IHSG Ambruk 1% ke 6.320, Rupiah dan Minyak Tekan Pasar
Gambar atau konten salah?
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan pada perdagangan hari ini. Setelah sempat menguat di awal sesi dan menyentuh level 6.400-an, indeks saham utama Indonesia ini justru berbalik arah dan turun lebih dari satu persen.
Data dari RTI Business menunjukkan IHSG melemah 1,02% ke posisi 6.320,07 pada pukul 11.22 WIB. Sepanjang perdagangan, indeks sempat menyentuh level tertinggi di 6.423,83 saat pembukaan. Namun, tekanan jual yang cukup deras membuat IHSG jatuh ke titik terendah intraday di 6.277,68.
Ada beberapa faktor yang mendorong pelemahan ini. Salah satu yang utama adalah melemahnya nilai tukar rupiah. Tekanan terhadap rupiah terjadi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global dan ketidakpastian arah kebijakan Bank Indonesia (BI).
Pelaku pasar saat ini tengah menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang dijadwalkan berlangsung pada 22-23 September. Bukan hanya keputusan suku bunga acuan atau BI-Rate yang menjadi sorotan. Pasar juga ingin melihat arahan BI mengenai stabilitas nilai tukar rupiah ke depan.
Dalam risetnya, BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa perhatian pasar tertuju pada seberapa besar ruang pelonggaran moneter yang masih dimiliki BI. Hal ini penting mengingat suku bunga global diperkirakan akan tetap tinggi dalam waktu yang lebih lama, atau dikenal dengan istilah higher for longer.
"Fokus pasar bukan hanya keputusan BI-Rate, tetapi juga guidance BI terkait stabilitas Rupiah dan ruang pelonggaran moneter di tengah higher-for-longer global," tulis riset BRI Danareksa Sekuritas pada Selasa, 22 September 2026.
Selain kebijakan moneter, harga minyak dunia juga menjadi perhatian. Harga minyak mentah jenis Brent tercatat kembali naik ke level US$ 100,57 per barel. Kenaikan harga minyak ini ikut membebani pergerakan IHSG.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah terus berada di bawah tekanan. Kurs transaksi BI per 22 September tercatat di level Rp17.902 per dolar AS. Kombinasi antara harga minyak yang tinggi dan rupiah yang lemah menjadi faktor yang terus dipantau oleh pelaku pasar.
"Kombinasi oil dan rupiah tetap menjadi perhatian IHSG," demikian bunyi riset tersebut.
Faktor lain yang ikut menjadi biang kerok pelemahan IHSG adalah kebijakan baru Bursa Efek Indonesia (BEI). BEI berencana menghapus batas minimum harga saham dari Rp50 menjadi Rp1. Kebijakan ini akan mulai berlaku pada 28 September 2026.
Penghapusan batas minimum harga saham ini dinilai akan berdampak negatif terhadap 46 saham yang saat ini berada di level harga terendah di BEI. Saham-saham tersebut memiliki harga Rp50 dan akan memiliki ruang untuk diperdagangkan di bawah level tersebut setelah kebijakan baru diterapkan.
"BEI akan menghapus batas minimum Rp50 menjadi Rp1 mulai 28 September 2026. Perubahan ini terutama berdampak pada saham berharga rendah; 46 saham yang saat ini berada di Rp50 akan memiliki ruang perdagangan di bawah level tersebut," tulis riset BRI Danareksa Sekuritas.
Sementara itu, riset dari MNC Sekuritas juga menyoroti pelemahan rupiah sebagai sentimen negatif utama. Pasar juga menanti hasil RDG BI di tengah kebijakan pengetatan moneter dari bank sentral lain seperti ECB, The Fed, dan BoJ.
Eskalasi geopolitik antara Rusia dan Ukraina, rencana perundingan AS-Iran, serta kunjungan kontingen China ke AS turut menjadi perhatian pelaku pasar. Harga minyak mentah terpantau naik tipis dan bergerak di rentang US$ 92 hingga US$ 101 per barel.
Dari sisi teknikal, MNC Sekuritas mencatat bahwa IHSG sudah mencapai area 6.290 yang sekaligus merupakan level MA60. Jika level support berikutnya di 6.279 berhasil ditembus, maka IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan ke area 6.186 hingga 6.201 dan menutup celah atau gap yang ada.
"Dari sisi teknikal, area 6,290 sekaligus MA60 sudah tercapai oleh IHSG. Area support berikutnya dapat dicermati 6.279, apabila break maka IHSG akan mengarah ke 6.186-6.201 sekaligus menutup gap-nya," ungkap riset MNC Sekuritas.
Pelemahan IHSG hari ini menunjukkan bagaimana pasar saham Indonesia masih rentan terhadap tekanan eksternal dan internal. Kombinasi antara pelemahan rupiah, kenaikan harga minyak, ketidakpastian kebijakan moneter global, serta perubahan aturan di bursa efek menjadi faktor-faktor yang saling memperkuat tekanan jual di pasar.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
IHSG Anjlok 1,11% ke 6.313, 513 Saham Melemah
IHSG Anjlok 1,69% ke 6.277, Rontok 27,41% Sepanjang 2025
IFG Life Bayar Klaim Rp9,4 Triliun hingga Juli 2026
Pelatihan WPPE Buka Peluang Karier di Pasar Modal
Mentan: Hentikan Impor Beras, Petani di Negara Lain Demo
Manajer Kopdes Bukan Pegawai BUMN, Kata Danantara