Ikan Asin Tertarik Risiko Kanker Nasofaring Tinggi
Gambar atau konten salah?
Ikan asin, atau ikan yang diawetkan dengan garam, sudah lama menjadi hidangan favorit di Indonesia. Namun, beberapa studi baru saja mengangkat kembali perhatian publik terhadap potensi risiko kesehatan yang terkait dengannya, khususnya kanker nasofaring.
Kanker nasofaring menyerang bagian atas tenggorokan yang terletak di belakang hidung. Penyakit ini cukup sering ditemukan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, serta di wilayah China Selatan, Afrika Utara, dan kawasan Arktik. Menurut data Indonesia Cancer Care Community (ICCC), penyebab pasti kanker nasofaring belum diketahui secara pasti. Namun, banyak penelitian menunjukkan bahwa pola makan dapat memengaruhi risiko terkena penyakit ini.
Berbagai studi secara konsisten menemukan bahwa orang yang sering mengonsumsi ikan asin memiliki risiko lebih tinggi mengalami kanker nasofaring dibandingkan mereka yang jarang atau tidak mengonsumsinya. Risiko ini juga dilaporkan meningkat seiring semakin sering dan semakin lama seseorang mengonsumsi ikan asin. Temuan menarik lainnya menunjukkan hubungan tersebut lebih kuat jika kebiasaan makan ikan asin sudah dimulai sejak masa kanak‑kanak, terutama sebelum usia 10 tahun. Risiko pada kelompok ini lebih tinggi dibandingkan mereka yang baru mulai mengonsumsi ikan asin saat beranjak dewasa.
ICCC menjelaskan bahwa salah satu mekanisme yang mungkin menjadi penghubung antara ikan asin dan kanker nasofaring adalah terbentuknya senyawa N‑nitroso di dalam tubuh. Senyawa tersebut dapat muncul dari reaksi antara kandungan amina pada ikan dengan nitrat atau nitrit yang terdapat dalam garam selama proses pengawetan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa senyawa N‑nitroso termasuk kelompok zat yang bersifat karsinogenik atau berpotensi memicu kanker. Selain ikan asin, beberapa makanan yang diawetkan dengan garam lainnya juga kerap dikaitkan dengan risiko serupa, termasuk berbagai jenis makanan fermentasi dan diawetkan yang umum dikonsumsi di sejumlah negara Asia.
Peneliti juga menduga konsumsi ikan asin dapat berhubungan dengan aktivasi virus Epstein‑Barr (EBV). Virus ini sangat umum ditemukan pada manusia; sebagian besar orang dewasa pernah terpapar virus ini, namun hanya sebagian kecil yang kemudian berkembang menjadi kanker nasofaring. Para peneliti meyakini bahwa munculnya kanker nasofaring kemungkinan dipengaruhi kombinasi berbagai faktor, mulai dari paparan virus, faktor lingkungan, pola makan, hingga kerentanan genetik.
ICCC mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai sejumlah gejala yang dapat muncul pada kanker nasofaring, di antaranya:
- Benjolan di leher
- Hidung tersumbat yang tidak kunjung membaik
- Mimisan berulang
- Telinga berdenging
- Gangguan pendengaran
- Nyeri telinga
- Sakit kepala
- Kesulitan bernapas
- Kesulitan berbicara
Jika gejala-gejala tersebut muncul dan berlangsung terus‑menerus, masyarakat dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. Di Indonesia sendiri, kanker nasofaring termasuk salah satu kanker kepala dan leher yang paling sering ditemukan. Angka kejadiannya mencapai sekitar 6,2 kasus per 100.000 penduduk.
Dengan demikian, meskipun ikan asin tetap menjadi bagian penting dari kebudayaan kuliner Indonesia, penting bagi masyarakat untuk memperhatikan pola konsumsi. Mengetahui potensi risiko dan gejala awal dapat membantu deteksi dini, yang pada akhirnya dapat meningkatkan peluang pengobatan dan pemulihan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Forum BPOM dan Kemenkes Bahas Gula Tersembunyi di Produk
Niven Hopkins, 26, Menghadapi Gagal Ginjal Akhir Asam Urat
Kopi Diet Tanpa Gula: 5 Racikan Menurunkan Berat Badan
Anak 7 Tahun di India Kembali Sehat Tanpa Dialisis Sudah
5 Sayuran Ringan Bantu Turunkan Lemak Viseral Hanya 30 Hari
Lalat Parasit Baru Menyerang Sapi di Texas, Dampak Ekonomi
Berita Terbaru
Monyet Liar Kehadiran Mengganggu Madrasah di Pasuruan
Tiga Resep Daging Sapi Jawa: Ragam Rasa Tradisional
Renang Indonesia: 26 Nomor, 400 Peserta, Tiga Hari Kompetisi
PPPK Guru Sekolah Rakyat 2026: 3.053 Formasi Ditawarkan
Forum BPOM dan Kemenkes Bahas Gula Tersembunyi di Produk
Rudi Garcia Tegaskan Lukaku Tidak Starter di Piala Dunia
Perez Janji 150 Juta Euro Transfer Pemain Baru Real Madrid
Indonesia Siapkan Bursa Mineral Strategis, Operasi Mulai 2027
Bank Aladin Syariah Laba 304% Jadi Rp 150,7 Miliar 2025
