetapi bisa menyebar ke seluruh sistem tubuh.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr Vito Damay, SpJP, menjelaskan bahwa kerusakan yang terjadi di dalam tubuh bisa sangat berbahaya. Ia menyebutkan bahwa plak yang terbentuk di pembuluh darah koroner bisa pecah. Jika itu terjadi, pembuluh darah yang seharusnya mengirimkan oksigen dan nutrisi ke jantung menjadi tersumbat. Akibatnya bisa berupa serangan jantung, kerusakan permanen pada otot jantung, atau bahkan henti jantung yang terjadi secara tiba-tiba.
Untuk memahami betapa seriusnya hipertensi, penting untuk melihat bagaimana tekanan darah tinggi mempengaruhi setiap bagian tubuh secara spesifik.
Kerusakan pada Arteri
Arteri yang sehat seharusnya bersifat fleksibel, elastis, dan kuat. Bagian dalamnya juga halus, sehingga darah bisa mengalir dengan lancar untuk mengirimkan nutrisi dan oksigen ke organ serta jaringan. Namun, tekanan darah tinggi mengubah semuanya. Seiring waktu, tekanan ini merusak sel-sel yang ada di lapisan dalam arteri.
Akibatnya, dinding arteri menjadi kurang elastis. Aliran darah ke seluruh tubuh menjadi terbatas. Ini disebut sebagai penyempitan arteri. Selain itu, ada juga kondisi yang disebut aneurisma. Ini adalah kondisi di mana sebagian dinding arteri mengalami pembengkakan karena tekanan yang terus-menerus. Dinding arteri yang melemah bisa menyebabkan aneurisma pecah, yang kemudian memicu perdarahan di dalam tubuh.
Kerusakan pada Jantung
Jantung adalah organ yang paling langsung merasakan dampak dari tekanan darah tinggi. Ketika tekanan darah tinggi, jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah. Ini tidak bisa bertahan lama. Seiring waktu, otot jantung bisa melemah atau menjadi kaku.
Kondisi ini bisa menyebabkan beberapa gangguan. Pertama, penyakit arteri koroner. Aliran darah yang tidak mencukupi ke jantung bisa menyebabkan nyeri dada, yang dikenal sebagai angina. Ini juga bisa memicu irama jantung yang tidak teratur, atau aritmia, hingga serangan jantung.
Kedua, gagal jantung. Jantung yang bekerja terlalu keras akhirnya tidak mampu berfungsi sebagaimana mestinya. Ini menyebabkan jantung perlahan-lahan mengalami gagal jantung. Ketiga, iskemia. Ini adalah kondisi di mana pembuluh darah yang rusak membentuk plak, sehingga pasokan oksigen ke jantung berkurang.
Dalam jangka panjang, iskemia bisa membuat otot jantung melemah. Kemampuan pompa jantung menurun. dr Vito Damay juga menambahkan bahwa iskemia pada otot jantung bisa menyebabkan konslet kelistrikan jantung yang fatal dan mendadak.
Kerusakan pada Otak
Otak sangat bergantung pada pasokan darah yang kaya akan nutrisi dan oksigen. Tanpa pasokan yang cukup, otak tidak bisa berfungsi. Tekanan darah tinggi bisa menyebabkan berbagai gangguan pada otak.
Salah satu yang paling serius adalah stroke. Stroke terjadi ketika sebagian otak tidak mendapatkan cukup oksigen dan nutrisi, atau saat terjadi perdarahan di dalam maupun sekitar otak. Pembuluh darah yang rusak akibat tekanan darah tinggi bisa menyempit, pecah, atau bocor. Hipertensi juga bisa memicu pembentukan bekuan darah di arteri yang menuju ke otak.
Selain stroke, ada juga demensia. Penyempitan atau penyumbatan arteri bisa membatasi aliran darah ke otak. Ini bisa menyebabkan jenis demensia tertentu, yang dikenal sebagai demensia vaskular. Ada juga gangguan kognitif ringan. Ini adalah kondisi yang menyebabkan kesulitan dalam mengingat, berbahasa, maupun berpikir.
Kerusakan pada Ginjal
Ginjal membutuhkan pembuluh darah yang sehat untuk bisa berfungsi dengan baik. Tekanan darah tinggi bisa merusak pembuluh darah di dalam maupun yang menuju ke ginjal. Jika hipertensi terjadi bersamaan dengan diabetes, risiko kerusakan ginjal menjadi lebih besar. Ketika ginjal tidak lagi mampu berfungsi dengan baik, kondisi serius seperti gagal ginjal bisa terjadi.
Kerusakan pada Mata
Mata juga tidak luput dari dampak hipertensi. Tekanan darah tinggi bisa merusak pembuluh darah kecil dan halus yang memasok darah ke mata. Ini bisa menyebabkan beberapa kondisi. Retinopati adalah kerusakan pada pembuluh darah retina. Ini bisa menyebabkan perdarahan pada mata, penglihatan kabur, hingga kehilangan penglihatan total.
Ada juga koroidopati, yaitu penumpukan cairan di bawah retina. Salah satu dampaknya adalah penglihatan menjadi terdistorsi. Selain itu, ada neuropati optik, yaitu kerusakan pada saraf optik akibat aliran darah yang terhambat. Ini bisa menyebabkan perdarahan di dalam mata maupun kehilangan penglihatan.
Diet DASH untuk Pengidap Hipertensi
Meskipun hipertensi bisa merusak banyak organ, ada cara untuk mengendalikannya. Salah satu cara yang paling dianjurkan adalah melalui pola makan. Spesialis penyakit dalam dari Primaya Evasari Hospital, dr Anna Puteri Gozali, SpPD, menjelaskan bahwa ada diet khusus yang direkomendasikan untuk pasien hipertensi.
"Salah satu diet yang dianjurkan untuk pasien hipertensi adalah DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension)," katanya. Namun, untuk melakukan diet ini ada beberapa prinsip yang harus diterapkan, agar bisa membantu tekanan darah pasien kembali terkendali.
Prinsip-prinsip dari diet DASH ini cukup sederhana. Pertama, batasi asupan natrium atau garam. Konsumsi garam harus kurang dari 1500 mg, atau kurang dari 1 sendok teh setiap hari. Kedua, batasi makanan berlemak tinggi. Ini termasuk daging yang berlemak, susu full cream, dan minyak kelapa sawit.
Ketiga, batasi gula dari makanan dan minuman manis. Keempat, tingkatkan asupan serat. Serat bisa didapatkan dari sayuran, buah-buahan, dan gandum utuh. Kelima, tingkatkan asupan makanan rendah lemak. Ini termasuk susu rendah atau bebas lemak, ikan, daging unggas, dan kacang-kacangan.
Dengan mengikuti prinsip-prinsip ini, tekanan darah bisa lebih terkendali. Ini bukan hanya tentang menghindari makanan tertentu, tetapi juga tentang mengganti dengan pilihan yang lebih sehat.
Hipertensi adalah kondisi yang serius, tetapi bisa dikelola. Dengan memahami dampaknya pada berbagai organ tubuh, dan dengan menerapkan pola makan yang tepat, risiko kerusakan bisa dikurangi. Ini adalah langkah kecil yang bisa membuat perbedaan besar dalam jangka panjang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Hotto Gandeng Indro Warkop: Sehat Itu Keharusan, Bukan Ditunda
Mata Tua Kini Banyak Ditemukan pada Usia Lebih Muda
Hipertensi Kini Ancam Kaum Muda, Waspada Silent Killer
Ahli Bantah Klaim Manfaat Campuran Bubuk Protein dan Diet Coke
Kanker usus buntu melonjak tiga kali lipat pada usia muda
Dr. Sethi Ungkap 5 Aturan Makan Chia Seed yang Benar
Berita Terbaru
Hipertensi Diam-Diam Rusak Jantung, Otak, hingga Ginjal
Kontroversi Kuliner Halal di Bali, Netizen Sindir Minta Saran Nonhalal
Pecinan Glodok jadi wisata malam baru, 60 UMKM siap meramaikan
Matheus Cunha Cetak Dua Gol di Debut Piala Dunia
China Perketat Ekspor Indium, Picu Kekhawatiran Pasar Global
Hasil SPMB Jateng 2026 Diumumkan Hari Ini
Persaingan Grup F Piala Dunia 2026 Memanas
Pertamina Racing Series Cetak 106 Pembalap Muda