Indonesia Dorong Koperasi Jadi Garda Depan Ketahanan Pangan ASEAN

Fitri A. · 4 min baca · 1 jam lalu · 25 dibaca
Bisik.id
Indonesia Dorong Koperasi Jadi Garda Depan Ketahanan Pangan ASEAN

Gambar atau konten salah?

Yogyakarta menjadi tuan rumah pertemuan penting negara-negara ASEAN yang membahas masa depan koperasi pertanian. Lewat forum ini, Indonesia mendorong kerja sama regional untuk memperkuat ketahanan pangan di tengah ancaman perubahan iklim dan fenomena El Nino yang kian terasa dampaknya.

Pertemuan tersebut digelar dalam Sidang ke-32 ASEAN Centre for the Development of Agricultural Cooperatives (ACEDAC) dan Sidang ke-27 ASEAN Sectoral Working Group on Agricultural Cooperatives (ASWGAC) pada Senin, 12 Oktober 2026. Wakil Menteri Koperasi Farida Farichah menyebut forum ini jadi ruang bagi negara-negara anggota ASEAN untuk saling memperkuat kolaborasi koperasi pertanian.

"Perubahan iklim di dunia dan ASEAN semakin tidak menentu, hari ini kita merasakan sangat panas sekali efek dari El Nino dan tentu akan sangat berpengaruh pada ketersediaan pangan kita," ujar Farida dalam keterangan tertulisnya.

Ia menegaskan bahwa pemerintah Indonesia mencanangkan komitmen swasembada pangan. Namun target itu tidak akan tercapai tanpa penguatan kelembagaan koperasi yang menjadi penggerak sektor riil, khususnya di bidang pertanian. Koperasi dinilai punya peran strategis karena mampu menghubungkan petani dengan berbagai kebutuhan penting, mulai dari pembiayaan, teknologi, sarana produksi, pengolahan, distribusi, hingga akses pasar.

Para pelaku koperasi dari berbagai negara ASEAN berkumpul untuk merumuskan langkah konkret. Tujuannya jelas: menjadikan koperasi sebagai garda terdepan dalam menjaga ketahanan pangan di masing-masing negara.

"Kami sesama penggerak koperasi di ASEAN berkumpul berfokus untuk bagaimana bisa swasembada pangan agar koperasi-koperasi yang ada di ASEAN menjadi leading sector, menjadi garda terdepan swasembada pangan di masing-masing negara," kata Farida.

Indonesia sendiri punya sejumlah contoh koperasi pertanian yang dinilai sukses dan bisa jadi percontohan di tingkat regional. Beberapa di antaranya adalah Koperasi Al-Ittifaq di Ciwidey, Bandung, koperasi Sukamakmur, serta sejumlah koperasi pengolahan susu di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat yang aktif di sektor peternakan dan pengolahan hasil pertanian.

Pengalaman dari koperasi-koperasi tersebut akan dibagikan kepada delegasi ASEAN. Ini menjadi bagian dari pertukaran praktik terbaik dalam pengelolaan koperasi di sektor pangan dan pertanian. Harapannya, langkah ini bisa mempercepat penguatan koperasi sebagai instrumen pembangunan ekonomi pedesaan sekaligus ketahanan pangan di kawasan.

"Kami berharap hal itu seiring dengan penguatan koperasi sebagai kelembagaannya sehingga koperasi bisa sangat berperan untuk mencapai swasembada pangan," pungkas Farida.

Beberapa koperasi yang disebut Farida sebagai contoh keberhasilan antara lain Koperasi Al-Ittifaq di Ciwidey, Bandung, koperasi Sukamakmur, serta sejumlah koperasi pengolahan susu yang tersebar di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Koperasi-koperasi ini aktif di sektor peternakan dan pengolahan hasil pertanian.

Pengalaman mereka akan dibagikan kepada delegasi ASEAN sebagai bagian dari pertukaran praktik terbaik dalam pengelolaan koperasi sektor pangan dan pertanian. Harapannya, langkah ini bisa mempercepat penguatan koperasi sebagai instrumen pembangunan ekonomi pedesaan sekaligus ketahanan pangan di kawasan.

"Kami berharap hal itu seiring dengan penguatan koperasi sebagai kelembagaannya sehingga koperasi bisa sangat berperan untuk mencapai swasembada pangan," pungkas Farida.

Kerja sama ini datang di saat yang krusial. El Nino yang melanda kawasan membuat sektor pertanian semakin rentan. Suhu panas ekstrem yang dirasakan belakangan ini bukan sekadar fenomena biasa — ia memengaruhi produksi pangan secara langsung. Dengan berbagi pengalaman dan praktik terbaik, negara-negara ASEAN berharap koperasi bisa menjadi instrumen yang andal dalam membangun ekonomi pedesaan sekaligus menjaga ketersediaan pangan di kawasan.

Beberapa koperasi Indonesia yang disebut Farida sebagai contoh keberhasilan antara lain Koperasi Al-Ittifaq di Ciwidey, Bandung, koperasi Sukamakmur, serta sejumlah koperasi pengolahan susu di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat yang aktif di sektor peternakan dan pengolahan hasil pertanian. Pengalaman mereka akan dibagikan kepada delegasi ASEAN sebagai bagian dari pertukaran praktik terbaik.

Harapannya, langkah ini bisa mempercepat penguatan koperasi sebagai instrumen pembangunan ekonomi pedesaan sekaligus ketahanan pangan kawasan. "Kami berharap hal itu seiring dengan penguatan koperasi sebagai kelembagaannya sehingga koperasi bisa sangat berperan untuk mencapai swasembada pangan," pungkas Farida.

Kerja sama semacam ini menunjukkan bahwa koperasi bukan sekadar lembaga ekonomi kecil di desa. Di tingkat ASEAN, koperasi pertanian dipandang sebagai salah satu kunci menghadapi krisis pangan yang dipicu perubahan iklim. Ketika negara-negara tetangga saling berbagi pengalaman dan praktik terbaik, upaya mencapai swasembada pangan jadi lebih realistis. Indonesia, dengan contoh koperasi seperti Al-Ittifaq di Ciwidey Bandung, Koperasi Sukamakmur, serta koperasi pengolahan susu di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, punya banyak pengalaman yang bisa dibagikan. Pertukaran praktik terbaik ini diharapkan mempercepat penguatan koperasi sebagai instrumen pembangunan ekonomi pedesaan sekaligus ketahanan pangan di kawasan.

"Kami berharap hal itu seiring dengan penguatan koperasi sebagai kelembagaannya sehingga koperasi bisa sangat berperan untuk mencapai swasembada pangan," pungkas Farida.

Kerja sama ini bukan sekadar forum tahunan biasa. Ia menjadi ajang berbagi pengalaman nyata dari lapangan. Koperasi Al-Ittifaq di Ciwidey, Bandung, koperasi Sukamakmur, serta sejumlah koperasi pengolahan susu di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat yang aktif di sektor peternakan disebut sebagai contoh keberhasilan yang akan dibagikan kepada delegasi ASEAN. Pertukaran praktik terbaik ini diharapkan mempercepat penguatan koperasi sebagai instrumen pembangunan ekonomi pedesaan sekaligus ketahanan pangan di kawasan.

Ke depan, keberhasilan koperasi-koperasi pertanian Indonesia bisa menjadi pijakan bagi negara lain di ASEAN untuk mengembangkan model serupa. Ketika koperasi kuat, petani tidak lagi bekerja sendiri-sendiri. Mereka punya kekuatan kolektif untuk menghadapi tantangan iklim dan fluktuasi pasar. Pertemuan di Yogyakarta ini menjadi titik tolak bagi negara-negara ASEAN untuk saling belajar dan berbagi pengalaman dalam mengelola koperasi sektor pangan.

koperasi pertanianketahanan panganswasembada panganperubahan iklimEl NinoASEANkerja sama regional

Komentar

Memuat komentar...